Tamu didampingi petugas mengamati mushaf kitab suci Alquran berukuran jumbo 3 X 2 meter di Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (28/2/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ramadhan merupakan bulan yang mulia. Di dalamnya, Allah SWT menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad SAW. Syariat yang terkandung dalam kitabullah ini berlaku bagi seluruh manusia hingga Hari Akhir.
"Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil)" (QS al-Baqarah: 185).
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis qudsi. Allah berfirman, “Barang siapa yang disibukan oleh Alquran daripada berzikir kepada-Ku dan memohon kepada-Ku, maka Aku berikan kepadanya sesuatu yang lebih utama daripada yang Aku berikan kepada orang-orang yang memohon kepada-Ku dan keutamaan kalam Allah di atas seluruh perkataan adalah seumpama keutamaan Allah atas makhluk-Nya.”
Allah Ta’ala menetapkan, malam turunnya Alquran sebagai Lailatul Qadar. Nilai malam itu lebih baik daripada seribu bulan. Karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam agar meraih kemuliaan Lailatul Qadar, yang terjadi pada Ramadhan, khususnya 10 malam terakhir.
Menurut alim ulama, Alquran tidak hanya diturunkan pada Lailatu Qadar. Turunnya kitab suci ini melalui tiga fase berturut-turut. Ada yang sekaligus menurunkan Alquran. Ada pula tahapan yang di dalamnya kitabullah turun secara berangsur-angsur.
Lauh Mahfuzh
Pada dasarnya, Alquran diturunkan dalam tiga fase. Pada tahap pertama, Allah menurunkan Alquran ke Lauh Mahfuzh. Kitab suci ini diturunkan ke sana secara keseluruhan. Dalilnya adalah surah al-Buruj ayat 21-22. Artinya, “Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Alquran yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh.”
Imam al-Hafidz Badruddin al-Aini mengatakan, Lauh Mahfuzh di sisi Allah Ta’ala. Penyebutan itu tak berarti dalam perspektif tempat, melainkan isyarat kesempurnaan keberadaannya dibanding makhluk-makhluk lainnya.
Jumhur ulama biasa mengartikan Lauh Mahfuzh sebagai kitab atau peranti keras raksasa yang menyimpan seluruh data atau cetak biru mengenai segala peristiwa yang terjadi, sejak zaman azali hingga kiamat. Makhluk itu sering disinonimkan dengan Umm al-Kitab (QS ar-Ra'd:39), Kitab Maknun (QS al-Waaqi'ah:77), dan Kitab al-Mubin (QS al-An'aam:59).

8 hours ago
5






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)
















