Surplus Perdagangan Berlanjut, tapi Impor Melonjak 14 Persen  

4 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus di awal 2026. Di tengah capaian tersebut, laju impor yang meningkat tajam menjadi perhatian.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, surplus neraca perdagangan sepanjang Januari - Februari 2026 mencapai 2,23 miliar dolar AS. Tren positif ini memperpanjang surplus yang telah berlangsung sejak Mei 2020.

 “Neraca perdagangan Indonesia hingga Februari 2026 mencatat surplus 2,23 miliar dolar AS,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).

Surplus tersebut terutama ditopang oleh kinerja perdagangan nonmigas yang mencatat kelebihan 5,42 miliar dolar AS. Sebaliknya, sektor migas masih mengalami defisit sebesar 3,19 miliar dolar AS.

Kinerja ekspor tercatat tumbuh moderat. Nilai ekspor kumulatif hingga Februari 2026 naik 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, didorong oleh sektor industri pengolahan yang meningkat 6,69 persen.

Namun, di sisi lain, impor justru melonjak lebih tinggi. Nilai impor Indonesia mencapai 42,09 miliar dolar AS atau naik 14,44 persen secara tahunan.

Kenaikan impor terutama berasal dari sektor nonmigas yang tumbuh 17,49 persen menjadi 36,93 miliar dolar AS. Sementara impor migas justru turun 3,50 persen menjadi 5,16 miliar dolar AS.

Lonjakan signifikan terlihat pada impor barang modal yang naik 34,44 persen menjadi 9,10 miliar dolar AS. Adapun impor bahan baku dan penolong naik 9,27 persen menjadi 29,40 miliar dolar AS.

Peningkatan impor ini menunjukkan aktivitas produksi dan kebutuhan industri dalam negeri masih kuat. Namun, laju impor yang lebih cepat dibanding ekspor juga menjadi sinyal tekanan terhadap neraca perdagangan ke depan.

Cina, Amerika Serikat, dan India masih menjadi tujuan utama ekspor Indonesia dengan kontribusi sekitar 43,85 persen terhadap total ekspor nonmigas.

Di sisi lain, Cina juga menjadi negara asal impor terbesar dengan porsi 42,46 persen, diikuti Australia dan Singapura. Sejumlah komoditas unggulan menopang surplus nonmigas, antara lain lemak dan minyak hewan atau nabati, bahan bakar mineral, besi dan baja, nikel dan produk turunannya, serta alas kaki.

Meski surplus tetap terjaga, dinamika impor yang meningkat tajam menjadi catatan penting di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Read Entire Article
Food |