Yohan Purwo Nugroho
Bisnis | 2026-08-21 09:46:19
Bayangkan kita kembali ke akhir abad ke-18, tahun 1781 dimana sebuah kapal dagang besar berlayar di tengah Samudra Atlantik. Kapal bernama Zong tersebut membawa 470 orang Afrika yang akan dijadikan budak menuju Jamaika. Dalam pelayaran tersebut, Kapten kapal Luke Collingwood menyadari persoalan serius setelah melakukan kesalahan navigasi yang mengakibatkan kapal harus berlayar jauh lebih lama dari yang dijadwalkan. Kemudian kondisi kapal yang memburuk dan persediaan air bersih yang menipis semakin menjadi persoalan terbesar dengan penumpang manusia sebanyak itu.
Mereka ditempatkan dalam kondisi yang sangat penuh dan tidak manusiawi dan dalam perjalanan, ratusan orang tersebut sakit dan akhirnya 130 orang meninggal dunia. Di tengah situasi tersebut, manusia mulai diperlakukan bukan sebagai manusia, melainkan sebagai aset ekonomi. Ratusan orang yang meninggal tersebut kemudian dilemparkan ke laut dan peristiwa ini kelak dikenal sebagai Zong Massacre.
Namun, yang membuat tragedi tersebut semakin menyentak nurani adalah kelanjutan ceritanya: Ketika kapal akhirnya tiba di Jamaika pemilik kapal kemudian berupaya mengajukan klaim asuransi atas kehilangan mereka, sebagaimana klaim Asuransi atas kehilangan sebuah barang atau muatan. Dalam proses hukum yang muncul pada 1783, persoalan tersebut bahkan sempat diperlakukan sebagai sengketa asuransi atas “cargo”, bukan sebagai pertanggungjawaban atas hilangnya ratusan nyawa manusia. Dan tidak ada seorang pun yang kemudian dituntut atas pembunuhan para korban.
Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu kasus yang menggugah gerakan penghapusan perdagangan manusia di Inggris. Di sinilah kisah Zong menjadi sangat relevan untuk direnungkan hingga saat ini. Bagaimana mungkin ratusan manusia bisa diperlakukan seperti barang?
Jawabannya mungkin sederhana, tetapi sekaligus mengerikan: ketika kepentingan dan keuntungan telah mengalahkan nurani.
Ketika Manusia Hanya Menjadi Angka
Tragedi Zong tidak dapat dilepaskan dari sistem perdagangan manusia yang pada abad ke-18 telah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi besar. Dalam sistem tersebut, manusia diperjualbelikan, dihitung nilainya, diasuransikan, dan diperlakukan sebagai bagian dari perhitungan bisnis. Persoalannya bukan hanya pada tindakan satu orang atau satu kapal. Ada sebuah cara berpikir yang salah: ketika keuntungan dianggap lebih penting daripada nilai kemanusiaan. Orang tidak lagi melihat korban sebagai manusia yang memiliki hak untuk hidup. Mereka hanya menjadi angka dalam perhitungan.
Berapa nilai muatan yang hilang? Berapa kerugian yang terjadi? Berapa kompensasi yang dapat diperoleh?
Pertanyaan tentang keuntungan menjadi lebih dominan daripada pertanyaan yang seharusnya paling mendasar: “Apakah tindakan ini benar?” Inilah titik ketika perilaku Budi Luhur mulai hilang. Seseorang dapat memiliki kecerdasan, kekuasaan, pengetahuan, bahkan sistem kerja yang sangat rapi. Namun, tanpa nilai moral dan hati nurani, semua itu dapat digunakan untuk membenarkan tindakan yang salah.
Tragedi Zong menjadi contoh ekstrem tentang apa yang dapat terjadi ketika manusia kehilangan empati dan etika. Ketika orang lain hanya dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan, maka batas antara “mencari keuntungan” dan “merugikan manusia” dapat semakin kabur. Peristiwa ini kemudian turut membuka mata masyarakat dan memperkuat gerakan penolakan terhadap perdagangan manusia. Aktivis seperti Granville Sharp dan Olaudah Equiano membantu membawa kasus tersebut ke perhatian publik dan menjadikannya salah satu contoh nyata kekejaman perdagangan budak.
Dari sini kita dapat mengambil satu pelajaran sederhana: masalah besar sering kali berawal ketika manusia berhenti menggunakan hati nuraninya dalam mengambil keputusan.
Budi Luhur adalah sebagai Kompas Perilaku
Lalu, apa hubungannya kisah dari lebih dua abad lalu dengan kehidupan kita hari ini?
Jawabannya ada pada cara kita mengambil keputusan. Kita mungkin tidak hidup di atas kapal Zong. Kita bekerja di kantor, pabrik, proyek, sekolah, atau menjalankan usaha. Namun, setiap hari kita tetap dihadapkan pada berbagai pilihan yang menguji nilai dan etika kita.
Apakah kita akan jujur meskipun tidak ada yang mengawasi? Apakah kita berani mengakui kesalahan? Apakah kita menghormati orang lain, termasuk ketika orang tersebut memiliki jabatan yang lebih rendah? Apakah kita akan langsung ikut menghakimi ketika mendengar kabar orang lain di department lain melakukan kesalahan tanpa klarifikasi? Apakah kita akan tetap memilih cara yang benar ketika cara yang salah terlihat lebih mudah dan menguntungkan?
Di sinilah Budi Luhur menjadi penting. Bagi penulis, Budi Luhur bukan sekadar teori tentang bagaimana menjadi orang baik. Budi Luhur adalah kemampuan untuk tetap menggunakan akal, hati nurani, dan tanggung jawab secara seimbang dalam kehidupan. Dalam praktiknya, perilaku luhur sering kali muncul melalui tindakan sederhana: berkata jujur, menghargai orang lain, menepati janji, tidak mengambil hak orang lain, bertanggung jawab terhadap pekerjaan, serta berani memilih yang benar meskipun terkadang tidak nyaman.
Nilai-nilai tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, justru dalam situasi sederhana itulah karakter seseorang sebenarnya diuji. Dalam bisnis, target tidak boleh mengalahkan Integritas
Sebagai seseorang yang bekerja di bidang sales dan business development dalam industri engineering, penulis memahami bahwa dunia bisnis sangat dekat dengan target. Ada target penjualan, keuntungan, pertumbuhan pasar, efisiensi biaya, hingga target penyelesaian proyek. Semua itu penting karena tanpa hasil bisnis yang baik, perusahaan tentu sulit bertahan dan berkembang. Namun, ada satu hal yang tidak boleh hilang dalam mengejar target: cara untuk mencapai target tersebut.
Misalnya, seorang sales dapat saja memberikan janji yang berlebihan kepada pelanggan demi memenangkan proyek. Secara jangka pendek, mungkin kontrak berhasil didapatkan. Namun, bagaimana jika perusahaan ternyata tidak mampu memenuhi janji tersebut?
Pelanggan kecewa, Tim proyek menerima tekanan, Biaya meningkat, Reputasi perusahaan menurun.
Akhirnya, keuntungan jangka pendek justru dapat berubah menjadi kerugian jangka panjang. Karena itu, Budi Luhur dalam bisnis dapat dimulai dari keberanian untuk berkata jujur. Berani mengatakan kepada pelanggan bahwa sebuah spesifikasi belum dapat dipastikan. Tidak memanipulasi informasi. Tidak menyembunyikan risiko. Tidak menjatuhkan kompetitor dengan informasi yang tidak benar. Dan tidak mengambil keputusan yang menguntungkan diri sendiri tetapi merugikan perusahaan atau orang lain.
Dalam bisnis engineering, integritas bahkan menjadi semakin penting karena keputusan yang diambil tidak hanya berkaitan dengan uang. Kesalahan informasi, spesifikasi, atau komitmen dapat berdampak pada kualitas, biaya, jadwal, bahkan keselamatan. Karena itu, penulis percaya bahwa bisnis yang sehat bukan hanya bisnis yang menghasilkan keuntungan, tetapi bisnis yang mampu mendapatkan dan mempertahankan kepercayaan. Dan kepercayaan tidak dibangun dari kata-kata. Kepercayaan dibangun dari perilaku.
Compliance dan Ethics: Menjadikan Etika sebagai Budaya
Tentu, perilaku budi luhur tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran masing-masing individu. Perusahaan juga perlu menciptakan lingkungan yang mendorong karyawan untuk selalu mengambil keputusan secara benar. Di sinilah peran Compliance dan Ethics menjadi sangat penting.
Compliance memastikan bahwa perusahaan menjalankan bisnis sesuai dengan hukum, peraturan, kebijakan, dan prosedur. Sementara ethics membantu kita menghadapi situasi yang terkadang tidak tertulis secara rinci dalam sebuah aturan. Karena pada kenyataannya, tidak semua persoalan dapat dijawab hanya dengan membuka SOP. Ada situasi ketika kita harus bertanya kepada diri sendiri: “Memang tidak ada aturan yang melarang, tetapi apakah ini benar untuk dilakukan?”
Perusahaan dapat mendorong perilaku tersebut melalui berbagai program, seperti pelatihan Code of Conduct, kebijakan anti-penyuapan dan konflik kepentingan, sosialisasi etika bisnis, mekanisme pelaporan pelanggaran (whistleblowing), serta contoh nyata dari para pemimpin perusahaan. Namun, yang paling penting adalah konsistensi. Tidak ada gunanya perusahaan berbicara tentang integritas jika orang yang melanggar etika tetap diberikan penghargaan hanya karena berhasil mencapai target.
Budaya etis harus dimulai dari atas dan dijalankan bersama-sama. Seorang pimpinan harus menjadi contoh. Seorang manajer harus berani mengambil keputusan yang benar. Dan setiap karyawan harus memahami bahwa keberhasilan bukan hanya dinilai dari apa yang dicapai, tetapi juga bagaimana cara mencapainya.
Menjadi Manusia yang Lebih Baik, Setiap Hari
Kisah Zong mengingatkan kita tentang bahaya ketika manusia kehilangan rasa kemanusiaan dan menjadikan keuntungan sebagai satu-satunya tujuan. Sebuah sistem bisnis dapat terlihat berhasil secara angka, tetapi kehilangan maknanya ketika dibangun dengan mengorbankan nilai-nilai dasar.
Untungnya, sejarah juga mengajarkan bahwa perubahan dapat terjadi ketika ada orang-orang yang berani menggunakan hati nurani, mempertanyakan ketidakadilan, dan memilih untuk melakukan hal yang benar. Itulah semangat yang menurut penulis perlu terus kita jaga dalam kehidupan dan bisnis.
Budi Luhur tidak selalu berarti melakukan sesuatu yang besar atau heroik. Kadang, Budi Luhur hadir dalam keputusan kecil: tetap jujur saat membuat laporan, menghargai rekan kerja, tidak menyalahgunakan jabatan, tidak menghakimi sebelum ada keputusan pihak berwenang, menepati janji kepada pelanggan, dan berani berkata benar ketika melihat sesuatu yang salah. Di tengah zaman yang semakin cepat dan kompetitif, mungkin kita semakin sibuk mengejar target, jabatan, keuntungan, dan kesuksesan. Namun, jangan sampai dalam perjalanan tersebut kita kehilangan kompas. Karena pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita mencapai tujuan, tetapi juga tentang nilai apa yang tetap kita pegang ketika menuju ke sana.
Zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, dan bisnis boleh semakin kompetitif. Namun, perilaku Budi Luhur harus tetap menjadi kompas agar kita tidak hanya menjadi manusia yang sukses, tetapi juga manusia yang layak dipercaya dan membawa kebaikan bagi sesama. Budi luhur bukan nilai kuno yang ditinggalkan zaman. Justru di tengah zaman yang semakin kompleks, budi luhur adalah kompas yang memastikan kita tidak tersesat dalam perjalanan menuju kesuksesan
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

6 hours ago
10














































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5692679/original/097423800_1778569231-1_1_.jpg)