Asap dan kobaran api terlihat di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Ahad (9/8/2026) dini hari. Kebakaran hutan dan lahan tersebut meluas hingga diperkirakan mencapai 176 hektare akibat hembusan angin dan masih menyisakan sejumlah titik api, sementara petugas terus melakukan penanganan untuk mencegah api meluas ke kawasan lainnya.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyatakan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Bromo dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, hingga kini belum bisa dilaksanakan. Hal itu karena ketersediaan awan konvektif yang menjadi syarat operasi modifikasi cuaca belum terbentuk di wilayah Bromo.
OMC merupakan intervensi untuk meningkatkan potensi hujan dengan cara menyemai garam atau Natrium Klorida (NaCl) ke gumpalan awan menggunakan pesawat khusus berbasis data ilmiah. OMC melibatkan tim ahli dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan TNI Angkatan Udara.
"Sebenarnya kita sudah berpikir untuk melakukan modifikasi cuaca, tetapi menurut BMKG paling tidak sampai 10 hari ke depan belum mungkin dilakukan karena awan konveksinya belum terbentuk untuk membuat OMC," kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko di Taman Wisata Alam Angke, Jakarta, Senin (10/8/2026).
Dia menjelaskan bahwa kebakaran yang melanda kawasan TNBTS tersebut sudah berlangsung beberapa hari, setidaknya sejak Selasa (4/8/2026) dan sampai saat ini titik api belum sepenuhnya padam.
Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) selaku UPT Ditjen BKSDAE Kementerian Kehutanan di Jawa Timur mencatat luas area terdampak kebakaran di kawasan Gunung Bromo kini mencapai 520 hektare dan masih dalam proses pendataan.
Menurut dia, sebagaimana hasil pantauan lapangan terakhir diketahui sulitnya akses jalur darat untuk menjangkau titik-titik kebakaran membuat strategi penanggulangan difokuskan melalui kombinasi penanganan pasukan darat dan pemadaman udara atau water bombing.
"Pendekatannya kita kombinasi antara pasukan darat dan water bombing. Kemarin saja sudah ada 30 kali pengeboman air. Namun medan yang sulit, angin kencang, dan kelembapan udara yang sangat rendah membuat upaya pemadaman tidak mudah," ujar dia.
sumber : Antara

2 hours ago
3



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5536549/original/029350900_1774329970-pexels-elletakesphotos-5764077.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5559034/original/060735700_1776504757-pexels-loquellano-16123121.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533152/original/011571400_1773724986-view-delicious-goulash-with-herbs.jpg)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5553455/original/015319200_1775973861-WhatsApp_Image_2026-04-12_at_12.56.06.jpeg)