REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Konsumsi minuman yang mengandung gula tambahan dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker lambung hingga hampir 2,5 kali lipat. Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipublikasikan di jurnal Gastro Hep Advances.
Penelitian ini menjadi perhatian karena minuman manis selama ini lebih sering dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti kerusakan gigi. Namun, para peneliti menemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman berpemanis gula dan risiko kanker lambung.
"Ini adalah penelitian pertama yang menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi minuman berpemanis gula dan kanker lambung pada populasi di Amerika Serikat," kata peneliti sekaligus ahli gastroenterologi dan epidemiologi di Mass General Brigham Cancer Institute, dr Andrew Chan, dilansir laman US News, Senin (24/8/2026).
Menurut Chan, kanker lambung merupakan penyebab kematian akibat kanker terbesar kelima di dunia. Meski demikian, hingga kini masih relatif sedikit yang diketahui mengenai bagaimana pola makan dapat berkontribusi terhadap munculnya kanker tersebut.
Dalam penelitian tersebut, peneliti menganalisis data lebih dari 112 ribu tenaga kesehatan yang mengikuti dua proyek penelitian jangka panjang. Kedua penelitian itu mengumpulkan informasi secara rinci mengenai pola makan, gaya hidup, serta kondisi kesehatan para peserta. Para peserta kemudian dipantau selama puluhan tahun.
Dalam periode pemantauan tersebut, sebanyak 278 peserta diketahui mengalami kanker lambung. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan risiko berdasarkan tingkat konsumsi minuman berpemanis gula.
Peserta yang mengonsumsi sedikitnya satu minuman berpemanis gula setiap hari memiliki risiko kanker lambung hampir 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan peserta yang mengonsumsi minuman tersebut kurang dari satu kali dalam sebulan. Jenis minuman yang termasuk dalam kategori minuman berpemanis gula dalam penelitian tersebut antara lain limun, minuman bersoda, dan minuman olahraga (sport drink).
Selain konsumsi minuman berpemanis gula secara keseluruhan, peneliti juga menemukan hubungan antara asupan fruktosa yang lebih tinggi dan peningkatan risiko kanker lambung. Fruktosa merupakan pemanis utama yang terdapat dalam minuman-minuman berpemanis gula tersebut.
Namun, temuan berbeda terlihat pada minuman yang menggunakan pemanis buatan. Peneliti tidak menemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman berpemanis buatan dan peningkatan risiko kanker lambung.
Para peneliti belum menyimpulkan secara pasti mekanisme yang menyebabkan minuman berpemanis gula berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker lambung. Peneliti menduga hubungan tersebut mungkin dipengaruhi oleh sejumlah kondisi yang mendasari.
"Peningkatan risiko kanker mungkin disebabkan juga oleh kenaikan berat badan, meningkatnya resistensi insulin, ketidakseimbangan hormon, serta peradangan," kata peneliti.
Sebelumnya, penelitian tahun 2019 menemukan bahwa minuman manis meningkatkan risiko kematian dini akibat penyakit tidak menular seperti serangan jantung dan beberapa tipe kanker. Studi dari TH Chan School of Public Health Universitas Harvard bulan lalu menganalisis data dari 37 ribu laki-laki dan 80 ribu perempuan selama 30 tahun. Mereka menemukan bahwa semakin banyak minuman manis yang dikonsumsi seseorang, semakin besar pula risiko kematian dini bagi orang tersebut.

3 hours ago
3







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5692679/original/097423800_1778569231-1_1_.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547403/original/034869900_1775458279-pexels-crysnet-14537683.jpg)




