Tarian Sufi (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ia pernah memiliki segalanya: tahta yang kokoh, kekuasaan yang absolut, dan kemegahan seorang raja yang dikagumi dunia. Namun, dalam sejarah agung tasawuf, hidayah tidak selalu datang melalui riuh rendah mimbar atau tumpukan kitab; ia sering kali hadir lewat kegelisahan yang lirih, suara-suara gaib di keheningan malam, dan pertanyaan tajam yang mengoyak dinding hati. Begitulah awal mula "kematian" ego seorang raja dari Balkh, yang kelak lahir kembali sebagai sufi besar yang cahayanya abadi hingga hari ini.
Ibrahim bin Adham pada mulanya adalah penguasa Balkh yang hidup dalam balutan kemewahan tiada tara. Setiap jengkal langkahnya dikawal oleh 40 pedang emas dan 40 tongkat kebesaran emas yang berkilau di depan dan di belakangnya. Namun, di balik tirai sutra itu, Allah telah menyiapkan skenario kerinduan untuk memanggil hamba-Nya pulang ke pelukan hakiki melalui sebuah teguran yang tak terduga.
Pada suatu malam yang sunyi, ketika ia terlelap di kedalaman istananya, langit-langit kamar berderik-derik seolah ada sosok yang sedang melintas di atas atap. Ibrahim tersentak, rasa amarahnya sebagai penguasa bangkit. Ia berseru dengan nada tinggi, “Siapakah itu yang berani mengganggu tidurku?!”
“Aku seorang sahabat,” sahut suara misterius dari atas atap. “Untaku hilang dan aku sedang mencarinya di atas atap istanamu ini.”
“Bodoh! Mana mungkin engkau mencari unta di atas atap yang keras dan tinggi ini?” ejek Ibrahim kepada sosok yang dianggapnya tak waras tersebut.
Namun, jawaban dari atas atap itu justru menjadi pedang yang membelah hatinya: "Wahai manusia yang lalai, lantas apakah engkau berharap hendak mencari Allah di atas ranjang emas dengan mengenakan pakaian sutra yang megah?" Kata-kata itu bergetar hebat di sukma Ibrahim, menciptakan kegelisahan purba yang membuat matanya terjaga dan hatinya tak lagi bisa tenang hingga pagi menjelang.
Keesokan harinya, Ibrahim duduk di singgasana dalam pertemuan agung, namun jiwanya sudah tertinggal di kegelapan malam. Para menteri dan hamba istana berbaris sesuai kasta, menjalankan ritual kekuasaan yang biasa. Di tengah suasana formal itu, tiba-tiba seorang lelaki berwajah menakutkan masuk tanpa permisi. Wajahnya sedemikian berwibawa sekaligus menggetarkan, hingga tak satu pun pengawal berani menghalangi langkahnya.

2 hours ago
1








































