Menopause (ilustrasi). Para ahli kesehatan mengingatkan maraknya misinformasi tentang perimenopause di media sosial dapat membahayakan perempuan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para ahli kesehatan mengingatkan maraknya misinformasi tentang perimenopause di media sosial dapat membahayakan perempuan. Pasalnya informasi keliru bisa memicu risiko kehamilan yang tidak direncanakan, penggunaan obat yang tidak perlu, hingga keterlambatan diagnosis.
Konsultan kesehatan seksual dan reproduksi, dr Paula Briggs, mengatakan saat ini banyak perempuan yang salah mengira dirinya sudah memasuki menopause sehingga melakukan terapi hormon pengganti (HRT), padahal sebetulnya masih dalam masa subur. HRT sendiri merupakan prosedur media untuk menyeimbangkan hormon dalam tubuh.
"Saya pernah bertemu pasien perempuan yang usianya 35 tahun lebih. Dia terkejut mengetahui dirinya hamil karena mengira sudah tidak mungkin lagi hamil," kata dr Briggs seperti dikutip dari The Guardian, Senin (25/5/2026).
Menurut British Menopause Society (BMS), lebih dari 80 persen wanita akan mengalami menopause pada usia 54 tahun, namun sekitar 5 persen wanita mencapai menopause sebelum usia 45 tahun. Secara medis, wanita dinyatakan telah menopause jika tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut.
Namun, menopause bukanlah proses yang mendadak. Sebelum menopause, perempuan mengalami fase transisi yang disebut perimenopause, yang dapat berlangsung selama beberapa bulan hingga beberapa tahun. Pada fase ini terjadi fluktuasi hormon yang dapat memicu gejala seperti perubahan siklus menstruasi, hot flushes, dan gangguan tidur.
Briggs mengatakan informasi yang salah seputar perimenopause sangat mengkhawatirkan. la menyoroti di media sosial banyak yang menyarankan perempuan usia 30-an untuk melakukan HRT jika mengalami insomnia atau migrain, bahkan disarankan mengganti dokter jika permintaan ditolak.
"Saya tidak menentang hal itu, asalkan memang diberikan kepada orang yang tepat. Namun perempuan secara alami memproduksi testosteron sepanjang hidupnya, bahkan perempuan tanpa ovarium, jadi gagasan bahwa semua orang harus menuntut testosteron itu tidak masuk akal," kata Briggs.

3 hours ago
5















































