Kesaksian Warga Pelintas Rutin Perlintasan Kereta Ampera dan Dukungan untuk Kebijakan Prabowo

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, Nanang Kurniawan (43 tahun), warga Babelan, Bekasi, hampir setiap hari melintasi perlintasan kereta atau perlintasan sebidang di Jalan Ampera, Bekasi. Perlintasan sebidang itu menjadi jalur penting bagi warga untuk melintasi jalur kereta dari Jalan Ir H Juanda, Bekasi, menuju kawasan Durenjaya dan sebaliknya.

“Saya rutin lewat sini setiap pagi karena mengantar istri kerja,” ujarnya.

Nanang tak menyangka peristiwa kecelakaan besar bakal terjadi pada Senin (27/4/2026) malam tak jauh dari persimpangan itu. Kereta rel listrik (KRL) Commuterline yang berhenti di Stasiun Bekasi Timur ditabrak oleh KA Argo Bromo Anggrek tujuan Surabaya. Hingga berita ini ditulis, korban jiwa akibat peristiwa tersebut mencapai 14 orang.

Perlintasan kereta Ampera diduga terkait dengan kecelakaan tersebut. Sebelum terjadi tabrakan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek, terjadi peristiwa taksi Green SM tertempel KRL yang menuju arah Jakarta. Saksi menyebutkan, taksi listrik itu mogok di tengah perlintasan kereta.

Nanang mengatakan, peristiwa kecelakaan di perlintasan itu tergolong jarang. Sebelum peristiwa Senin malam, dia mengingat kecelakaan terakhir terjadi sekitar dua tahun lalu. Kala itu, satu unit truk tertemper kereta akibat terhenti di tengah perlintasan.

Nanang yang sehari-hari menunggu istrinya bekerja di dekat perlintasan itu mengatakan, pos perlintasan sebidang Ampera merupakan inisiatif warga setempat. Tujuannya untuk mengatur lalu lintas kendaraan dan menginformasikan jika ada kereta yang akan lewat.

Berdasarkan pantauan Republika, palang perlintasan yang digunakan warga berupa sebilah bambu panjang. Jika ada kereta akan melintas, penjaga palang pintu akan memasang bambu tersebut untuk menghalangi kendaraan melintas. Sehari setelah kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, perlintasan sebidang itu sudah kembali ramai.

Ketika ditanya apakah khawatir dengan kondisi perlintasan tersebut, Nanang mengaku warga sekitar sudah terbiasa. Yang terpenting, ujar Nanang, jika petugas palang pintu sudah mengeluarkan larangan melintas, pengendara harus patuh.

“Memang ada saja sesekali yang bandel melintas walaupun perlintasan sudah ditutup,” kata Nanang.

Terkait rencana pemerintah untuk mempercepat pembangunan flyover di perlintasan sebidang, Nanang menyambut hal itu secara positif. Menurutnya, hal itu dapat membuat warga lebih aman saat melintasi rel kereta.

“Lebih bagus kalau bisa ada flyover. Mungkin lebih aman juga,” kata Nanang.

Senada dengan Nanang, Nurjanah (40), warga Jalan Ampera, juga mendukung pembangunan flyover di perlintasan tersebut.

“Ya, kalau pemerintah berencana seperti itu, kita sebagai warga mendukung,” ujarnya.

Nurjanah mengatakan, perlintasan sebidang itu sudah ada sejak ia masih kanak-kanak. Dia berharap kejadian kecelakaan tidak terulang lagi di kawasan tersebut.

“Termasuk juga mudah-mudahan tidak ada lagi kecelakaan kereta,” ungkap Nurjanah.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |