Dinkes Sumut Deteksi Dini Gangguan Jiwa via Cek Kesehatan Gratis, Remaja Paling Banyak Alami Cemas

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN, – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) kini memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk melakukan deteksi dini terhadap gangguan kejiwaan. Program ini tidak hanya menyasar kesehatan fisik, tetapi juga mengidentifikasi indikasi masalah kesehatan mental warga sejak awal.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Provinsi Sumut, Hery Valona Bonatua Ambarita, mengungkapkan bahwa dari sekitar 2,8 juta masyarakat Sumut yang telah mengikuti skrining kesehatan, ditemukan indikasi Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK). Mereka yang terindikasi umumnya mengalami gejala kecemasan dan stres.

“Saat skrining kesehatan, kita temukan masyarakat mengalami cemas dan stres, namun masih dalam tahap rentang awal. Semua orang bisa mengalami hal ini, tapi harus dikendalikan agar tidak menjadi gangguan jiwa berat,” ujar Hery dalam temu pers di Kantor Gubernur Sumut, Jumat.

Remaja dan Tekanan Ekonomi Jadi Sorotan

Hasil skrining menunjukkan bahwa kelompok remaja menjadi yang paling banyak terindikasi mengalami kecemasan dan stres di Sumatera Utara. Faktor penyebabnya antara lain beban tugas sekolah yang tinggi. Sementara itu, pada kelompok dewasa, tekanan banyak dipicu oleh persoalan ekonomi seperti kebutuhan biaya pendidikan dan tuntutan hidup.

Kondisi ini menjadi penanda bahwa isu kesehatan mental merupakan tantangan serius yang perlu ditangani secara sistematis dan berkelanjutan di tingkat kabupaten/kota se-Sumut. Hery menjelaskan, Kementerian Kesehatan RI memperkirakan sekitar 1,2 persen atau berjumlah 28 juta masyarakat Indonesia mengalami gejala kecemasan dan stres yang berpotensi menjadi masalah kejiwaan jika tidak ditangani dengan baik.

“Artinya, dari 10 orang skrining terdapat satu hingga dua orang ODMK. Kondisi ini masih situasional, makanya harus dikendalikan dengan meningkatkan pertahanan diri juga edukasi dan terapi,” kata Hery.

Dua Pendekatan Penanganan

Untuk menangani persoalan tersebut, pemerintah menjalankan dua pendekatan. Pertama, melakukan deteksi dan penanganan dini terhadap ODMK agar tidak berkembang menjadi gangguan jiwa berat. Kedua, memberikan pelayanan komprehensif bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang membutuhkan penanganan dokter spesialis jiwa, terapi intensif, hingga perawatan di rumah sakit.

“Saat ini kami diberi target melakukan skrining bagi 22 ribu orang terkait kesehatan jiwa. Sekarang sudah mencapai 13 ribu lebih atau 67 persen yang sudah diskrining. Kami yakin pada Desember nanti kita dapat mencapai target,” ujarnya.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Food |