Sjafruddin Prawiranegara dan Motif Ekonomi Nir-manusiawi

3 hours ago 3

Oleh: Buya Anwar Abbas*)

Bagi setiap orang yang melakukan suatu pekerjaan, tentu ada motif yang mendorongnya. Salah satu yang sangat menonjol dalam masa kini ialah motif ekonomi. Dengan itu, si pelaku ingin memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal dan biaya yang sekecil-kecilnya.

Dengan adanya motif ekonomi, kita melihat ada orang yang ingin menjual barang dagangannya dengan harga yang semahal-mahalnya agar dia bisa mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, sesuai yang dia harapkan.

Banyak pihak melihat kehadiran motif ekonomi sudah merupakan hukum alam sehingga dianggapnya berlaku universal. Namun, anggapan itu oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara telah dibantah.

Syafruddin Prawiranegara adalah seorang pahlawan bangsa ini. Ia masyhur sebagai tokoh kunci dalam Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), suatu babak yang amat krusial bagi eksistensi negara ini. Sesudah pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda, tokoh kelahiran tahun 1911 terus berkiprah, termasuk sebagai Gubernur Bank Indonesia perdana dan menteri keuangan RI kelima.

Syafruddin menyoroti dengan kritis ide motif ekonomi. Menurut dia, motif ekonomi bukanlah hukum alam, tetapi merupakan hasil dorongan hawa nafsu dari masing-masing individu.

Jadi, motif ekonomi seperti yang dipahami Barat, menurut Sjafruddin, adalah cerminan dari kerakusan dan ketamakan manusia.

Jika ada orang atau kelompok masyarakat yang berbuat dengan berdasar pada motif ekonomi, menurut Syafruddin, mereka itu bersifat biadab.

Oleh karena itu, dalam suatu masyarakat yang dikelola hanya dengan berdasar motif ekonomi, yang akan terbentuk bukanlah masyarakat yang baik dan beradab, melainkan masyarakat yang biadab.

Sebab, mereka dalam tindakan-tindakannya sudah tidak lagi memperhatikan dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan akhlak.

Menurut Sjafruddin, keadaannya berbeda dengan orang-orang yang masih tunduk dan patuh kepada ajaran Islam. Kekuatan yang mendorongnya untuk bertingkah laku dalam bidang ekonomi-bisnis bukanlah motif ekonomi, melainkan ajaran agamanya.

Dalam bahasa yang lebih spesifik, Muslim didorong oleh motif ketakwaannya. Ia memperlakukan manusia dengan sama dan dengan sebaik-baiknya, sebagaimana memperlakukan dirinya sendiri.

Oleh karena itu, menurut Syafruddin, seorang Muslim yang baik tidak akan berbuat berdasar motif ekonomi. Motif demikian sama saja artinya bahwa dia telah menindas sesama manusia dengan cara yang sekejam-kejamnya. Tindakan seperti itu jelas tidak dibenarkan oleh ajaran agama.

*) Dr H Anwar Abbas MM MAg atau yang akrab disapa Buya Anwar Abbas merupakan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Dosen tetap Prodi Perbankan Syariah FEB UIN Syarif Hidayatullah ini juga adalah Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang UMKM, Pemberdayaan Masyarakat, dan Lingkungan Hidup.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |