REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sutradara Yosep Anggi Noen memilih pendekatan populer dalam mengadaptasi novel Laut Bercerita karya Leila S Chudori ke layar lebar. Pendekatan tersebut dipilih untuk menjembatani kisah berlatar peristiwa 1998 dengan penonton masa kini.
Anggi mengatakan, film yang mengangkat kisah aktivisme mahasiswa tersebut tidak dibuat sebagai film sejarah yang kaku. Unsur budaya populer justru dimanfaatkan untuk membangun kedekatan emosional dengan penonton.
"Kami membuat film ini pendekatannya populer. Jadi bukan pendekatan film sejarah yang sangat kaku, tapi ini film populer," ujar Anggi saat ditemui di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, Jumat (21/8/2026).
Menurut Anggi, unsur pop culture menjadi salah satu cara untuk membuat kisah dalam Laut Bercerita terasa dekat bagi penonton lintas generasi. Film tersebut memadukan kisah politik dengan cerita cinta dan keluarga, serta menghadirkan musik yang dikenal publik.
Ia menyebut sejumlah lagu, termasuk karya Efek Rumah Kaca dan Iwan Fals, digunakan untuk memperkuat suasana film. Bahkan, terdapat lagu populer dari masa kini yang ditempatkan dalam film dengan latar waktu 1990-an.
"Kisah cinta ada, keluarga ada. Punya peluang untuk menggetarkan hati. Keluarga, cinta, politik. Tergantung apa yang penonton bawa sebagai referensi saat menontonnya," kata Anggi.
Anggi yang masih duduk di bangku SMP ketika peristiwa 1998 terjadi mengaku mendapatkan referensi budaya pop yang lebih luas seiring bertambahnya usia, termasuk melalui buku dan film. Karena itu, ia melihat film sebagai medium yang dapat menjadi jendela untuk memperkenalkan suatu peristiwa kepada penonton.
Terkait kemungkinan film tersebut mendapat sorotan karena mengangkat isu aktivisme mahasiswa dan peristiwa politik, Anggi menyebut karya seni merupakan produk interpretasi. "Saya kira yang bisa dilakukan seniman adalah jadi jendela untuk suatu hal. Nanti mau dipersepsikan apa pun, itu dipegang pemilik atau pembuat film," ujarnya.
Ia juga menyadari Laut Bercerita pada akhirnya merupakan produk budaya populer yang hadir dalam industri komersial. "Ini produk pop culture. Mau enggak mau ini adalah bentuk bisnis dan komersial yang tayang di bioskop dan penonton harus membayar untuk melihatnya," kata dia.
Menurut Anggi, kekuatan utama film tersebut tetap berada pada novel yang menjadi sumber adaptasinya. Novel Laut Bercerita telah berulang kali dicetak dan dibaca oleh berbagai generasi.
"Kekuatan film ini adalah di bukunya. Buktinya sudah berulang kali dicetak ulang, lintas generasi yang membacanya. Keponakan saya bahkan baca bukunya," ujar Anggi.
Ia menilai daya tahan novel tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi film untuk hadir sebagai jembatan antara karya sastra dan penonton yang lebih luas.
Dalam proses produksi, tantangan terbesar bagi Anggi adalah menghadirkan detail periode 1990-an secara meyakinkan. Menurut dia, produksi film periodik membutuhkan persiapan dan tenaga besar karena setiap detail visual harus diperhatikan.
"Detail itu menguras energi. Timnya harus yang excellent," katanya.
Film yang mengambil latar Yogyakarta tersebut antara lain melakukan pengambilan gambar di Semarang, Jakarta, serta menggunakan studio. Bahkan, untuk satu adegan berlatar ladang jagung, tim produksi sengaja menanam jagung sejak sekitar tiga bulan sebelumnya agar mendapatkan tinggi tanaman yang sesuai dengan kebutuhan adegan.
Bagi Anggi, upaya tersebut merupakan bagian dari konsekuensi ketika membawa sebuah cerita berlatar masa lalu ke medium sinema. Apa yang terdapat dalam novel kemudian diterjemahkan dan diolah kembali menjadi bahasa film agar dapat diterima oleh penonton masa kini.

3 hours ago
4









































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5692679/original/097423800_1778569231-1_1_.jpg)






:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547403/original/034869900_1775458279-pexels-crysnet-14537683.jpg)