REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS – Negara Suriah untuk sementara terhindarkan dari perpecahan besar yang dipicu konflik pasukan pemerintah dengan Pasukan Demokratik Sudan (SDF). Kesepakatan gencatan senjata dicapai pada Ahad dengan janji melibatkan para pejuang beretnis Kurdi itu ke dalam militer pemerintah
Kesepakatan ini juga berisi penarikan pasukan SDF dari wilayah barat Sungai Eufrat, menurut media pemerintah Suriah. Perjanjian tersebut dicapai setelah pertempuran berhari-hari antara pemerintah Suriah dan SDF di timur laut Suriah. Tentara dan SDF telah bentrok mengenai pos-pos strategis dan ladang minyak di sepanjang Sungai Eufrat.
Berbicara di Damaskus, Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa mengatakan bahwa perjanjian tersebut akan membuat lembaga-lembaga negara Suriah dipindahkan ke tiga provinsi di timur dan utara – al-Hasakah, Deir Az Zor, dan Raqqa – yang sebelumnya dikendalikan oleh SDF.
“Kami menyarankan suku-suku Arab kami untuk tetap tenang dan mengizinkan penerapan ketentuan perjanjian,” kata Presiden Suriah Ahmad Al Shara dilansir media pemerintah Suriah.
Sebelumnya, pada Jumat ia mengeluarkan dekrit yang menegaskan hak-hak warga Kurdi Suriah, secara resmi mengakui bahasa mereka dan memulihkan kewarganegaraan komunitas minoritas terbesar di negara itu. “Saya mendapat kehormatan untuk mengeluarkan keputusan khusus untuk rakyat Kurdi kami, yang menjamin hak-hak mereka dan sebagian keistimewaan mereka sesuai dengan hukum,” katanya dalam pidatonya.
Dalam pidato itu, ia juga menyebut bangsa Kurdi sebagai “anak cucu Salahuddin”. Salahuddin al-Ayyubi, yang membebaskan Al-Quds alias Yerusalem pada abad ke-12 awam diketahui sebagai panglima Muslim yang berasal dari etnis Kurdi.
Perjanjian gencatan senjata tersebut menetapkan bahwa pemerintahan SDF yang bertanggung jawab atas tahanan dan kamp ISIS, serta pasukan yang menjaga fasilitas tersebut, akan diintegrasikan ke dalam struktur negara, sehingga memberikan pemerintah tanggung jawab hukum dan keamanan penuh.
Selain itu, SDF akan mengusulkan daftar pemimpin untuk mengisi jabatan senior militer, keamanan, dan sipil di pemerintah pusat, untuk memastikan kemitraan nasional.
Al-Sharaa menyampaikan pengumuman tersebut setelah dia bertemu dengan Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Suriah Tom Barrack di Damaskus. Ketua SDF Mazloum Abdi seharusnya hadir pada pertemuan tersebut, namun al-Sharaa mengatakan bahwa kondisi cuaca membuat perjalanannya akan ditunda hingga Senin.
Outlet berita Kurdi, Rudaw, melaporkan bahwa kepala SDF akan mengunjungi Damaskus pada hari Senin dan diperkirakan akan bertemu dengan al-Sharaa. Dikatakan juga bahwa dia telah mengkonfirmasi bahwa kelompok tersebut telah setuju untuk mundur dari provinsi Deir Az Zor dan Raqqa.
Barrack menyambut baik gencatan senjata tersebut dan menulis dalam sebuah postingan di X bahwa ini adalah “titik perubahan yang sangat penting, di mana mantan musuh merangkul kemitraan alih-alih perpecahan”.
“Presiden al-Sharaa telah menegaskan bahwa Kurdi adalah bagian integral dari Suriah, dan Amerika Serikat menantikan integrasi yang mulus antara mitra bersejarah kami dalam perang melawan ISIS dengan anggota terbaru Koalisi Global, seiring kami terus maju dalam perjuangan abadi melawan terorisme,” tambahnya.

1 hour ago
1











































