Produk Tembakau Alternatif Dinilai Bisa Jadi Pendekatan Pengurangan Risiko

1 hour ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pendekatan pengurangan risiko atau Tobacco Harm Reduction (THR) mulai menjadi perhatian dalam diskursus kesehatan publik di Indonesia. Pendekatan ini dinilai dapat menjadi alternatif bagi perokok dewasa yang belum berhasil berhenti total dari kebiasaan merokok.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Prof Amaliya, mengatakan konsep THR dilakukan dengan mendorong perokok dewasa beralih ke produk tembakau alternatif yang dinilai memiliki risiko lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

Menurut dia, produk seperti rokok elektronik, produk tembakau dipanaskan (heated tobacco product), dan kantung nikotin merupakan bagian dari strategi pengurangan bahaya untuk meminimalkan dampak kesehatan ketika berhenti merokok sepenuhnya belum dapat dilakukan.

“Konsep pengurangan bahaya ditujukan bagi perokok aktif yang sulit berhenti agar beralih ke produk berisiko lebih rendah, bukan sebagai pintu masuk bagi non-perokok atau anak muda untuk mulai mengonsumsi nikotin,” kata Amaliya, Ahad (17/5/2026).

Ia mengibaratkan strategi tersebut seperti penggunaan helm atau sabuk pengaman saat berkendara. Menurutnya, langkah itu bukan menghilangkan risiko sepenuhnya, tetapi mengurangi potensi dampak fatal.

Amaliya menilai kebijakan kesehatan publik perlu bergerak melampaui pendekatan pembatasan semata. Menurut dia, strategi yang realistis dan aplikatif dibutuhkan untuk menekan dampak kesehatan akibat konsumsi rokok di masyarakat.

“Kebijakan seharusnya tidak hanya berfokus pada larangan, namun pada langkah realistis untuk mengurangi dampak buruk merokok terhadap kesehatan masyarakat. Oleh sebab itu, implementasinya perlu dikawal dengan regulasi, edukasi, dan pengawasan demi kepentingan kesehatan masyarakat luas,” ujarnya.

Pandangan serupa juga muncul dari hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bertajuk Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO's Nine Toxicants.

Peneliti BRIN, Prof Bambang Prasetya, mengatakan penelitian tersebut menunjukkan produk tembakau alternatif seperti rokok elektronik dan produk tembakau dipanaskan memiliki kadar senyawa toksikan yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

Menurut dia, hal itu disebabkan tidak adanya proses pembakaran yang menghasilkan TAR pada produk tembakau alternatif.

“Karena tidak adanya proses pembakaran yang menghasilkan TAR, produk tembakau alternatif mengindikasikan potensi penurunan risiko kesehatan hingga 80-90 persen dibandingkan rokok bakar,” kata Bambang.

Read Entire Article
Food |