Salah satu orang tua, Miko saat menceritakan apa yang dialami anaknya.
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Rasa amarah dan kecewa para orang tua balita korban daycare Little Aresha di Kota Yogyakarta tak terbendung. Kasus daycare yang belum lama ini terbongkar tentu saja menyisakan luka mendalam bagi mereka.
Apalagi harapan menitipkan anak di tempat yang aman dan penuh perhatian justru berujung pada kekecewaan, trauma, dan kemarahan setelah mengetahui adanya dugaan perlakuan tak manusiawi terhadap anak-anak mereka. Pertemuan antara Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo dengan sejumlah orang tua korban di rumah dinasnya menjadi ruang pelampiasan. Selama lebih dari dua jam, para orang tua menceritakan hal-hal janggal yang selama ini turut menjadi tanda tanya terutama saat mereka melihat tanda-tanda awal yang sempat diabaikan dan kini menjadi fakta mengejutkan.
Salah satu orang tua korban, Noorman Windarto, mengaku tak pernah menyangka keputusan menitipkan anak justru menjadi awal petaka. Ia mempercayakan dua anaknya di daycare tersebut dalam periode berbeda. Anak pertamanya tidak menunjukkan tanda mencurigakan. Namun, pengalaman berbeda terjadi pada anak keduanya.
"Anak kedua saya selalu menangis saat diantar ke daycare. Hampir setiap pagi kalau mandiin itu menangis, itu tanda awal yang saya tidak ketahui. Senin sampai Jumat itu pasti menangis, tapi kalau Sabtu Minggu seperti hari ini itu natural tidak ada nangis atau ketakutan mandi ya mandi, itu dampak-dampak yang baru ngeh," kata dia saat dijumpai di rumah dinas Wali Kota Yogyakarta, Ahad (26/4/2026).
Tangisan yang awalnya dianggap hal biasa ternyata sinyal bahaya. Seiring waktu, Noorman mulai menemukan luka-luka di tubuh anaknya di punggung, bibir, hingga area sensitif yang tidak bisa dijelaskannya.
"Iya pasti ya (ditemukan luka), sudah dikonfirmasi apakah adik terjedot sesuatu, jawabannya ya diplomatif ‘Nanti saya tanyakan ke miss yang mengasuh’, Kalau punggung dan bibir itu saya konsen saya kadang mandiin tidak ada luka goresan. Sampai daycare langsung difoto adik luka dari rumah lho, kedua juga sama bibir sampai ngelopek,’," ujarnya.
Kecurigaan itu memuncak ketika ia melihat rekaman video dari pihak kepolisian. Dalam video itu, anak-anak tampak diikat, tidak memakai pakaian, atau hanya menggunakan popok.

2 hours ago
4

















































