REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 yang diperkirakan lebih rendah. Posisi rupiah pun kembali mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup melemah 27 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp 17.948 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (20/7/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp 17.921 per dolar AS.
"Di tengah derasnya arus investasi asing, melemahnya investasi domestik serta lesunya konsumsi rumah tangga diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah level 5 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,9 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski realisasi investasi mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1 persen (yoy), kontribusinya dinilai belum mampu mengompensasi perlambatan di sisi permintaan domestik," kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Senin (20/7/2026).
Realisasi investasi sebesar Rp 511,8 triliun pada kuartal II 2026 yang tumbuh 7,1 persen (yoy) menjadi sinyal positif dan tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Namun, jika dicermati lebih dalam, kualitas pertumbuhan investasi mulai menunjukkan perbedaan yang cukup jelas.
Pertumbuhan investasi saat ini semakin bergantung pada Penanaman Modal Asing (PMA) yang melonjak 27,5 persen (yoy). Sebaliknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru menyusut 7,8 persen (yoy), menjadi kontraksi pertama sejak kuartal I 2021. Kondisi tersebut mencerminkan masih tingginya kepercayaan investor asing terhadap prospek jangka panjang Indonesia, terutama di sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam.
"Namun, pelaku usaha domestik masih memilih menahan ekspansi karena lemahnya permintaan dalam negeri, tingginya biaya pendanaan, serta ketidakpastian ekonomi," ujarnya.
Karena itu, lanjut Ibrahim, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara melanjutkan agenda hilirisasi dan mendorong investasi ke sektor-sektor yang lebih banyak menciptakan lapangan kerja. Sektor manufaktur, industri makanan dan minuman, tekstil, elektronik, serta ekonomi digital dinilai memiliki potensi besar untuk memperluas kesempatan kerja sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.
Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan vokasi, penyederhanaan perizinan, kemudahan berusaha, serta kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas investasi yang masuk.

17 hours ago
14


























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543643/original/041077600_1775031375-WhatsApp_Image_2026-04-01_at_14.33.02__1_.jpeg)
















