REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Fitrah Ernawati mengingatkan kepada seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia untuk memenuhi mikronutrien guna mencegah ancaman hidden hunger. Hidden hunger (kelaparan tersembunyi) adalah kondisi malnutrisi di mana asupan energi/kalori tercukupi (terlihat kenyang/sehat), tetapi tubuh kekurangan mikronutrien penting seperti zat besi, zinc, yodium, dan vitamin A.
"Menu yang tinggi dengan energi, belum tentu tinggi mikronutriennya. Banyak makanan padat kalori, tetapi miskin zat besi, zinc, vitamin A. Maka, bukan karena hanya cukup kalori sehingga kenyang, tetapi juga harus dilihat gizi mikronya," katanya dalam diskusi, Jumat (6/3/2026).
Fitrah memberi contoh dengan menu yang harus menjadi standar dalam satu porsi MBG berupa nasi, tumis brokoli dan wortel, tahu goreng, daging masak teriyaki, dan satu buah pisang.
Dalam satu porsi makanan tersebut, jelas dia, sumber zat besi hewani diambil dari daging, sementara nabati diambil dari tahu dan brokoli yang juga mengandung vitamin C sebagai enhancer untuk meningkatkan penyerapan protein nabati. "Bagaimana dengan zinc-nya? Kita lihat ada daging, di dalam daging banyak sekali sumber zinc, dan bagus penyerapannya karena dari hewani," ujarnya.
Menurut Fitrah, menu seperti ini harus menjadi standar dalam MBG. Sebab, zat besi dalam hal ini berperan dalam pembentukan hemoglobin yang akan mengangkut oksigen ke beberapa organ, termasuk otak yang berperan dalam kegiatan belajar anak.
Selanjutnya, zinc juga berperan untuk pembentukan memori jangka panjang, karena bekerja banyak di neurotransmission dan synaptic plasticity. Sementara untuk B12 dan asam folat untuk DNA sintesis dan mielinisasi untuk sistem saraf pusat.
"Jadi paling tidak di dalam MBG, kita harus memperhatikan sumber-sumber dari zat besi, zinc, dan vitamin B12," ucapnya menegaskan.
Fitrah juga menekankan bahwa makanan yang disajikan di MBG harusnya sudah dapat memenuhi AKG dari zat gizi mikro yang penting, sebab kekurangan zat gizi mikro dapat menyebabkan anak mengantuk, kurang konsentrasi, letih, dan cepat lelah. Ia juga mendorong adanya pemberian standar mikronutrien yang sama di seluruh SPPG se-Indonesia.
"Apakah MBG kita itu hanya untuk memenuhi energi, kecukupan energi saja? Asal kenyang, banyak, box-nya itu penuh? Apabila itu tujuannya, maka risiko untuk kekurangan zat gizi mikro akan muncul. Kemudian apakah sudah memenuhi standar gizi mikro? Paling tidak memenuhi AKG (Angka Kecukupan Gizi) dari zat gizi mikro utama tadi, zat besi, zinc, vitamin A, kemudian asam folat dan B12," tutur Fitrah Ernawati.
sumber : Antara

8 hours ago
6






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)
















