REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Memanasnya konflik di Timur Tengah kembali mengangkat nilai strategis proyek pipa gas Power of Siberia 2 yang menghubungkan Rusia dan China. Ketidakpastian pasokan energi global akibat meningkatnya risiko di jalur pelayaran, termasuk kawasan sekitar Selat Hormuz, membuat jalur pipa darat kembali dipandang sebagai alternatif yang lebih aman untuk menjamin keamanan energi jangka panjang.
Di tengah situasi tersebut, Rusia terus mendorong percepatan pembangunan Power of Siberia 2 yang dirancang mengalirkan lebih dari 50 miliar meter kubik (bcm) gas alam setiap tahun dari ladang gas di Siberia Barat menuju China. Potensinya sekitar 20 miliar Dolar AS atau sekitar Rp326 triliun.
Proyek yang telah dinegosiasikan selama lebih dari dua dekade itu dinilai berpotensi mengubah peta perdagangan energi dunia sekaligus memperkuat hubungan strategis Moskow dan Beijing.
Bagi Rusia, proyek tersebut menjadi jalur penting untuk mengalihkan ekspor gas yang sebelumnya banyak bergantung pada pasar Eropa. Sementara bagi China, pasokan energi melalui jalur darat dipandang sebagai salah satu cara untuk mengurangi risiko terhadap gangguan distribusi energi yang bergantung pada jalur laut.
Optimisme Rusia terhadap proyek ini kembali menguat setelah pertemuan Presiden Vladimir Putin dan Presiden Xi Jinping di Beijing pada 20 Mei 2026. Seusai pertemuan itu, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Presiden Putin menilai Rusia dan China pada dasarnya telah memiliki pemahaman bersama mengenai parameter utama proyek Power of Siberia 2, meski sejumlah rincian teknis dan komersial masih harus diselesaikan, sebagaimana dilaporkan sejumlah kantor berita Barat.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama energi kedua negara. "Rusia dan China memiliki kemampuan untuk melepaskan diri dari petualangan-petualangan agresif semacam itu yang merusak ekonomi global dan sektor energi," kata Lavrov
Pernyataan Lavrov tersebut dikutip The Moscow Times dalam laporan mengenai kerja sama energi Rusia-China, termasuk pembahasan proyek Power of Siberia 2. Namun, Lavrov tidak secara khusus menyebut nama proyek tersebut dalam kutipannya.
Meski hubungan politik kedua negara terus menghangat, sikap Rusia dan China terhadap proyek tersebut belum sepenuhnya sejalan. Moskow terus mendorong realisasi pembangunan, sedangkan Beijing masih berhitung secara komersial sebelum memberikan persetujuan akhir.
Analis dari Tony Blair Institute for Global Change, Daniel Sleat, mengatakan hambatan utama proyek tersebut hingga kini belum berhasil diatasi.
"Perbedaan mendasar mengenai harga, pembiayaan, dan ketentuan kontrak tampaknya masih belum berhasil diselesaikan."
Sebagaimana dikutip Reuters, Sleat menilai belum tercapainya kesepakatan mengenai harga gas, skema pembiayaan, dan ketentuan kontrak menjadi faktor utama yang membuat pembangunan Power of Siberia 2 terus tertunda.

5 hours ago
2
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522741/original/006886600_1772775055-8591.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509281/original/071189200_1771674324-pexels-cottonbro-5712686.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524652/original/016596800_1772963486-Foto_1.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518113/original/047179400_1772464159-WhatsApp_Image_2026-03-02_at_18.43.33.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5532552/original/024344100_1773655185-pexels-undo-kim-2153633398-34628051.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527962/original/042466100_1773221151-pexels-pixabay-248509.jpg)
