REPUBLIKA.CO.ID, Pemerintah Iran sukses memblok layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk sejak demonstrasi berubah menjadi kerusuhan di berbagai kota, sampai sekarang. Jika pada masa demo kematian Mahsa Amini pada 2022, Starlink menjadi satu-satunya 'garis kehidupan' untuk warga Iran, kondisinya kali ini jauh berbeda, di mana layanan internet di Iran mati total.
Dilaporkan National Interest, Rabu (21/1/2026), para ahli dari kalangan Barat menduga Iran menggunakan teknologi asal Rusia bernama Kalinka. Teknologi ini dikembangkan oleh Rusia sebagai upaya mengintersep layanan intenet berbasis satelit setelah Rusia menginvasi Ukraina.
Pada saat dominasi militer AS dan efektivitas Angkatan Bersenjata Ukraina sangat bergantung pada kestabilan layanan komunikasi berbasis satelit, Rusia dan China merespons dengan upaya intensif pengembangan teknologi guna menetralisir sistem komunikasi satelit itu.
Selama beberapa dekade, satelit-satelit militer AS diketahui berdimensi raksasa dan rawan diserang musih lantaran kompleksitas teknologinya. Hingga kemudian perusahaan Space X milik Elon Musk menciptakan sistem bernama Starlink, yang memberikan jaminan eksistensi jaringan, bahkan jika beberapa satelit mati beroperasi, sistem jaringan Starlink tidak bisa dilumpuhkan sepenuhnya.
Pada era perang Rusia-Ukraina, Starlink memberikan keuntungan di bidang intelijen dan kontrol pasukan bagi Ukraina. Space X bahkan mengembangkan Starshield, Starlink versi khusus untuk militer dengan sistem perlindungan dari serangan siber yang lebih canggih.
Pada saat bersamaa, Rusia dan China merespons Starlink dengan mengembangkan teknologi sebagai upaya intersep. China menciptakan teknologi laser yang mampu membutakan sensor Starlink dan satelit-satelit mini pengintai yang secara fisik dapat menghancurkan perangkat terkait dengan Starlink.
Sementara Rusia, bekerja membangun senjata yang mampu menciptakan awan serpihan yang secara simultaneously mampu menghancurkan ratusan satelit, dan sistem pengganggu sinyal berbasis didarat yang disebut sebagai 'Kalinka'.
Menurut para ahli, kemungkinan Iran menggunakan teknologi bantuan dari Rusia dan China itu mengindikasikan globalisasi dari konfrontasi teknologi di luar angkasa. Dengan memanfaatkan Kalinka dan teknologi canggih lain, Iran berhasil membatasi akses komunikasi para demonstran hingga meredam kerusuhan.
Pejabat setempat Iran pekan lalu mengeklaim bahwa pembatasan akses internet "melemahkan secara signifikan koneksi dalam negeri yang dimiliki jaringan oposisi di luar negeri" serta melemahkan operasional "sel-sel teror". Pembatasan layanan komunikasi diberlakukan setelah unjuk rasa akibat kesulitan ekonomi berubah menjadi kerusuhan besar pada 8 Januari.
Pejabat setempat mengatakan bahwa pemerintah Iran "sepenuhnya sadar akan kewajiban HAM" terhadap warganya dan telah mengambil "semua langkah yang diperlukan untuk menahan diri sekuat tenaga", sembari memenuhi "tugasnya melindungi masyarakat serta menjaga ketertiban umum dan keamanan nasional".
sumber : Antara, Anadolu

1 month ago
27


































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)













