Tinjauan Ekonomi Syariah Terhadap Dampak Syariat Qurban Bagi Geliat Perekonomian Nasional

3 hours ago 5

Oleh Eko Saputra, Presiden Direktur Garamatan Foundation

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah ancaman krisis pangan global, meningkatnya ketimpangan ekonomi, dan lemahnya daya beli masyarakat bawah, Indonesia sesungguhnya memiliki satu instrumen ekonomi sosial yang sering dipandang hanya sebagai ritual tahunan, instrumen yang dimaksud yaitu qurban.

Padahal, dalam perspektif Ekonomi Syariah, qurban bukan sekadar penyembelihan hewan pada Hari Raya Idul Adha. Ia adalah mekanisme redistribusi ekonomi, penguatan ketahanan pangan, sekaligus penggerak ekonomi rakyat yang dampaknya sangat nyata terhadap perekonomian nasional.

Data resmi Badan Amil Zakat Nasional melalui Puskas Baznas menunjukkan bahwa potensi ekonomi qurban nasional tahun 2024 mencapai Rp34,3 triliun. Angka ini berasal dari sekitar 2,75 juta rumah tangga pekurban dengan estimasi 2,3 juta hewan qurban yang terdiri dari 1,79 juta kambing/domba dan 514 ribu sapi. Produksi daging qurban diperkirakan mencapai sekitar 195,5 ribu ton.

Angka Rp34,3 triliun bukan angka kecil. Nilai tersebut lebih besar dari APBD banyak provinsi di Indonesia, mendekati nilai ekonomi beberapa subsektor industri nasional, bahkan menjadi salah satu perputaran ekonomi musiman terbesar dalam ekosistem ekonomi syariah Indonesia.

Bahkan lembaga riset Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memperkirakan potensi ekonomi qurban tetap berada pada kisaran Rp28,2 triliun. Artinya, terdapat konsensus kuat bahwa qurban merupakan kekuatan ekonomi rakyat yang sangat besar.

Yang menarik, dampak ekonomi qurban justru paling terasa di lapisan bawah masyarakat. Dalam praktiknya, qurban menciptakan aliran uang dari kota menuju desa. Jutaan masyarakat perkotaan membeli hewan dari peternak daerah, sehingga uang tidak hanya berputar di pusat ekonomi, tetapi mengalir langsung ke akar rumput.

Bagi peternak kecil, Idul Adha adalah musim “panen ekonomi” tahunan. Banyak peternak memelihara sapi atau kambing selama berbulan-bulan bahkan tahunan khusus untuk momentum qurban. Artinya, qurban menjadi sumber likuiditas penting bagi ekonomi desa.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan populasi ternak nasional tersebar besar di wilayah sentra peternakan seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Aktivitas qurban secara langsung meningkatkan permintaan ternak nasional dan menghidupkan perdagangan antardaerah.

Efek ekonominya tidak berhenti pada peternak. Qurban menciptakan multiplier effect yang luas antara lain: transportasi hewan meningkat, pedagang pakan ternak memperoleh keuntungan, jasa jagal terserap, UMKM olahan makanan bergerak, industri kulit memperoleh bahan baku, hingga distribusi logistik ikut berkembang.

Dalam teori ekonomi pembangunan, aktivitas seperti ini menciptakan efek domino ekonomi yang sangat kuat karena melibatkan sektor informal dan ekonomi rakyat secara langsung.

Yang lebih penting, qurban memiliki hubungan erat dengan isu ketahanan pangan nasional. Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait gizi dan stunting. Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi stunting nasional masih berada pada angka 21,5 persen, jauh dari target nasional sebesar 14 persen.

Dalam konteks ini, distribusi hampir 195,5 ribu ton daging qurban menjadi sangat strategis. Momentum Idul Adha memungkinkan jutaan keluarga miskin memperoleh akses protein hewani yang selama ini sulit mereka jangkau karena keterbatasan ekonomi.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |