Mengapa Perusahaan Semakin Sulit Menemukan Pemimpin Berkualitas?

5 hours ago 5

Image Bagus Hendrayono

Kolom | 2026-07-21 15:03:39

Oleh: Bagus Hendrayono

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus bergerak dinamis, satu tantangan yang semakin sering dihadapi dunia usaha bukan lagi sekadar mendapatkan karyawan, melainkan menemukan pemimpin yang mampu membawa organisasi bertahan dan berkembang.

Fenomena ini tidak hanya dialami oleh perusahaan multinasional. Perusahaan keluarga, perusahaan nasional, hingga startup yang sedang memasuki fase pertumbuhan pun menghadapi persoalan serupa. Lowongan dapat dipublikasikan dalam hitungan menit, tetapi menemukan sosok yang tepat untuk memimpin organisasi sering kali membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Padahal, Indonesia memiliki pasar tenaga kerja yang sangat besar. Publikasi Indikator Pasar Tenaga Kerja Indonesia Februari 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa dinamika ketenagakerjaan nasional terus dipantau melalui Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), yang menjadi acuan utama dalam melihat perubahan kondisi pasar tenaga kerja di Indonesia. Perubahan tersebut tidak hanya menyangkut jumlah tenaga kerja, tetapi juga kualitas pekerjaan, produktivitas, dan karakteristik angkatan kerja.

Persoalannya, bertambahnya jumlah tenaga kerja tidak serta-merta membuat perusahaan lebih mudah menemukan pemimpin yang tepat.

Ketika Cara Lama Tidak Lagi Efektif

Selama bertahun-tahun, banyak perusahaan mengandalkan pola yang sama dalam proses perekrutan: memasang iklan lowongan, menunggu lamaran masuk, melakukan wawancara, kemudian memilih kandidat terbaik.

Pendekatan tersebut masih relevan untuk banyak posisi operasional maupun administratif. Namun, ketika perusahaan membutuhkan General Manager, Direktur, Chief Financial Officer (CFO), Chief Human Resources Officer (CHRO), atau bahkan Chief Executive Officer (CEO), pola tersebut semakin sering menemui keterbatasan.

Alasannya sederhana. Sebagian besar profesional terbaik tidak sedang aktif mencari pekerjaan. Mereka telah memiliki karier yang stabil, kompensasi yang kompetitif, dan kepercayaan dari organisasi tempat mereka bekerja. Mereka tidak membuka portal lowongan setiap hari, tetapi bukan berarti mereka tidak terbuka terhadap peluang yang benar-benar menarik.

Kelompok profesional seperti ini dikenal sebagai passive candidates. Justru merekalah yang sering kali menjadi target utama perusahaan ketika membutuhkan pemimpin yang mampu membawa perubahan.

Tantangan Kepemimpinan Semakin Kompleks

Perubahan dunia usaha membuat definisi seorang pemimpin juga berubah.

Jika dahulu pengalaman teknis menjadi pertimbangan utama, kini organisasi membutuhkan sosok yang mampu memimpin transformasi, mengelola perubahan, membangun kolaborasi lintas fungsi, memanfaatkan teknologi, sekaligus menjaga budaya perusahaan.

Artinya, proses perekrutan tidak lagi cukup hanya mencocokkan isi curriculum vitae dengan deskripsi pekerjaan.

Dalam konteks inilah kualitas pekerjaan menjadi semakin penting. BPS melalui publikasi Indikator Pekerjaan Layak di Indonesia 2025, yang mengacu pada kerangka kerja International Labour Organization (ILO), menunjukkan bahwa kualitas pekerjaan merupakan salah satu indikator penting dalam menggambarkan kondisi ketenagakerjaan nasional. Semakin baik kualitas pekerjaan yang ditawarkan suatu organisasi, semakin besar pula peluangnya untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik.

Dengan kata lain, perusahaan kini tidak hanya bersaing menawarkan gaji, tetapi juga menawarkan kesempatan berkembang, budaya kerja yang sehat, fleksibilitas, dan kepemimpinan yang dipercaya.

Persaingan Talenta Tidak Lagi Bersifat Lokal

Perkembangan teknologi membuat batas geografis semakin kabur.

Profesional Indonesia kini dapat bekerja untuk perusahaan nasional, perusahaan regional, bahkan organisasi global tanpa harus berpindah negara. Sebaliknya, perusahaan di Indonesia juga bersaing dengan perusahaan luar negeri dalam mendapatkan talenta terbaik.

Kondisi tersebut membuat perekrutan menjadi semakin kompetitif. Kandidat terbaik sering kali memiliki lebih dari satu pilihan. Mereka tidak hanya mempertimbangkan besaran kompensasi, tetapi juga reputasi perusahaan, peluang pengembangan karier, kualitas kepemimpinan, stabilitas bisnis, serta makna pekerjaan yang akan dijalankan.

Dalam situasi seperti ini, pengalaman kandidat selama proses rekrutmen menjadi bagian dari citra perusahaan itu sendiri.

Biaya Salah Memilih Pemimpin

Kesalahan dalam merekrut pemimpin bukan hanya berdampak pada biaya rekrutmen.

Keputusan yang kurang tepat dapat memengaruhi produktivitas organisasi, memperlambat eksekusi strategi, meningkatkan tingkat pergantian karyawan, bahkan memengaruhi kepercayaan pelanggan dan investor.

Karena itu, perekrutan pada level manajemen seharusnya dipandang sebagai keputusan strategis yang memiliki implikasi jangka panjang terhadap keberlanjutan perusahaan.

Saatnya Mengubah Cara Pandang

Perusahaan perlu mulai melihat proses perekrutan sebagai investasi, bukan sekadar aktivitas administratif.

Organisasi yang berhasil mendapatkan pemimpin berkualitas umumnya tidak hanya menunggu pelamar datang. Mereka secara aktif membangun jaringan profesional, memetakan talenta di industrinya, menjaga hubungan dengan kandidat potensial, serta memahami perubahan ekspektasi tenaga kerja.

Pendekatan seperti ini memungkinkan perusahaan menjangkau profesional yang mungkin tidak pernah mengirimkan lamaran, tetapi memiliki kompetensi yang dibutuhkan ketika kesempatan yang tepat muncul.

Kepemimpinan Adalah Keunggulan Kompetitif

Pada akhirnya, teknologi dapat dibeli, modal dapat dicari, dan strategi bisnis dapat disusun.

Namun, kualitas kepemimpinan tetap menjadi faktor yang paling sulit ditiru oleh kompetitor.

Perusahaan yang memiliki kemampuan menemukan, menarik, dan mempertahankan pemimpin berkualitas akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi perubahan ekonomi, perkembangan teknologi, maupun dinamika pasar di masa depan.

Di era ketika perubahan berlangsung semakin cepat, kemampuan menemukan pemimpin yang tepat bukan lagi sekadar fungsi sumber daya manusia. Ia telah menjadi bagian dari strategi bisnis yang menentukan daya saing perusahaan.

Tentang Penulis

Bagus Hendrayono adalah praktisi di bidang Executive Search, Recruitment Consulting, dan Human Capital yang aktif membantu perusahaan menemukan talenta pada level manajerial hingga eksekutif. Artikel lainnya dapat dibaca melalui www.talenthunts.id.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Food |