REPUBLIKA.CO.ID, BANJARBARU, – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Selatan memastikan rumah sakit umum daerah (RSUD) masih mampu memberikan pelayanan optimal meskipun terjadi lonjakan tajam kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di provinsi tersebut. Peningkatan signifikan ini terjadi dalam empat minggu terakhir pasca kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kualitas udara memburuk.
Kepala Dinkes Kalsel, Diauddin, menyatakan bahwa rata-rata kasus ISPA sebelum karhutla berada pada kisaran 5.000 kasus per minggu. Angka tersebut kemudian melonjak menjadi lebih dari 7.000 kasus per minggu seiring dengan meningkatnya intensitas kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah.
“Memang ada lonjakan, karena kalau kita bandingkan dari minggu sebelum adanya karhutla dengan minggu sesudah adanya karhutla, ada kenaikan kasus ISPA secara keseluruhan,” ujar Diauddin usai mendampingi kunjungan kerja Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka di RSD Idaman Banjarbaru, Kamis (10/9).
Kapasitas Rumah Sakit Masih Terkendali
Meskipun terjadi peningkatan kasus, Diauddin menegaskan bahwa kondisi ini belum menyebabkan rumah sakit kewalahan. Ia membandingkan situasi saat ini dengan masa pandemi COVID-19, di mana fasilitas kesehatan sempat menghadapi tekanan luar biasa. Untuk penanganan ISPA akibat karhutla ini, ketersediaan oksigen, obat-obatan, dan tempat tidur masih sangat mencukupi.
“Kalau COVID dulu kita melihat sampai rumah sakit kewalahan, fasilitas pelayanan kesehatan kewalahan. Kalau saat ini pasokan oksigen, obat-obatan maupun tempat tidur kita masih bisa menanggulanginya,” tuturnya.
Diauddin menambahkan, peningkatan kasus terjadi baik pada pasien yang mendapatkan layanan rawat jalan maupun masyarakat yang harus menjalani perawatan inap di rumah sakit. Kelompok yang paling rentan terdampak adalah anak-anak, khususnya pada usia satu hingga empat tahun, sehingga membutuhkan perhatian khusus dalam penanganan medis.
Penanganan di RSD Idaman Banjarbaru
Senada dengan hal tersebut, Direktur RSD Idaman Banjarbaru, dr. Danny Indrawardhana, mengonfirmasi bahwa pihaknya masih mampu mengendalikan penanganan pasien ISPA. Peningkatan jumlah kasus terpantau sejak minggu ke-29 hingga minggu ke-34, namun tim dokter bekerja maksimal sehingga tidak ditemukan pemberatan kondisi yang signifikan pada pasien.
“Alhamdulillah kita bisa kendalikan, tim dokter kami bekerja dengan maksimal. Kemudian pasien tidak ada pemberatan yang signifikan sebenarnya, jadi masih bisa kita kontrol,” kata Danny.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan terapi seperti cairan, obat-obatan melalui infus, serta oksigen masih dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien. Pada hari kunjungan Wapres Gibran, RSD Idaman Banjarbaru tercatat menangani lima pasien ISPA yang menjalani rawat inap, di mana empat di antaranya sempat ditinjau langsung oleh Wapres.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

5 hours ago
8
















































