REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Citibank, N.A., Indonesia (Citi Indonesia) melalui kelompok afinitas karyawan Citi Indonesia Women Network (IWN) menggelar talkshow bertajuk Leading with Agility: Shaping the Future dalam rangka memperingati Hari Perempuan Sedunia (International Women's Day).
Kegiatan yang merupakan hasil kolaborasi dengan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), Synergy in Women’s Network (SIWN) di Shell Indonesia, dan Bank Mandiri Srikandi ini menghadirkan berbagai perspektif dari para pemimpin perempuan di berbagai sektor industri dalam format diskusi interaktif.
Executive Director IBCWE Wita Krisanti yang bertindak sebagai moderator mengatakan peringatan Hari Perempuan Sedunia tidak sekadar menjadi seremoni, tetapi juga pengingat masih banyak tantangan yang harus dihadapi perempuan Indonesia, khususnya di tingkat kepemimpinan bisnis.
“Survei yang kami lakukan bersama IDX pada 2022 menunjukkan hanya ada delapan perempuan CEO di 200 perusahaan tercatat dengan kapitalisasi terbesar di Bursa Efek Indonesia. Selain itu, hanya sekitar 15 persen perusahaan yang memiliki keterwakilan perempuan di level eksekutif,” ujar Wita saat membuka acara di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Wita menambahkan, laporan Diversity Matters Even More yang dirilis McKinsey pada 2023 menunjukkan perusahaan dengan keragaman gender tinggi pada dewan direksinya memiliki peluang 28 persen lebih besar untuk mencatatkan kinerja keuangan yang unggul.
Menurutnya, keberagaman gender juga membantu perusahaan mempertahankan talenta terbaik, memperluas jangkauan pasar, serta membangun reputasi yang baik, baik di kalangan konsumen maupun investor.
“Kita tahu dunia kerja saat ini sangat dinamis dan penuh ketidakpastian. Saat ini bahkan ada empat generasi yang bekerja bersama dalam satu organisasi, mulai dari baby boomers, generasi X, milenial, hingga generasi Z. Belum lagi perkembangan teknologi yang sangat cepat. Cara kerja kita harus berubah agar keempat generasi ini bisa bersinergi dengan baik,” ujarnya.
Senada dengan Wita, Direktur Country Council Citi Indonesia Vera Sihombing menilai pemimpin perempuan saat ini perlu membangun sinergi, mengubah pola pikir, serta menumbuhkan kepercayaan dalam tim.
“Leadership signature bagi saya adalah kehadiran sebagai pemimpin. Walaupun tidak selalu hadir secara fisik, tetapi tim tetap dapat merasakan kehadiran dan dukungan kita,” ujar Vera, yang telah berkarier lebih dari 30 tahun di Citi Indonesia.
Selain Vera, Presiden Direktur dan Managing Director Mobility Shell Indonesia Ingrid Siburian juga berbagi pengalamannya sebagai pemimpin perempuan di sektor energi. Dengan pengalaman lebih dari 17 tahun di Shell, Ingrid pernah memimpin berbagai operasi regional di Indonesia, Singapura, dan Hong Kong, serta memiliki pengalaman internasional di Global Network Center of Excellence Shell di London.
Ingrid mengatakan penting bagi seseorang untuk berani menyuarakan keinginannya dalam pengembangan karier. “Di Shell kami memiliki dua bisnis besar, yaitu pelumas dan mobility. Saya menyampaikan bahwa saya ingin memimpin bisnis mobility. Setiap kali kami membahas individual development plan, itu selalu menjadi prioritas utama saya,” ujarnya.
Kesempatan tersebut akhirnya datang ketika konflik Rusia-Ukraina berlangsung dan ia dipercaya memimpin tim mobility. Menurut Ingrid, tantangan tersebut menjadi ujian kepemimpinan untuk tetap memotivasi tim dan menyesuaikan strategi bisnis.
Sementara itu, pengalaman berbeda disampaikan Kurnia Sofia Rosada, Group Head Enterprise Data Analytics Bank Mandiri. Nia, sapaan akrabnya, memimpin pengelolaan data dan analitik perusahaan untuk mendukung pertumbuhan bisnis serta meningkatkan produktivitas.
Di bawah kepemimpinannya, Group Enterprise Data Analytics meraih enam penghargaan internasional pada 2025, termasuk ASEAN Tech Excellence Awards.
Nia mengaku awalnya tidak pernah membayangkan akan memimpin bidang data analytics. Sebelumnya ia lebih banyak berkarier di bidang bisnis, pemasaran, dan sektor energi. “Pemahaman saya waktu itu adalah data is the new oil. Kita memiliki banyak data yang bisa dimanfaatkan dan dimonetisasi untuk mendukung pertumbuhan bisnis,” ujarnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam memanfaatkan data sekaligus mengikuti perkembangan teknologi, Nia tetap optimistis. “Ini memang domain baru dan tidak mudah, tetapi selama bukan nuclear engineering, kita masih bisa mempelajarinya,” katanya.

3 hours ago
3






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)
















