Ilustrasi dampak pergerakan tanah yang merusak rumah warga.
REPUBLIKA.CO.ID, SERANG — Pergerakan tanah melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Serang dan merusak puluhan rumah warga. Ancaman meluas seiring hujan ekstrem yang masih mengguyur wilayah tersebut sejak awal Januari.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Serang mencatat pergerakan tanah terjadi di lima kecamatan, yakni Mancak, Cikeusal, Cinangka, Padarincang, dan Waringin Kurung. Total 54 rumah warga tercatat terdampak langsung akibat labilnya kondisi tanah.
Kepala BPBD Kabupaten Serang Ajat Sudrajat di Serang, Senin, mengatakan, pergerakan tanah dipicu hujan lebat berintensitas tinggi yang berlangsung sejak awal Januari. Kondisi tersebut menyebabkan struktur tanah menjadi tidak stabil dan memicu kerusakan bangunan.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Serang, dari 54 rumah terdampak, sebanyak 43 unit mengalami rusak berat. Sementara lima unit tercatat rusak sedang dan enam unit lainnya rusak ringan.
Selain kerusakan yang sudah terjadi, BPBD mencatat potensi ancaman lanjutan terhadap permukiman warga. Sebanyak 97 unit rumah masuk kategori berpotensi terdampak jika pergerakan tanah terus berlanjut.
“Selain hunian warga, terdapat dua fasilitas umum yang juga terdampak longsor atau pergerakan tanah ini,” tambah Ajat. BPBD terus memantau perkembangan kondisi lapangan untuk mengantisipasi risiko lanjutan.
Secara umum, bencana hidrometeorologi di Kabupaten Serang tidak hanya berupa pergerakan tanah, tetapi juga banjir dan angin kencang. Dampak bencana tercatat meluas hingga 72 desa di 25 kecamatan.
Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat karena tingkat ancaman masih berada pada level sedang hingga tinggi. Status ini diberlakukan untuk mempercepat penanganan dan perlindungan warga.
Ajat mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah dengan kontur tanah miring dan labil agar meningkatkan kewaspadaan.
“Masyarakat diminta siap melakukan evakuasi mandiri apabila melihat tanda-tanda keretakan tanah atau kenaikan aliran sungai yang signifikan, mengingat potensi cuaca ekstrem diprediksi masih terjadi hingga 22 Januari 2026,” katanya.
sumber : Antara

3 hours ago
4












































