Kisah Malak Khader, Bocah Gaza yang Kehilangan Kaki Akibat Serangan Israel

5 hours ago 3

Anak perempuan Palestina Malak Khader (9) berpose di tempat penampungan sementara di sebelah timur Kota Gaza, Selasa (27/1/2026). Malak Khader kehilangan sebelah kakinya setelah tentara Israel menyerang sekolah penampungan tempat keluarganya tinggal di kamp pengungsi Jabalia, Gaza utara pada Mei 2025 silam. (FOTO : Rizek Abdeljawad/Xinhua)

Malak Khader (kiri) bermain dengan temannya di tempat penampungan sementara di sebelah timur Kota Gaza. Kaki sebelah kanan Malak terpaksa diamputasi sebagai upaya medis untuk menyelamatkan nyawanya. (FOTO : Rizek Abdeljawad/Xinhua)

Malak Khader melihat foto keluarganya yang syahid akibat serangan Israel di tempat penampungan sementara di sebelah timur Kota Gaza. Serangan militer Israel menewaskan semua anggota keluarga inti Malak. Malak menjadi satu-satunya korban yang selamat dari keluarganya. (FOTO : Rizek Abdeljawad/Xinhua)

Malak Khader duduk bersama neneknya di tempat penampungan sementara di sebelah timur Kota Gaza. Malak menjalani kehidupannya bersama neneknya di kamp pengungsi Gaza setelah seluruh keluarga intinya syahid akibat serangan Israel. Ia sering merasa cemas dan takut, mengalami kesulitan tidur, serta menunjukkan tanda-tanda stres pasca trauma. (FOTO : Rizek Abdeljawad/Xinhua)

Malak Khader (kanan) berjalan bersama teman-temannya di kamp pengungsian sebelah timur Kota Gaza, Selasa. Kehilangan keluarga serta kehidupan normalnya membuat Malak sulit beradaptasi, tetapi ia menemukan pelarian dalam seni menggambar, yang membantunya mengatasi sebagian rasa trauma. (FOTO : Rizek Abdeljawad/Xinhua)

inline

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Serangan militer Israel ke sekolah Fatima Bint Assad di Jabalia, utara Jalur Gaza, pada Mei 2025 silam, membawa penderitaan yang mendalam bagi Anak perempuan Palestina berusia 9 tahun, Malak Khader.

Serangan militer Israel menghancurkan sekolah dan menewaskan semua anggota keluarga inti Malak. Malak menjadi satu-satunya korban yang selamat dari keluarganya.

Namun, akibat serangan itu, Malak mengalami luka parah dan harus rela kehilangan salah satu kakinya diamputasi sebagai upaya medis untuk menyelamatkan nyawanya.

Kini Malak menjalani kehidupannya bersama neneknya di kamp pengungsi Gaza. Ia sering merasa cemas dan takut, mengalami kesulitan tidur, serta menunjukkan tanda-tanda stres pasca trauma.

Kehilangan keluarga serta kehidupan normalnya membuat Malak sulit beradaptasi, tetapi ia menemukan pelarian dalam seni menggambar, yang membantunya mengatasi sebagian rasa trauma.

sumber : XinHua

Read Entire Article
Food |