REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Rhafidilla Vebrynda, M.I.Kom. (Dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Studi Islam dan Peradaban Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)
Sebagian umat Islam di Indonesia memulai puasa Ramadhan 1447 Hijriyah pada 18 Februari 2026, hal ini sesuai keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah terkait awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah. Sejak tahun 1447 Hijriyah, Muhammadiyah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KGHT) yang sudah di-launching tahun 2025 lalu.
Sebagai kaum Muslimin di Indonesia, kita dihadapkan pada banyaknya persoalan perilaku bermedia sosial yang makin tidak memiliki keadaban tinggi, terbukti masih rendahnya tingkat kesopanan warga internet. Netizen +62 dikenal memiliki pengaruh besar dan sangat aktif di media sosial. Meski kreatif, riset Digital Civility Index (DCI) dari Microsoft pernah menyoroti rendahnya tingkat kesopanan digital netizen Indonesia di Asia Tenggara akibat tingginya hoaks dan ujaran kebencian.
Sebagian warganet di Indonesia masih menganggap dunia maya sebagai sesuatu yang berbeda dengan dunia nyata, padahal, dunia maya sejatinya hanyalah dunia baru yang juga nyata. Survei DCI tahun 2016-2021 menunjukkan meningkatnya paparan berita bohong dan ujaran kebencian di Indonesia. Sebagai upaya mencari solusi, tentunya kita perlu menyiapkan rencana strategis dalam memanfaatkan media sosial agar menjadi manusia yang beradab dan memiliki sopan santun.
Menurut data dari Google Trends pencarian terkait topik agama, khususnya pada bulan Ramadhan menunjukkan peningkatan signifikan. Aplikasi dan website dakwah semakin menjamur menawarkan kajian online, ceramah digital, dan komunitas Muslim. Dari data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sebagian besar sudah memberikan kontribusi yang positif dalam penggunaan internet sebagai media dakwah. Di tengah peluang dan tantangan yang berkelindan ini, sebagai umat Muslim, kita dihadapkan pada tantangan strategis dalam memanfaatkan media sosial.
Peran sebagai umat Islam dalam berdakwah tidak hanya dilakukan oleh para da’i tetapi juga kita sebagai masyarakat biasa. Dalam bermedia sosial misalnya, kita dapat memberikan informasi yang positif selama Ramadhan dan nanti pasca-Ramadhan. Kita perlu membuat komunitas dakwah yang memproduksi konten-konten positif secara massif sebagai bentuk edukasi bermedia sosial. Kita dapat mengakses dan membagikan konten dari Lensamu, MPKSDI, Majelis Tabligh, dan Majelis Tarjih & Tajdid Muhammadiyah, serta dari para da’i seperti Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Fathurahman Kamal, Ustaz Irfan Rizki Has, Ustaz Das’ad Latif, dan Ustaz Rifky Jafar Thalib.
Kita sebagai umat Islam Indonesia penting menjadi Uswah hasanah atau teladan baik dalam kehidupan. Termasuk dalam kehidupan kita di media sosial. Jangan biarkan momen ibadah Ramadhan kita diam ditempat. Melalui puasa, setiap umat Islam yang menunaikannya akan mendapatkankan kebahagiaan sejati yang berfondasikan khazanah takwa seperti dalam Alquran QS Al Baqarah: 183.

2 hours ago
2


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)












