Hafidz Ar Rizki
Kisah | 2026-07-20 22:26:45
Gambar 1. Makam Syekh M. Yasin, Sijunjung, Sumatera Barat. (Dokumentasi pribadi)
Beberapa waktu lalu, saya bersama dengan rekan-rekan, Bapak/Ibu dosen, dan peneliti BRIN berkesempatan melaksanakan penelitian lapangan Filologi di Sijunjung, Sumatera Barat. Penelitian lapangan selama sepuluh hari ini merupakan bagian dari program Kegiatan Riset dan Pengembangan Khazanah Manuskrip Sumatera Barat yang digawangi oleh Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR-MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Andalas. Kami mengunjungi surau-surau tempat penyimpanan manuskrip Minangkabau, di antaranya yaitu Rumah Gadang Tanduak Ampek, Surau Simaung, Surau Tinggi Calau, dan Surau Subarang Syekh M. Yasin.
Surau Syekh M. Yasin terletak di Aur Gading, Tanjung Ampalu, Kecamatan Koto VII, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Berbeda dengan Surau Simaung dan Surau Tinggi Calau yang menyimpan manuskripnya di skriptorium/surau, manuskrip-manuskrip koleksi Surau Syekh M. Yasin ini disimpan di rumah jupel (juru pelihara) manuskrip di rumah pribadinya yang berjarak sekitar 300 meter dari Surau. Berdasarkan hasil digitalisasi naskah Dreamsea, manuskrip yang ada di sini berjumlah 16 manuskrip, mulai dari fiqih, tarekat, hingga tafsir Al-Qur’an, kebanyakan beraksara dan bahasa Arab.
Kami dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Saya dan rekan satu tim kebagian menilik manuskrip berbahasa Arab, dengan kode DS 0138 00012. Manuskrip ini memiliki halaman sebanyak 640 halaman, dengan panjang sekitar 32.4 x 20.2 cm. Cover manuskrip ini diganti dengan kardus bersampul plastik, karena cover aslinya sudah rusak dan terlepas. Mulanya, saya mengira isi manuskrip ini merupakan teks-teks campuran keilmuan Arab, karena pada baris atas di halaman awal manuskrip terdapat petunjuk bab-bab beragam keilmuan seperti Ushul Fiqih, Sharaf, Nahwu, Khat (seni tulisan/kaligrafi), Ma’ani, Bayan, Badi’, Tabib (kesehatan), Tarikh (sejarah), dan Tasawuf. Setelah ditelusuri, terdapat banyak sekali ayat Al-Qur’an berubrikasi dengan syarah (penjelasan) sesudahnya.
Asumsi tersebut juga diperkuat dengan adanya scholia (catatan pinggir) yang ramai menghiasi setiap halaman naskah. Salah satu yang menarik perhatian saya yaitu salah satu scholia berbahasa Arab yang telah kami terjemahkan sebagai berikut:
Gambar 2. Catatan pinggir pada halaman awal naskah. (Sumber: Dreamsea)
“Orang Yahudi dinamakan Yahudi karena mereka menggerakkan kepala mereka ketika membaca Taurat. Adapun orang Nasrani dinamakan Nasrani karena mereka menolong agama Nabi Isa A.S.”
Asumsi mengenai perkiraan isi manuskrip ini mengerucut pada ilmu Al-Qur’an dan Nahwu, karena terdapat banyak penjelasan qawaid (kaidah-kaidah) bahasa Arab di dalamnya. Untuk menjawab pertanyaan perihal isi manuskrip, saya melakukan teknik skimming, yaitu melakukan pembacaan manuskrip di bagian awal, tengah, dan akhir. Setelah dibaca dengan seksama, barulah terjawab kalau manuskrip ini merupakan tafsir Al-Qur'an, karena diakhiri dengan tafsir surah An-Nas. Belakangan baru diketahui bahwa tafsir yang saya baca tadi merupakan tafsir Jalalain.
Di sepanjang penelusuran mengenai isi manuskrip, saya juga menemukan banyak simbol-simbol berwarna merah seperti yang tampak pada gambar di samping ini. Simbol-simbol berwarna merah tersebut ditemukan di banyak tempat, hampir terletak di setiap halaman. Setelah melakukan teknik skimming dan mendapati Surah An-Nas di akhir manuskrip, barulah terjawab bahwa simbol-simbol di samping bukan hiasan halaman semata, melainkan petunjuk pembagian Al-Qur'an menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Gambar di sebelah kiri merupakan tanda rubu’ , yang menandai seperempat bagian dalam hizb Al-Quran, sedangkan gambar di sebelah kanan merupakan tanda tsamin, yang menandai seperdelapan bagian dalam Al-Qur'an.
Gambar 3. Simbol Rubu' dan Tsamin. (Sumber: Dreamsea)
Selain membaca isi manuskrip dan mengidentifikasi berbagai scholia yang terkandung di dalamnya, kami juga mencari keberadaan watermark (tanda air) dan countermark dalam manuskrip tersebut. Setelah dilakukan pengamatan dengan menggunakan bantuan senter handphone, ditemukan bahwa watermark yang terdapat dalam manuskrip ini berjenis Propatria, menandakan bahwa kertas yang digunakan untuk menulis tafsir ini berjenis kertas eropa. Hal yang tidak disangka-sangka, secara tidak sengaja kami menemukan ‘potongan’ gambar watermark yang sangat jelas pada salah satu halaman terpisah dalam manuskrip tersebut, seperti yang tampak pada gambar di bawah ini. Saya berkelakar dengan rekan satu tim, "kalau ini sih, namanya bukan watermark, tapi WATERMARK" hahaha.
Gambar 4. Watermark Propatria pada salah satu halaman naskah. (Dokumentasi pribadi)
Tinggal Cek Mbah Google, apa susahnya?
Muncul satu pertanyaan. Manuskrip-manuskrip ini kan sudah didigitalisasi, artinya sudah tersedia secara daring di situs Dreamsea. Kenapa pula harus bertungkus lumus (bersusah payah) mencari tahu isi manuskrip? Apa susahnya? tinggal buka telepon pintar itu, cari Dreamsea di Mbah Google, ketik kodenya, dan tada! akan langsung muncul metadata hingga versi digital dari manuskrip tersebut. Bagi saya, mempelajari manuskrip dari aspek fisik hingga kontennya merupakan satu hal yang istimewa. Apalagi akses menuju manuskrip fisik itu sangat terbatas. Jadi, seyogianya kita manfaatkan kesempatan berharga ini untuk ‘belajar langsung’ dan ‘bermesra’ dengan manuskrip itu sendiri.
Bagi saya, mempelajari manuskrip ibarat menyelesaikan teka-teki. Kita bukan hanya sekadar membuka buku lama, tetapi sebenarnya membuka lembaran-lembaran harta karun yang sudah lama terkubur, dengan segudang ilmu pengetahuan di dalamnya. ‘Menyelesaikan teka-teki’ tadi, contohnya kita rasakan saat pembacaan naskah. Jika bertemu susunan huruf ‘kaf-mim-ba-nga’, apa yang akan kita baca? kambing? kumbang? atau malah kembung? jawabannya ada pada isi manuskrip itu sendiri. Kita bisa mengetahui bacaan susunan huruf-huruf Jawi tersebut dengan membaca kalimat sebelum dan sesudahnya, juga konteks yang ada. Percayalah, setiap kali berhasil membaca satu kata, akan muncul perasaan lega, pada akhirnya, terlontarlah “oh ini rupanya” hahaha. Itu baru satu kata, bagaimana kalau satu manuskrip sekaligus? senang tak terkira, saya rasa.
Sebagai penutup, saya mengutip pernyataan Prof. Pramono (filolog Universitas Andalas) yang mengatakan bahwa manuskrip kita sangat banyak, namun sayangnya peneliti dan peminat kajiannya sangat sedikit. Dari sekelumit kisah ‘perjalanan bermanuskrip’ saya di atas, saya ingin menyampaikan dua hal. Pertama, perlu diketahui bersama bahwa ada banyak sekali harta karun yang masih terkubur dan belum digali dari manuskrip-manuskrip kita. Kedua, saya ingin mengajak para pembaca untuk turut serta menjadi penggali harta karun tersebut. Jadi, mari petakan langkah, siapkan alat tempur dan amunisi, mari turun ke lapangan. Mari kita cari, gali, pelajari, dan kuliti ribuan manuskrip yang ada. Bukan hanya untuk kita hari ini, tapi untuk generasi kita nanti. []
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

10 hours ago
7




























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543643/original/041077600_1775031375-WhatsApp_Image_2026-04-01_at_14.33.02__1_.jpeg)















