Halal di Meja Makan, Halah di Meja Rapat

5 hours ago 2

Image Raden Arfan Rifqiawan

Curhat | 2026-02-23 18:43:30

Di negeri ini, kita punya radar halal yang sangat canggih. Lebih sensitif daripada alat pendeteksi logam di bandara. Di meja makan, kita bisa berubah menjadi detektif. Komposisi dibaca dengan serius. Label diperiksa dengan mata menyipit. Jika ada sedikit keraguan, sendok langsung berhenti di udara. Kita rela lapar, asal tidak salah suap.

Namun anehnya, radar itu kadang mendadak kehilangan sinyal ketika berpindah dari meja makan ke meja rapat. Kalau urusannya babi, kita tegas. Kalau urusannya botol miras, kita lantang. Tapi kalau urusannya “fee kecil”, “uang lelah”, atau “tanda terima kasih”, kita sering berubah menjadi ahli tafsir situasional.

Padahal dalam Al-Qur’an, memakan harta secara batil tidak diberi catatan kaki yang berbunyi “kecuali kalau sudah kebiasaan”.

Kita begitu takut yang haram masuk ke perut. Tapi tidak selalu sama takutnya jika yang haram masuk ke rekening. Seolah-olah dosa punya ukuran pencernaan. Yang lewat lambung berbahaya. Yang lewat transfer bank terasa administratif saja.

Ironinya, dampak keduanya berbeda jauh. Mengonsumsi yang haram mungkin berdampak pada diri sendiri. Korupsi berdampak pada banyak orang. Satu merusak tubuh. Yang lain merusak sistem, pelayanan, bahkan masa depan.

Ramadhan sebenarnya latihan yang sangat radikal. Kita menahan yang halal. Air halal, nasi halal, kopi halal. Semua ditinggalkan demi ketaatan. Tetapi dalam kehidupan sosial, sebagian orang justru kesulitan meninggalkan yang jelas haram. Seolah-olah menahan haus lebih mudah daripada menahan peluang.

Barangkali masalahnya bukan pada fiqh makanan, tetapi pada fiqh amanah. Kita hafal daftar bahan haram, tetapi kurang menghafal konsekuensi pengkhianatan. Kita takut perut ternodai, tetapi kurang takut kepercayaan ternodai.

Sudah saatnya kita menaikkan standar kesalehan. Dari sekadar sensitif pada label halal, menjadi sensitif pada sumber penghasilan. Dari sekadar memastikan makanan bersih, menjadi memastikan keputusan bersih. Dari sekadar menjaga identitas, menjadi menjaga integritas.

Karena pada akhirnya, di hadapan Allah, tidak ada perbedaan jalur masuk. Baik lewat mulut maupun lewat rekening, pertanyaannya tetap sama. Halal atau tidak.

Dan pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan senyum diplomatis.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Food |