Gabrielle Samantha
Teknologi | 2026-06-29 01:28:57
Sumber: MarkSwallow/Getty Images
Baru-baru ini saya diminta untuk membeli sebuah SD card untuk kamera. Kapasitasnya tidak terlalu besar dan spesifikasinya pun sama seperti beberapa tahun lalu. Namun, harganya terasa lebih tinggi dari yang saya ingat. Awalnya saya mengira penyebabnya hanyalah inflasi atau nilai tukar rupiah. Setelah menelusuri lebih jauh, saya menemukan bahwa jawabannya jauh lebih kompleks.
Selama ini AI identik dengan chatbot, generator gambar, atau asisten virtual. Padahal, di balik setiap jawaban yang dihasilkan AI terdapat infrastruktur komputasi raksasa yang bekerja tanpa henti. Model AI modern dilatih menggunakan miliaran bahkan triliunan data yang harus disimpan, dibaca, dan diproses secara cepat. Hal tersebut menciptakan lonjakan kebutuhan terhadap media penyimpanan berkecepatan tinggi, terutama solid-state drive (SSD) berbasis NAND Flash. McKinsey memproyeksikan bahwa penggunaan generative AI akan menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan SSD hingga akhir dekade ini.
Di sinilah letak hubungan yang sering tidak disadari masyarakat umum. SSD yang digunakan di pusat data AI dan SD card yang kita gunakan pada kamera, drone, maupun ponsel sama-sama bergantung pada teknologi memori NAND Flash. Walaupun bentuk produknya berbeda, bahan dasar semikonduktor yang digunakan berasal dari industri yang sama.
Ketika perusahaan teknologi berlomba membangun pusat data AI, permintaan terhadap NAND Flash meningkat secara signifikan. Produsen memori cenderung memprioritaskan lini produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi, seperti enterprise SSD untuk server AI. Akibatnya, kapasitas produksi untuk produk konsumen menjadi relatif lebih terbatas. TrendForce melaporkan bahwa meningkatnya permintaan penyimpanan AI telah mendorong kenaikan harga NAND Flash sekaligus mengubah prioritas pemasok ke pasar server yang lebih menguntungkan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga mengubah arah industri semikonduktor dunia. Dulu, kebutuhan utama penyimpanan data berasal dari komputer dan ponsel pribadi. Kini, pusat data AI menjadi pelanggan terbesar yang membutuhkan kapasitas penyimpanan jauh lebih besar dengan spesifikasi yang jauh lebih tinggi.
Dampaknya mulai terasa hingga tingkat konsumen. Harga SSD, kartu memori, dan berbagai perangkat penyimpanan menjadi lebih sensitif terhadap dinamika pasar memori global. Sejumlah analis memperkirakan tekanan terhadap pasokan memori masih akan berlanjut dalam beberapa tahun ke depan seiring meningkatnya pembangunan pusat data AI, sementara kapasitas manufaktur semikonduktor tidak dapat diperluas dalam waktu singkat. Meski demikian, AI bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi harga SD card. Fluktuasi nilai tukar, strategi produksi produsen memori, serta kondisi rantai pasok global juga memiliki peran penting. Namun, lonjakan kebutuhan infrastruktur AI telah menjadi salah satu faktor baru yang semakin memengaruhi dinamika industri memori dan pada akhirnya ikut memengaruhi harga produk penyimpanan yang digunakan masyarakat.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa teknologi tidak pernah berdiri sendiri. Ketika seseorang menggunakan AI untuk membuat presentasi, menerjemahkan dokumen, atau menghasilkan gambar, sebenarnya terdapat rantai pasok global yang bekerja di belakang layar. Permintaan terhadap layanan digital akhirnya memengaruhi industri semikonduktor, kemudian berdampak pada harga komponen elektronik yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Pada akhirnya, kenaikan harga sebuah SD card mungkin terlihat sebagai persoalan kecil. Namun, di balik benda berukuran beberapa sentimeter itu tersimpan cerita tentang perubahan besar dalam perekonomian digital dunia. Revolusi AI tidak hanya menghasilkan model bahasa yang semakin cerdas, tetapi juga mengubah industri memori global hingga memengaruhi barang yang setiap hari ada di tangan kita. Dari sebuah kartu memori, kita dapat melihat bagaimana teknologi, ekonomi, dan kehidupan masyarakat ternyata saling terhubung lebih erat daripada yang selama ini kita bayangkan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

3 hours ago
3



























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522741/original/006886600_1772775055-8591.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509281/original/071189200_1771674324-pexels-cottonbro-5712686.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524652/original/016596800_1772963486-Foto_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5518113/original/047179400_1772464159-WhatsApp_Image_2026-03-02_at_18.43.33.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5532552/original/024344100_1773655185-pexels-undo-kim-2153633398-34628051.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527962/original/042466100_1773221151-pexels-pixabay-248509.jpg)

