Peserta dari masyarakat sipil Peduli Palestinamenginjak bendera Israel saat menggelar aksi Solidaritas untuk Palestina di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Ahad (14/6/2026). Dalam aksinya, massa mengecam tindakan zionis Israel atas genosida yang terjadi di Palestina, menuntut pemerintah di seluruh dunia untuk menangkap pelaku kejahatan genosida. Selain itu mereka mendesak otoritas internasional untuk segera membebaskan peserta land convoy Global Sumud Flotilla dalam misi kemanusiaan menembus blokade Gaza yang hingga saat ini masih ditawan oleh kelompok milisi bersenjata di Libya Timur serta mengajak masyarakat untuk peduli terhadap hak-hak kemerdekaan Palestina.
REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN— Menanam pohon apel di tengah Gurun Rub' al-Khali tidak akan membuatnya tumbuh dan berbuah.
Demikian pula menanam pohon kurma di puncak-puncak Pegunungan Lebanon tidak akan membuat kita dapat memanen buah kurma darinya.
Apa yang berlaku pada hukum-hukum kehidupan juga berlaku pada lahir dan tumbuhnya sebuah negara.
Negara-negara dapat mati sebagaimana tumbuh-tumbuhan mati ketika ditanam di lingkungan yang tidak sesuai.
Jika sebuah benih asing ditanam di lingkungan yang bukan habitatnya, ia tidak akan mampu bertahan lama.
Agar kita tidak berhenti pada perbandingan semata, mari kita ingat kembali kerajaan-kerajaan Eropa yang pernah didirikan di negeri kita pada Abad Pertengahan, pada masa Perang Salib. Saat itu berdiri Kerajaan Yerusalem, kerajaan-kerajaan di Karak dan Tripoli, serta kekuasaan penuh atas pesisir Suriah dari Gaza hingga Iskenderun.
Kerajaan-kerajaan tersebut memang mampu bertahan selama puluhan tahun, tetapi setelah itu tidak ada lagi jejaknya. Mereka pergi setelah layu dan mati, persis seperti tanaman yang ditanam di lingkungan yang tidak sesuai. Hal yang sama, menurut pandangan ini, berlaku bagi "Israel".
Benih "Israel" adalah benih buatan yang diciptakan di laboratorium "rasialis" di Eropa, dengan gen-gen yang sepenuhnya Barat. Benih itu kemudian dibawa dan ditanam di Palestina.
Kini, sebagaimana kerajaan-kerajaan kecil pada Abad Pertengahan tadi, ia telah tumbuh, menguat, dan menjadi entitas yang hadir dalam peta demografis dan politik.
Namun, ia tidak akan mampu bertahan; lingkungan itu sendiri akan menolaknya karena benih tersebut, menurut argumen ini, tidak sesuai dengan tanah tempat ia ditanam.

3 hours ago
9
















































