Menjaga Asa Ekonomi Kreatif dari Senja Ramadhan

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Senja di bulan Ramadhan selalu punya cara sendiri untuk memanggil orang keluar rumah. Langit yang perlahan menguning, aroma gorengan yang menari di udara, dan langkah-langkah yang dipercepat menuju waktu berbuka. Di kota-kota yang tumbuh bersama denyut ekonomi rakyat, momen itu tak sekadar soal menunggu adzan, ia juga menjadi ruang perjumpaan: antara tradisi, kreativitas, dan harapan akan penghidupan yang lebih baik.

Di Semarang, suasana itu akan menemukan panggungnya pada 9 Maret 2026. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) setempat berencana menggelar “Ngabuburit Kreatif dan Pasar Takjil” di Wisma Perdamaian. Sekitar 60 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari berbagai daerah di Jawa Tengah akan ambil bagian, menghadirkan aneka kuliner sekaligus produk ekonomi kreatif.

Ketua Gekrafs Jawa Tengah, Berty Diah Rahmana, menyebut kegiatan ini sebagai ruang pertemuan antara pelaku usaha dan masyarakat yang tengah menikmati suasana Ramadhan. Pasar takjil itu akan dibuka sejak pukul 15.00 hingga menjelang waktu berbuka sekitar pukul 18.30 WIB. Di sela-sela hiruk-pikuk pembeli dan penjual, para konten kreator juga akan turut meramaikan acara, menjadikannya bukan sekadar pasar musiman, melainkan perayaan kreativitas.

Kegiatan tersebut digelar melalui kolaborasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemprov Jawa Tengah. Bahkan, pasar takjil ini juga akan disandingkan dengan program dokter spesialis keliling (Speling), yang menghadirkan layanan kesehatan bagi masyarakat.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai langkah-langkah semacam ini perlu diperluas hingga ke seluruh kabupaten dan kota. Menurutnya, penguatan sektor ekonomi kreatif tidak boleh berhenti pada kegiatan sesaat. Ia harus dirancang sebagai gerakan yang berkelanjutan, sebuah ekosistem yang memberi ruang bagi masyarakat untuk tumbuh bersama kreativitasnya.

Potensi itu bukan sekadar angan. Data Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat, ekspor sektor ekonomi kreatif dari Jawa Tengah mencapai sekitar Rp53 triliun pada semester pertama 2025. Angka tersebut menempatkan provinsi ini sebagai penyumbang ekspor ekonomi kreatif terbesar kedua secara nasional.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah, Hanung Triyono, menambahkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan simpul yang saling terhubung, pemerintah, komunitas, asosiasi, hingga para pelaku usaha.

Dalam dunia pariwisata, kata Hanung, unsur budaya, kreativitas, dan kegiatan ekonomi rakyat sebenarnya selalu berjalan beriringan. Setiap daerah di Jawa Tengah memiliki keunikan yang berbeda. Karena itu, pengembangan ekonomi kreatif diharapkan mampu menonjolkan ciri khas lokal sehingga memberi nilai tambah bagi daerah masing-masing.

Jika Semarang menyalakan api kreativitas lewat ruang-ruang pertemuan seperti pasar takjil Ramadhan, di Tangerang Selatan upaya serupa bergerak melalui penguatan ekosistem usaha. Kota yang relatif muda di Provinsi Banten ini tumbuh cepat sebagai pusat kuliner, fesyen, dan kriya, dengan ribuan pelaku UMKM yang terus mencari ruang berkembang.

Dalam kunjungan reses di Pemerintah Kota Tangerang Selatan, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Rahayu Saraswati Djojohadikusumo mengusulkan pembentukan layanan terpadu satu pintu, one stop shop, bagi pelaku usaha. Gagasan ini dimaksudkan untuk memudahkan UMKM mengurus berbagai dokumen perizinan secara cepat, tepat, dan transparan.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |