REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, pelaksanaan APBN di Provinsi Jawa Barat (Jabar) mencatat surplus regional Rp 22,02 triliun hingga Juli 2026. Surplus tersebut berasal dari pendapatan negara Rp 85,61 triliun, sementara belanja negara mencapai Rp 63,59 triliun.
Pendapatan negara Jabar juga tumbuh 6,81 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari sisi perpajakan, penerimaan mencapai Rp 81,30 triliun atau tumbuh 7,35 persen secara tahunan. Purbaya mengatakan, capaian tersebut harus tercermin dalam aktivitas ekonomi dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
"Kita ingin memastikan APBN di Jawa Barat tidak berhenti pada laporan penyerapan anggaran, tetapi hadir dalam bentuk aktivitas ekonomi, dukungan usaha, pembangunan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," kata Purbaya saat meninjau pelaksanaan APBN Jabar di Kota Bandung, Senin (24/8/2026).
Dari penerimaan perpajakan, pajak menyumbang Rp 63,84 triliun atau tumbuh 10,41 persen. Sementara penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp 17,46 triliun. Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar penerimaan pajak dengan Rp 30,60 triliun atau 47,93 persen dari total penerimaan pajak Jabar.
Di sisi belanja, kata dia, realisasi APBN mencapai Rp 63,59 triliun. Meski secara tahunan belanja negara terkontraksi 1,45 persen, belanja kementerian/lembaga (K/L) justru tumbuh 28,86 persen menjadi Rp26,61 triliun.
Kenaikan terutama terjadi pada belanja modal yang mencapai Rp 3,11 triliun atau melonjak 115,37 persen dibandingkan Juli 2025. Adapun Transfer ke Daerah (TKD) dan Dana Desa terealisasi Rp 36,98 triliun atau 59,82 persen dari pagu.
Purbaya menjelaskan, APBN harus memberikan dampak langsung terhadap perekonomian. Salah satunya melalui pembiayaan sektor usaha. Hingga Juli 2026, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jabar mencapai Rp 23,24 triliun kepada 357,3 ribu debitur.
Sementara pembiayaan Ultra Mikro (UMi) mencapai Rp 1,31 triliun kepada 226,4 ribu debitur. "Setiap rupiah APBN harus terus bekerja, bukan hanya tercatat sebagai angka realisasi, tetapi benar-benar memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat," ujar Purbaya.
Kinerja APBN tersebut berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi Jabar. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jabar tumbuh 5,73 persen secara tahunan dan 2,25 persen secara kuartalan. Pertumbuhan terutama ditopang sektor industri pengolahan.
Inflasi Jabar pada Juli 2026 tercatat 2,72 persen secara tahunan. Neraca perdagangan Jabar pada Januari-Juli 2026 juga mencatat surplus 13,79 miliar dolar AS.

3 hours ago
4







































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5692679/original/097423800_1778569231-1_1_.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547403/original/034869900_1775458279-pexels-crysnet-14537683.jpg)




