Indonesia Makin Dilirik Wisatawan Muslim Perempuan, Tembus Peringkat Dua Dunia

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia menempati peringkat kedua destinasi ramah wisatawan Muslim perempuan dunia dalam Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026. Indonesia berbagi posisi dengan Qatar dengan skor 81 dan berada tepat di bawah Malaysia yang menempati peringkat pertama dengan skor 84.

Peringkat tersebut menunjukkan Indonesia semakin dilirik wisatawan Muslim perempuan yang mempertimbangkan faktor keamanan, kenyamanan, akses layanan, serta kemudahan memperoleh informasi saat bepergian.

Laporan GMTI 2026 mencatat perempuan Muslim menjadi salah satu segmen yang terus tumbuh dalam industri pariwisata global. Mereka menyumbang sekitar 48 persen dari total perjalanan wisatawan Muslim internasional dan memiliki peran penting dalam menentukan keputusan perjalanan keluarga.

Founder dan CEO CrescentRating Fazal Bahardeen mengatakan pasar wisata Muslim global terus menunjukkan pertumbuhan yang kuat dalam beberapa tahun terakhir.

“Pada 2025, jumlah perjalanan wisatawan Muslim internasional mencapai 196 juta. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi 208 juta pada 2026 dan mencapai 262 juta pada 2030,” kata Fazal dalam peluncuran GMTI 2026 di Singapura, Kamis (18/6/2026).

Menurut dia, pertumbuhan tersebut didukung oleh meningkatnya populasi Muslim dunia yang diperkirakan mencapai 2,57 miliar jiwa pada 2036. Sekitar 70 persen di antaranya berusia di bawah 40 tahun dan merupakan pengguna aktif teknologi digital.

Fazal menilai persaingan destinasi wisata ramah Muslim kini tak lagi hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas. Kehadiran layanan dan informasi yang mudah diakses secara digital menjadi faktor yang semakin penting bagi wisatawan dalam menentukan tujuan perjalanan.

“Persaingan destinasi telah bergeser dari sekadar ketersediaan fasilitas menjadi kemampuan untuk terlihat dalam ekosistem digital,” ujarnya.

Selain Indonesia, negara yang masuk lima besar destinasi ramah wisatawan Muslim perempuan adalah Malaysia, Qatar, Arab Saudi, dan Turki. Capaian tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu tujuan utama wisata halal dunia di tengah pertumbuhan pasar wisatawan Muslim global.

Peringkat GMTI

Indonesia naik ke posisi kedua dalam pemeringkatan destinasi ramah Muslim dunia versi Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026. Setelah menempati peringkat kelima pada tahun lalu, Indonesia kini berbagi posisi kedua dengan Arab Saudi dan Turki dengan skor 79.

Malaysia masih mempertahankan posisi teratas dengan skor 83. Sementara Qatar berada di posisi kelima dengan skor 76.

Laporan Mastercard-CrescentRating mencatat Indonesia menjadi salah satu negara dengan peningkatan peringkat terbesar tahun ini. Skor Indonesia naik tiga poin dibandingkan tahun lalu sehingga mampu melompat tiga tingkat dari posisi kelima ke posisi kedua.

Founder dan CEO CrescentRating Fazal Bahardeen mengatakan jumlah perjalanan wisatawan Muslim internasional diperkirakan terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan.

“Pada 2025, jumlah perjalanan wisatawan Muslim internasional mencapai 196 juta. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi 208 juta pada 2026 dan mencapai 262 juta pada 2030,” kata Fazal dalam peluncuran GMTI 2026 di Singapura, Kamis (18/6/2026).

Menurut dia, pertumbuhan tersebut didukung oleh populasi Muslim dunia yang terus meningkat. Pada 2036, jumlah penduduk Muslim diperkirakan mencapai 2,57 miliar jiwa atau hampir 29 persen populasi dunia. Sekitar 70 persen di antaranya berusia di bawah 40 tahun dan merupakan pengguna aktif teknologi digital.

Fazal menilai persaingan destinasi wisata ramah Muslim kini tak lagi hanya ditentukan oleh ketersediaan fasilitas halal. Kehadiran informasi dan layanan dalam ekosistem digital menjadi faktor yang semakin penting dalam menarik wisatawan.

“Persaingan destinasi telah bergeser dari sekadar ketersediaan fasilitas menjadi kemampuan untuk terlihat dalam ekosistem digital,” ujarnya.

Ia mengingatkan destinasi yang tidak mampu menghadirkan informasi mengenai layanan ramah Muslim secara digital berisiko tidak muncul dalam rekomendasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Karena itu, digitalisasi layanan dan informasi menjadi kebutuhan bagi destinasi yang ingin bersaing di pasar wisata Muslim global.

Kenaikan peringkat Indonesia menunjukkan semakin ketatnya persaingan destinasi ramah Muslim di tingkat global. Di tengah pertumbuhan jumlah wisatawan Muslim dunia, Indonesia kini berada di belakang Malaysia dan sejajar dengan Arab Saudi serta Turki dalam daftar destinasi ramah Muslim terbaik dunia.

Read Entire Article
Food |