
Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra
REPUBLIKA.CO.ID, Dunia belakangan ini seperti berkumpul di satu nama yang sempit tetapi menentukan: Selat Hormuz. Ia bukan sekadar garis air di peta, melainkan simpul di mana kegelisahan zaman mengendap—tempat arus minyak, kepentingan, dan kecemasan bertemu dalam diam yang tegang. Setiap kapal yang melintas seolah membawa lebih dari sekadar muatan; ia mengangkut kemungkinan krisis, bayang-bayang konflik, dan pertanyaan lama yang belum pernah benar-benar selesai: siapa yang sesungguhnya mengendalikan arah dunia?
Nama “Hormuz” yang kini kita dengar sebagai selat, dahulu pernah berdiri sebagai manusia: Hormuz. Ia bukan sekadar prajurit, melainkan wajah dari Kekaisaran Sassaniyah yang telah lama percaya bahwa dunia bisa dijaga dengan kekuatan dan keteraturan. Di seberangnya, berdiri seorang yang datang dari arah yang tidak pernah benar-benar diperhitungkan oleh imperium besar: Khalid bin Walid, seorang yang membawa bukan hanya pedang, tetapi keyakinan yang mengubah cara manusia melihat kekuasaan.
Riwayat tentang pertemuan mereka mengalir dari pena para penulis sejarah seperti Al-Tabari, Al-Baladhuri, hingga Ibnu Katsir. Tidak semua sepakat pada detail, tetapi mereka seakan bersepakat pada satu hal: bahwa pada suatu pagi di tanah Irak selatan, dalam pusaran Pertempuran Rantai, dua dunia pernah saling menatap dari jarak yang begitu dekat—jarak yang hanya bisa ditempuh oleh satu ayunan pedang.
Bayangkan sejenak tanah itu: angin yang membawa debu tipis, barisan tentara Persia yang berdiri dalam formasi kaku, sebagian diikat rantai agar tidak mundur—sebuah simbol keberanian yang sekaligus menyimpan ketakutan. Di hadapan mereka, pasukan yang lebih ringan, lebih lincah, dan entah bagaimana lebih tenang. Tidak ada kemewahan yang berlebihan, tetapi ada sesuatu yang tak mudah dijelaskan—semacam keteguhan yang tidak bergantung pada jumlah.
Hormuz melangkah maju terlebih dahulu. Ia tidak hanya membawa dirinya, tetapi membawa kehormatan sebuah imperium yang telah lama menang. Tantangannya adalah bahasa yang dikenal oleh zaman itu: satu lawan satu, untuk membuktikan siapa yang layak memimpin pertempuran. Dan Khalid bin Walid menerima, tanpa jeda yang berarti, seolah ia memang sudah menunggu saat itu sejak langkah pertama ia memasuki medan.
Ketika keduanya berhadapan, waktu seperti menahan napasnya. Tidak ada sorak, tidak ada gemuruh—hanya dua manusia yang berdiri di antara masa lalu dan masa depan. Pedang terhunus, tetapi yang sebenarnya sedang diuji bukan hanya kekuatan lengan, melainkan cara masing-masing memaknai dunia.
Benturan pertama terdengar singkat, tetapi gema maknanya panjang. Hormuz bertarung dengan disiplin yang diwariskan oleh generasi panjang kekaisaran; Khalid bertarung dengan keyakinan yang baru, tetapi justru membuatnya tidak ragu. Namun sejarah, seperti yang sering kita temui, jarang memberi kita kisah yang bersih dan lurus. Dalam beberapa riwayat, saat duel itu berlangsung, bayang-bayang bergerak dari sisi pasukan Persia—sebuah pelanggaran terhadap kesepakatan yang seharusnya dijaga. Di titik itulah medan berubah, dari kehormatan menjadi kekacauan yang hampir menelan satu nama yang hari ini kita kenal sebagai legenda.
Lalu datang Al-Qa’qa ibn Amr, bukan sebagai pahlawan yang mencari panggung, tetapi sebagai bagian dari arus peristiwa yang tidak bisa ditunda. Apa yang terjadi setelahnya diceritakan dengan variasi oleh para penulis, tetapi ujungnya sama: Hormuz jatuh. Dan bersama jatuhnya satu manusia, sesuatu yang lebih besar ikut retak—kepercayaan bahwa sebuah kekuasaan akan selalu bertahan hanya karena ia pernah besar.
Kita mungkin tergoda untuk membaca kisah ini sebagai kemenangan satu pihak atas pihak lain. Tetapi jika kita berhenti sedikit lebih lama, ada pelajaran yang lebih sunyi, yang justru lebih relevan dengan dunia hari ini. Bahwa kekuatan sering kali tidak runtuh karena diserang dari luar, melainkan karena ia tidak lagi mampu memahami perubahan yang datang. Bahwa keberanian bukan hanya soal maju ke depan, tetapi juga tentang membaca zaman dengan jujur. Dan bahwa setiap pertarungan, sekecil apa pun bentuknya, selalu menyimpan konsekuensi yang jauh melampaui dirinya sendiri.
Hari ini, ketika nama Selat Hormuz kembali menggema dalam percakapan global, kita seperti sedang menonton ulang sebuah panggung lama dengan aktor yang berbeda. Dulu ia adalah duel dua manusia; kini ia adalah tarik-menarik kepentingan banyak negara. Dulu pedang yang berbicara; sekarang ekonomi, energi, dan strategi yang saling mengunci. Tetapi pola dasarnya tetap sama: ada yang ingin mempertahankan, ada yang ingin mengubah, dan ada titik sempit yang menjadi penentu arah sejarah.
Mungkin karena itu, kisah tentang Khalid bin Walid dan Hormuz tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia hanya menunggu untuk dibaca kembali, setiap kali dunia merasa dirinya sedang berada di ambang sesuatu yang besar. Dan dari sana, kita diingatkan dengan cara yang halus namun tegas: bahwa setiap kekuatan, sekuat apa pun, pada akhirnya akan sampai pada satu momen ketika ia harus berhadapan—bukan hanya dengan musuhnya, tetapi dengan perubahan itu sendiri.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

8 hours ago
6






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)

















