Mereka Tak Melihat Dunia, Namun Negara Melihat Mereka

1 hour ago 1
 DJONI SATRIA)Primasari, Agen Perisai yang mengikutkan penyandang tunanetra di Depok, masuk dalam jaminan perlindungan sosial BPJS Ketenagakerjaan. (Foto: DJONI SATRIA)

RUZKA-REPUBLIKA NETWORK -- Pagi itu, langit Depok masih terbungkus ketenangan ketika Primasari (43) usai mengantar anaknya sekolah, duduk di ruang tamu rumahnya di Jalan Kebembem Raya, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, Jawa Barat.

Tumpukan berkas data peserta BPJS Ketenagakerjaan ia rapikan satu per satu. Ada pekerjaan penting yang ingin ia tuntaskan sebelum berangkat ke kantor Wadah Perisai Andalan Sukses Semesta, tempatnya bertugas sebagai Agen Perisai (Penggerak Jaminan Sosial Indonesia) di Depok.

Di tengah keheningan itu, tiba-tiba suara gerobak berdecit pelan terdengar dari depan rumah. Prima menoleh.

Seorang lelaki tua tunanetra mendorong gerobak kerupuk, sementara seorang pemuda kurus berjalan di sisinya, memegangi salah satu sudut gerobak agar tidak oleng.

Ada sesuatu dalam pemandangan itu yang membuat Prima berdiri—naluri, empati, dan kesadaran bahwa masih banyak pekerja rentan di negeri ini yang berjalan sendirian di tengah hidup yang keras.

“Pak beli kerupuknya ya!” panggil Prima dari teras.

Gerobak berhenti. Pemuda itu menoleh. Lelaki tunanetra juga memiringkan kepalanya mengikuti arah sumber suara.

“Iya, Bu ,” jawab lelaki tunanetra itu pelan.

Pertemuan yang Mengubah Banyak Hidup

Setelah membeli beberapa bungkus plastik kerupuk, Prima merasa ada tali halus yang membuatnya tidak ingin melepas mereka begitu saja.

“Pak, masuk dulu sebentar,” pinta Prima. “Saya bikinkan teh ya. Kita ngobrol sebentar.”

Awalnya, kedua lelaki berbeda usia itu ragu untuk melangkah masuk, seolah tak ingin merepotkan perempuan paruh baya yang baru saja membeli dagangannya.

Namun akhirnya, mereka masuk.

“Nggak usah dilepas, Pak, sandalnya pakai saja,” sahut Prima.

Dua gelas teh hangat diletakkannya di atas meja kayu.

“Nama Bapak siapa?” tanya Prima.

“Saya Apriansyah (52), Bu. Ini anak saya, Rafa Ade Syaputra (18). Panggil saja Ade.”

 DJONI SATRIA)Semua formulir pendaftaran peserta BPU ini ditulis tangan oleh Ade—untuk bapak, ibunya, dan para tunanetra lain agar akhirnya terlihat oleh negara. (Foto: DJONI SATRIA)

Ade tersenyum sopan. Ia lahir normal—bisa melihat—dan sejak kecil menjadi mata kedua bagi ayah dan ibunya yang tunanetra. Di usianya yang baru 18 tahun, ia sudah memikul beban yang terlalu besar untuk seorang anak muda.

Prima menatapnya lembut sebelum bertanya, “Kerja sehari-hari apa, De?”

Ade menjawab sambil menunduk. “Saya kuli bangunan, Bu. Tapi proyek rumah baru selesai, masih menunggu kabar dari teman jika ada yang butuh tenaga lagi.”

Jika sedang tidak bekerja, Ade selalu menemani bapaknya.

“Sekarang saya bantu Bapak keliling menjajakan kerupuk di kampung-kampung di Depok. Ibu saya pun tunanetra, berjualan kerupuk di Kelapa Dua, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. Sore hari biasanya Bapak yang menjemput.”

Prima tertegun. Ia tahu ia sedang berhadapan dengan sebuah keluarga pekerja rentan yang hidup dari hari ke hari.

“Pak Apri, Bapak tahu BPJS Ketenagakerjaan?”

“Maaf, Bu saya nggak tahu. Itu apa ya?”

Prima menarik sedikit kursinya, berusaha duduk lebih dekat dengan Apriansyah. Suaranya lembut dan perlahan.

“Pak, saya Primasari. Saya Agen Perisai BPJS Ketenagakerjaan. Tugas saya melindungi pekerja rentan seperti Bapak. Kalau Bapak kecelakaan saat bekerja, seluruh biaya ditanggung negara. Kalau sampai meninggal karena kerja, keluarga dapat santunan.”

Infografik Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok, Profil Kemiskinan di Kota Depok Maret 2025.Infografik Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Depok, Profil Kemiskinan di Kota Depok Maret 2025.

Ia menjelaskan lebih jauh.

“Pekerja rentan adalah pekerja informal yang tidak memiliki hubungan kerja tetap—pedagang kaki lima, nelayan, buruh tani, pengamen, petani, ojek pangkalan, ojek online, marbot masjid, guru ngaji, buruh harian lepas, dan pelaku UMKM skala kecil.”

“Mereka rentan karena penghasilan tidak pasti dan risiko kerja tinggi. Kalau sakit, kecelakaan, atau kehilangan pendapatan, mereka tanpa perlindungan. BPJS Ketenagakerjaan hadir untuk itu.”

Prima menjelaskan dengan bahasa paling sederhana agar mudah dipahami oleh kedua lelaki itu. Apriansyah terdiam lama. Tangannya meraba gelas teh, seolah mencari pegangan untuk memahami sesuatu yang besar.

“Bu saya cuma pedagang kerupuk keliling. Pendapatan saya tak menentu. Kalau saya kenapa-kenapa anak saya Ade sendirian. Negara bantu begitu, Bu?”

Prima mengangguk.

“Iya, Pak. Program ini dari negara. Dan negara ingin melindungi pedagang kerupuk seperti Bapak.”

Apriansyah menelan air liurnya.

“Bu hidup saya gelap. Tapi penjelasan Ibu barusan seperti membuka jalan yang selama ini saya nggak tahu ada.”

Prima tersenyum sambil menahan haru.

Sebelum mereka berpamitan, Prima menyerahkan beberapa lembar formulir pendaftaran peserta bukan penerima upah (BPU) BPJS Ketenagakerjaan kepada Ade.

“Ade, bantu isi ya, buat Bapak dan Ibu, juga tentu buat Ade. Dan kalau ada teman-teman Bapak yang juga tunanetra, sekalian ajak. Mereka juga harus terlindungi.”

Ade mengangguk pelan.

Novarina Azli, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Depok. (Dok. BPJS Ketenagakerjaan Depok)Novarina Azli, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Depok. (Dok. BPJS Ketenagakerjaan Depok)

Pertemuan Kedua — Hanya Ayah, Anak, dan Prima

Beberapa hari kemudian, Apriansyah dan Ade datang lagi. Kali ini mereka sepakat bertemu di Pasar Mini, Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok.

Pada momen itu, istri Apriansyah, Sudarti (52), tidak hadir karena berjualan kerupuk di bawah batang pohon rindang di kawasan Kelapa Dua, Kota Depok.

Sambil menunggu Apriansyah dan Ade tiba, Prima teringat cerita tentang Sudarti—istri Apriansyah—yang juga tunanetra dan setiap hari berjualan kerupuk di Kelapa Dua. Kehidupan perempuan itu tidak pernah mudah.

Tidak ada kios, tidak ada lapak permanen—hanya sebuah meja kecil dari kayu bekas tempat ia menata kerupuk dagangannya. Dengan mengandalkan pendengaran dan perabaan, Sudarti menata dagangan itu perlahan, sembari berharap dari hiruk pikuk lalu lintas ada satu-dua orang yang singgah membeli.

Jika Apriansyah pulang tanpa hasil, pendapatan kecil dari jualan pinggir jalan itulah yang menjadi penyambung hidup keluarga. Saat terik matahari menyengat, Sudarti merasakan hangatnya dari kulit dan udara yang kian kering, sementara hijabnya menjadi satu-satunya pelindung dari sengatan panasnya cuaca. Jika hujan tiba-tiba turun, ia mengenali rintiknya dari suara dan aroma tanah basah, lalu menepi untuk berteduh di emperan toko terdekat sebelum kembali ke tempatnya semula.

Namun bagi Sudarti, semua itu bukan keluhan. Ia sudah terbiasa dengan ritme hidup yang serba tak pasti. Yang penting, setiap hari ada ikhtiar yang bisa ia lakukan untuk menjaga dapur tetap mengepul.

“Kalau diam di rumah, siapa yang mau bantu?” begitu kira-kira prinsip yang ia pegang.

Lapak sederhana di bawah pohon itu mungkin tampak sepele bagi orang lain, tetapi bagi pasangan tunanetra ini, di sanalah harapan digantungkan. Rezeki memang tidak selalu datang—kadang habis, kadang nyaris tak ada yang beli—namun Sudarti tetap berdiri di dekat batang pohon besar itu, menunggu dengan sabar.

Ia mengenali ramainya lalu lintas dari deru kendaraan, langkah kaki, dan angin yang berhembus ketika motor atau mobil melintas. Dalam setiap suara yang datang dan pergi, ia percaya bahwa suatu waktu akan ada yang berhenti.

Di tengah kesederhanaan hidupnya, Sudarti terus menjaga keteguhan itu. Dan ketika Apriansyah pulang membawa kabar baik tentang pekerjaannya, atau bahkan saat ia pulang tanpa hasil sekalipun, Sudarti tahu: perjuangan mereka tidak pernah sia-sia. Ia dan suaminya yakin Tuhan akan memberi rezeki kepadanya.

Ahmad Jafar Sidik (paling kanan), Ketua Wadah Perisai berpose bersama Agen Perisai Depok. (Dok. Ahmad Jafar Sidik)Ahmad Jafar Sidik (paling kanan), Ketua Wadah Perisai berpose bersama Agen Perisai Depok. (Dok. Ahmad Jafar Sidik)

Pertemuan Ketiga — Perlindungan yang Pasti

Beberapa hari kemudian, pada pertemuan ketiga masih di tempat yang sama, Apriansyah datang bersama Ade, putranya. Ade tidak hanya selesai mengisi formulir kepesertaan untuk dirinya sendiri, Apriansyah, dan Sudarti, tetapi juga untuk beberapa teman ayahnya sesama penyandang disabilitas netra yang ingin ikut didaftarkan. Semua formulir itu ia kerjakan dengan telaten—mengisi data satu per satu, memastikan tidak ada yang terlewat.

Di titik pertemuan itulah Primasari, Agen Perisai yang mendampingi proses ini sejak Kamis, 20 November 2025 sudah menunggu. Pertemuan bertiga itu menjadi kelanjutan dari obrolan ringan yang sebelumnya belum rampung.

Ade menyerahkan formulir yang telah diisi.

“Bu Prima, Bapak masih bingung beberapa bagian. Bisa tanya lagi?” tanya Apriansyah pelan.

“Tentu bisa, Pak,” jawab Primasari sambil tersenyum. “Ayo kita cari tempat duduk sebentar.”

Primasari menunjuk sebuah bangku panjang di dekat warung kecil pinggir Pasar Mini. Mereka bertiga kemudian berjalan ke sana—Apriansyah menggandeng lengan Ade, sementara Primasari membawa tumpukan tipis formulir.

Setelah mereka duduk, Primasari mulai mengulang penjelasannya—tentang jaminan kecelakaan kerja (JKK), jaminan kematian (JKM), dan jaminan hari tua (JHT). Ia menjelaskan perlahan, memastikan Apriansyah memahami setiap bagian, sementara Ade mendengarkan dengan saksama agar bisa membantu ayahnya jika ada hal yang terlewat.

Apriansyah menunduk lama sebelum berkata lirih:

“Bu hidup saya dalam gelap. Apa saya pantas ikut program sebesar ini?”

Prima menatapnya.

“Pak justru karena risiko Bapak besar—keliling jalanan, dorong gerobak, di tengah arus lalu lintas yang ramai, dan padat serta lubang-lubang jalan—Bapak harus dilindungi.”

Ade menggenggam tangan ayahnya erat-erat.

“Pak ikut ya. Saya nggak mau kehilangan Bapak, dan Ibu, cuma karena kita nggak punya perlindungan jaminan sosial.”

Air mata Apriansyah jatuh perlahan.

“Ade kamu mata Bapak. Kamu jaga Bapak dan Ibu sejak kecil. Baiklah, Bu Prima saya ikut. Demi Ade.”

Tak berhenti di pertemuan ketiga, proses itu berlanjut lagi di hari berikutnya.

Delapan Formulir yang Menyusul

Hari berikutnya masih di tempat yang sama, Apriansyah dan Ade datang lagi—kali ini membawa delapan formulir milik tunanetra lain, termasuk ibunya. Semua formulir itu, ia isi sendiri dengan telaten.

Primasari merapikan beberapa kertas yang Ade bawa, lalu memeriksanya perlahan. Ade duduk di sisi ayahnya, sesekali membantu menjelaskan bagian-bagian formulir yang sebelumnya ia tulis sendiri.

“Ini semua sudah lengkap, De?” tanya Primasari tanpa mengalihkan pandangan dari formulir.

“Insya Allah lengkap, Bu,” jawab Ade. “Saya isi sesuai KTP mereka. Ini ada untuk Bapak, Ibu, saya dan teman-teman Bapak juga.”

Primasari mengangguk pelan. “Bagus. Biar nanti saya cek satu per satu setelah sampai rumah.”

Ade mencondongkan badannya sedikit.

“Bu Prima, teman-teman Bapak percaya. Tapi mereka takut nggak memenuhi syarat dan akhirnya nggak jadi peserta.”

Primasari menatap Ade sebentar—melihat kesungguhan anak itu membantu kedua orang tuanya dan teman-teman Bapaknya—lalu ia menghela napas pelan.

“Wajar mereka khawatir,” katanya tenang. Ia menyentuh bahu Ade secara ringan, bukan berlebihan, hanya sekadar memberi keyakinan. “Insya Allah semua saya bantu. Yang penting datanya ada dulu. Sisanya kita urus.”

Apriansyah mengangguk kecil, memegang tangan anaknya. “Alhamdulillah semoga semuanya lancar, Bu.”

Primasari tersenyum tipis. “Iya, Pak. Kita selesaikan pelan-pelan saja. Yang penting Bapak dan teman-teman sudah mau ikut kepesertaan.”

Setelah itu, pertemuan mereka kembali tenang. Primasari melanjutkan memeriksa formulir, Ade mengonfirmasi data-data yang ditanya, dan Apriansyah mendengarkan sambil sesekali mengangguk, mencoba menangkap setiap informasi yang disampaikan.

Di tengah riuh rendah Pasar Mini, ketiganya duduk dengan sederhana: seorang ayah tunanetra, anaknya yang membantu, dan seorang Agen Perisai yang memastikan prosesnya berjalan tanpa hambatan.

Pertemuan itu berlangsung singkat, jelas, dan langsung pada tujuan.

Satu per satu formulir dipastikan lengkap. Delapan orang itu beragam profesinya: pedagang kerupuk, tukang pijat keliling, hingga para pengamen jalanan.

Dokumen yang dibawa Ade menunjukkan sepuluh nama lengkap peserta tunanetra yang mendaftar bersamaan dengan ayahnya: Eka Ardian (37), Ramdani Ibnu Eriadi (35), Sandy Mawardi (36), Nurbani (46), Usman Darusalam (41), Apriansyah (52), Rafa Ade Syaputra (18), Yunus Asikin (33), Sudarti (52), dan Andre Khoirullah (43).

Semua nama dituliskan langsung oleh Ade agar tidak ada kesalahan pencatatan.

Di tengah proses itu, Apriansyah bertanya lirih:

“Bu kalau kami tidak bisa melihat dunia apa BPJS Ketenagakerjaan bisa melihat kami?”

Prima menahan napas singkat.

“BPJS melihat, Pak. Negara melihat. Dan negara ingin melindungi keluarga Bapak jika ada musibah.”

Terlihat Ade menunduk, matanya berkaca-kaca.

“Pak mulai hari ini kita nggak sendirian lagi.”

Membaca Data, Melihat Manusia

Kisah Apriansyah dan rekan sesama tunanetra hanyalah secuil dari wajah besar pekerja rentan di Indonesia.

BPS nasional mencatat ada 47,89 juta pekerja rentan di negeri ini—pekerja tanpa kepastian upah, tanpa kontrak, dan tanpa jaminan sosial. Mereka hidup di garis paling rapuh; sekali jatuh, tak ada jala pengaman.

Di antara kelompok rentan itu, penyandang disabilitas—terutama tunanetra—sering kali menjadi kelompok yang paling tak terlihat. WHO mencatat sedikitnya 2,2 miliar orang di dunia hidup dengan gangguan penglihatan. Sebagian besar tinggal di negara berpendapatan menengah seperti Indonesia, tempat perlindungan sosial sering baru diperoleh ketika seseorang aktif mencarinya.

Pemerintah Kota Depok mencatat berdasarkan Data Konsolidasi Bersih (DKB) Semester I Tahun 2025, jumlah penduduk Kota Depok tercatat 2.024.664 jiwa.

Namun data pemerintah menunjukkan hal lain: di Depok, hanya 78 jiwa penyandang disabilitas netra/buta tercatat pada 2021—angka yang terlalu kecil untuk menggambarkan kenyataan lapangan.

Pada Maret 2025, BPS Kota Depok mencatat 63,45 ribu penduduk miskin dengan garis kemiskinan Rp 884.663 per orang per bulan. Pendapatan Apriansyah yang kadang hanya beberapa puluh ribu rupiah sehari membuat keluarganya bisa jatuh miskin kapan saja.

Tunanetra yang hidup dari pendapatan harian bukan hanya berjuang mencari nafkah, tetapi juga berjuang agar tetap terlihat oleh sistem.

Dan hari itu, ketika keluarga Apriansyah dan para tunanetra lain menyatakan ikut jadi peserta, bagi Primasari bukan hanya soal pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan—itu adalah momen ketika mereka yang sering tak terlihat akhirnya diakui keberadaannya oleh negara.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Depok, Novarina Azli, mengatakan bahwa kisah seperti Apriansyah adalah cermin nyata tantangan perlindungan pekerja rentan.

Data terbaru per 31 Oktober 2025 menunjukkan jumlah peserta aktif BPJS Ketenagakerjaan Depok telah mencapai 197 ribu orang.

Sementara total peserta aktif Bukan Penerima Upah (BPU) per 3 November 2025 di BPJS Ketenagakerjaan Depok adalah 50,9 ribu orang.

“Apa yang dilakukan Bu Primasari membuktikan bahwa perlindungan BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya berhenti pada program, tetapi hidup dalam tindakan nyata. Pekerja rentan—termasuk penyandang disabilitas—sering kali tak punya pintu untuk masuk ke sistem. Ketika mereka terlindungi, itu bukan hanya soal kartu, tetapi tentang menjaga martabat dan keberlanjutan hidup mereka,” tuturnya kepada Ruzka Indonesia, Kamis (27/11/2025).

Sementara itu, Ketua Wadah Perisai Andalan Sukses Semesta Depok, Ahmad Jafar Sidik, yang juga Ketua Umum Hiwapraja (Himpunan Wadah Perisai Jawa Barat), menilai langkah kecil Agen Perisai dapat menimbulkan dampak berlipat bagi masyarakat.

“Dari satu keluarga menjadi sepuluh peserta. Beginilah perlindungan sosial bekerja: dimulai dari langkah kecil yang tulus. Agen Perisai hadir bukan hanya sebagai penggerak administrasi, tetapi sebagai jembatan bagi mereka yang selama ini tidak terlihat,” ujarnya di Depok, Kamis (27/11/2025).

 DJONI SATRIA)Deretan kartu peserta BPJS Ketenagakerjaan milik pasangan tunanetra Apriansyah–Sudarti dan anaknya Rafa Ade Syaputra serta tujuh penyandang tunanetra lainnya. (Foto: DJONI SATRIA)

Ucapan yang Sulit Dilupakan

Setelah seluruh berkas lengkap dan tinggal menunggu pencetakan kartu BPJS Ketenagakerjaan, Apriansyah menggenggam tangan Prima erat-erat.

“Bu tolong sampaikan kalau bisa ya ke Pak Prabowo ”

Ia menarik napas panjang, lalu berkata, “Pak Prabowo, terima kasih telah membuat hidup kami terang walau mata kami tak melihat.”

“Begitulah kata-kata Apriansyah yang sulit saya lupakan,” ujar Primasari sambil berkaca-kaca menceritakannya kepada Ruzka Indonesia, Kamis (27/11/2025).

Jiwa yang Mengajarkan Kita Makna Perlindungan

Hari itu, diwakili Apriansyah dan anaknya, para tunanetra pulang bukan hanya membawa kartu kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Mereka pulang membawa rasa aman—sesuatu yang selama ini nyaris tidak pernah mereka miliki.

Semuanya berawal dari sebuah gerobak kerupuk, panggilan kecil dari teras rumah, segelas teh hangat, dan seorang Agen Perisai yang membuka pintunya.

Mereka mungkin tidak melihat jalan di depan, tetapi hari itu mereka tahu: negara melihat mereka. Dan kadang, itu saja sudah cukup membuat hidup terasa lebih terang. (***)

Penulis: Djoni Satria/Wartawan Senior

Read Entire Article
Food |