REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Politikus senior Idrus Marham menilai Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 harus menjadi momentum untuk menentukan arah organisasi dalam memasuki abad kedua. Ia menekankan, Muktamar NU tidak semestinya hanya berkutat pada pemilihan elite organisasi, tetapi juga membahas arah dan masa depan NU.
Hal itu disampaikan Idrus dalam bedah bukunya Nahdlatul Ulama dan Tantangan Peradaban. Menurut Idrus, tantangan terbesar dalam menghadapi Muktamar NU ke-35 adalah kejujuran para kandidat dalam membaca kemampuan dan kompetensi dirinya masing-masing.
"Jadi justru di sekarang ini ujian terberat ya ujian terberat menghadapi mutamar ini adalah ada kejujuran dari kandidat-kandidat itu untuk membaca dirinya jangan berbuat jujur dibalik ketidakjujuran nah ini yang penting," kata Idrus, Senin (24/8) malam.
Ketika disinggung mengenai siapa sosok yang menurutnya masuk kriteria pemimpin NU ia tak menyebutkan salah satu nama. Namun, Ia meminta kandidat yang maju dalam kontestasi kepemimpinan NU tidak memaksakan diri apabila memang tidak memiliki kemampuan yang dibutuhkan.
"Kalau memang mampu kita katakan mampu kalau tidak ya tidak. Nah ini kan sekarang ini banyak gitu ya," katanya.
Idrus juga menilai Muktamar NU ke-35 harus mengedepankan musyawarah mufakat. Namun, menurutnya, prinsip tersebut hanya dapat berjalan apabila para kandidat dan pendukungnya memiliki kejujuran dalam melihat kapasitas masing-masing.
"Jadi di sini nah oleh karena itu tadi ada pikiran bahwa mungkin peradaban tertinggi itu adalah musyawarah mufakat, tetapi ingat musyawarah mufakat itu hanya bisa berjalan apabila masing-masing kandidat dan juga para pendukungnya itu memiliki sebuah kejujuran utamanya di dalam membaca kemampuan dan kompetensi diri menjadi pengurus sekira itu yang paling pokok," ujar Idrus.
Muktamar Jangan Hanya Bicara Figur
Idrus menegaskan dirinya tidak ingin menentukan siapa sosok yang paling layak memimpin NU. Menurutnya, pembahasan mengenai kepemimpinan seharusnya dimulai dari sistem dan kriteria, bukan dari nama figur.
"Oh jadi gini ya Sekali lagi saya selalu berpikir mulai dari sistem bukan dari orang karena kalau kita berpikir dari orang pasti subjektif," katanya.
Ia mengatakan, NU membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga mampu menghasilkan konsep dan karya yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
"Seperti apa kriterianya? Ya tentu tidak hanya sekedar memiliki kemampuan intelektualitas. Jadi apa? Tetapi juga diperlukan kemampuan-kemampuan lain," ujar Idrus.
Menurutnya kepengurusan NU hasil Muktamar ke-35 nantinya harus mampu menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi umat.
"Kalau kita ingin lebih khusus bahwa sebaik-baik and kepengurusan NU ke depan adalah kepengurusan yang mampu berkreasi melakukan karya dan karyanya itu bermanfaat untuk umat," katanya.
Karena itu, Idrus berharap para peserta Muktamar NU ke-35 dapat menentukan kepemimpinan berdasarkan kapasitas, komitmen, serta konsep yang jelas untuk membawa NU ke depan.
"Nah, ini saya kira yang dan ini hanya bisa dilakukan oleh pemimpin-pemimpin yang terpilih nanti betul-betul memiliki komitmen. Yang memiliki konsep yang dapat diimplementasikan dapat dilaksanakan," ujar Idrus.
Ia juga mengingatkan agar Muktamar tidak berubah menjadi arena perebutan kepentingan semata. Menurutnya, memasuki abad kedua, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus tetap berpijak pada nilai dan tradisi organisasi.

5 hours ago
4







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5692679/original/097423800_1778569231-1_1_.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547403/original/034869900_1775458279-pexels-crysnet-14537683.jpg)




