Pengunjung berbelanja di Mal Kuningan City, Jakarta, Kamis (14/8/2025). Menurut pakar, Ramadhan kerap menjadi periode rawan terjadinya overbuying karena banyak pelaku usaha yang menawarkan promo besar dan diskon.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama Ramadhan, umat Islam dilatih untuk menahan hawa nafsu, tidak hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari berbagai perilaku berlebihan. Dalam praktiknya, tantangan justru kerap muncul dalam bentuk perilaku konsumtif yang tidak disadari, salah satunya overbuying.
Pakar perilaku konsumen IPB University, Prof Megawati Simanjuntak, menilai bahwa Ramadhan kerap menjadi periode rawan terjadinya overbuying karena banyak pelaku usaha yang menawarkan promo besar dan diskon. Menurutnya, belanja berlebih sangat berlawanan dengan esensi puasa yang sejatinya mengajarkan kesederhanaan.
"Overbuying adalah perilaku membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Perilaku ini sering terjadi saat Ramadhan dan lebih banyak membawa dampak negatif," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (28/2/2026).
la mencontohkan perilaku konsumtif paling sering terlihat menjelang waktu berbuka puasa. Berbagai hidangan disiapkan secara berlebihan, mulai dari makanan berat hingga aneka takjil seperti gorengan, kolak, es buah, dan kurma. Ujungnya banyak makanan yang tersisa menjadi limbah.
"Sering kali makanan yang tersedia di meja berbuka jumlahnya jauh melebihi yang diperlukan tubuh. Ini tidak baik, baik dari sisi kesehatan maupun pengeluaran," kata dia.
Prof Megawati menjelaskan, kondisi lapar setelah seharian berpuasa kerap memicu apa yang disebut "lapar mata". Keinginan untuk membeli banyak makanan muncul bukan karena kebutuhan, melainkan dorongan emosional sesaat.

12 hours ago
5

































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)












