REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kuliner Nusantara dikenal dengan keberagaman makanan pedasnya yang menggugah selera. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki sajian pedas ikonik yang menjadi identitas kulinernya, seperti rendang khas Sumatra Barat dengan racikan cabai dan rempah yang kuat, seblak dari Bandung yang menghadirkan sensasi pedas gurih berpadu kencur, hingga ayam betutu dari Bali yang kaya bumbu base genep.
Kegemaran masyarakat Indonesia terhadap makanan pedas turut mendorong banyak restoran berlomba-lomba menghadirkan menu bercita rasa pedas, salah satunya Dapur Babah Elite yang mengusung masakan pedas terinspirasi dari kekayaan cita rasa Peranakan.
Di Dapur Babah Elite, pedas disajikan dengan sentuhan elegan dan kompleks. “Daging Sapi Lada Hitam Babah-style menghadirkan pedas hangat dari lada hitam dengan sentuhan paprika, sementara Oedang Tjabe menawarkan udang goreng renyah dengan pedas gurih dari cabai dan bumbu rempah,” jelas Febby Okta, Public Relations Tugu Restaurant Jakarta. Tak heran, makanan pedas terus menjadi favorit masyarakat Indonesia berkat keragaman dan kreativitas penyajiannya.
Di balik kenikmatannya, makanan pedas ternyata menyimpan berbagai manfaat kesehatan. Menurut asisten profesor kedokteran di Harvard Medical School, Dr. Long Nguyen, senyawa khusus bernama kapsaisin dalam cabai dapat mendukung kesehatan tubuh.
Berdasarkan penelitiannya pada tahun 2020, konsumsi cabai secara rutin dapat mengurangi risiko obesitas, penyakit jantung, hingga diabetes. Ahli jantung Dr. Bo Xu dari Cleveland Clinic Lerner College of Medicine menjelaskan, mekanisme kerja kapsaisin mengaktifkan reseptor TRPV1 pada sel saraf, yang memicu pelepasan adrenalin untuk membantu pembakaran lemak dan meningkatkan kontrol kadar gula darah.
Inilah mengapa, menurut Nguyen, orang yang rutin mengonsumsi cabai memiliki kemungkinan 25% lebih kecil untuk meninggal lebih awal. Selain itu, reseptor TRPV1 juga membantu mengendalikan sel imun yang aktif mengurangi peradangan, pemicu berbagai penyakit kronis.
Kapsaisin bahkan digunakan dalam obat-obatan untuk meredakan nyeri saraf dan radang sendi, serta ditemukan dapat meningkatkan variasi bakteri baik di usus untuk memperkuat sistem imun. Meski demikian, Nguyen menekankan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami sepenuhnya manfaat makanan pedas ini.
Ahli gizi Indonesia, Mochammad Rizal, memberikan perspektif yang lebih hati-hati. Ia menyebut makanan pedas hanyalah faktor pendukung, bukan solusi utama untuk menurunkan berat badan atau meningkatkan kesehatan secara dramatis. “Efeknya tidak instan dan tidak signifikan secara drastis.
sumber : Antara

3 hours ago
5












































