Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri

6 hours ago 4

Oleh: KH Bachtiar Nasir, Ketua Umum Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus penganiayaan yang berujung pada wafatnya seorang santri sebuah pesantren di Nusa Tenggara Barat meninggalkan luka mendalam bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan Islam. Tragedi yang terjadi pada penghujung 2025 dan baru mencuat ke ruang publik beberapa bulan kemudian itu mengingatkan kita bahwa perlindungan anak tidak boleh dipandang sebatas urusan administratif. Ia adalah amanah besar yang harus dijaga bersama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Wa anfiqū fī sabīlillāhi wa lā tulqū bi’aidīkum ilat-tahlukati wa aḥsinū, innallāha yuḥibbul-muḥsinīn.

“Belanjakanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. Berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Baqarah: 195).

Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia tidak boleh membiarkan dirinya maupun orang lain terjerumus ke dalam kebinasaan. Dalam konteks pendidikan, pesan ini menuntut hadirnya ikhtiar sungguh-sungguh untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan menjunjung tinggi martabat setiap anak.

Kesedihan keluarga korban menyentuh hati banyak orang. Setiap orang tua menitipkan anaknya ke pesantren dengan membawa harapan besar. Mereka berharap anak-anak itu tumbuh menjadi pribadi yang saleh, berilmu, mandiri, dan berakhlak mulia. Kepercayaan tersebut ibarat titipan suci yang tidak boleh retak oleh kekerasan, kelalaian, ataupun pembiaran.

Karena itu, setiap bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan merupakan pengkhianatan terhadap kepercayaan orang tua. Kekerasan bukan bagian dari pendidikan, bukan pula jalan menuju kedisiplinan. Pendidikan seharusnya menyalakan cahaya dalam diri anak, bukan meninggalkan luka yang membekas sepanjang hidupnya.

Peristiwa ini tentu tidak boleh dijadikan alasan untuk menghakimi seluruh pesantren. Ribuan pesantren di Indonesia telah mengabdi dengan tulus, mendidik generasi bangsa, serta menjadi benteng moral masyarakat. Namun, tragedi tersebut harus menjadi momentum untuk bercermin dan berbenah agar lembaga pendidikan Islam semakin kuat dalam menjalankan fungsi pendidikan sekaligus perlindungan terhadap setiap santri.

Memperkuat Sistem Perlindungan Santri

Pesantren merupakan salah satu pilar penting peradaban Islam di Indonesia. Dari rahim pesantren lahir ulama, cendekiawan, pemimpin bangsa, pejuang kemerdekaan, serta tokoh masyarakat yang mengabdikan hidupnya untuk umat dan negara.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |