REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gumoh merupakan kondisi yang sangat sering terjadi pada bayi, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan. Meski sebagian besar kasus gumoh tergolong normal, orang tua tetap perlu waspada karena pada kondisi tertentu gumoh dapat menjadi tanda gastroesophageal reflux disease (GERD) atau penyakit refluks gastroesofagus.
Dokter spesialis anak konsultan Gastroenterohepatologi, dr Sri Kesuma Astuti mengatakan GERD merupakan kondisi ketika aliran balik isi lambung ke kerongkongan tidak lagi sekadar proses fisiologis, melainkan sudah menimbulkan gejala yang mengganggu atau menyebabkan komplikasi. "GERD itu kepanjangan dari gastroesophageal reflux disease. Dibilang sebagai penyakit kalau aliran balik isi lambung atau refluks tadi pada akhirnya menimbulkan gejala-gejala yang mengganggu dan atau menimbulkan komplikasi," kata dr Sri dalam webinar IDAI, Selasa (23/6/2026).
Angka kejadian gumoh selama dua bulan pertama kehidupan bayi di Indonesia lebih tinggi dibandingkan negara lain. Menurut data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), 25 persen bayi Indonesia mengalami gumoh lebih dari 4 kali selama bulan pertama dan 50 persen bayi mengalami gumoh 1 hingga 4 kali per hari sampai usia 3 bulan.
Sri mengatakan sekitar 40 persen bayi usia 2 hingga 5 bulan secara normal mengalami gumoh atau regurgitasi. Pada rentang usia tersebut, kejadian gumoh berada pada puncaknya.
"Seiring bertambahnya usia, frekuensi gumoh akan berkurang secara alami. Pada usia 12 bulan, jumlah bayi yang masih mengalami gumoh tinggal kurang dari 5 persen. Sementara pada usia 19 bulan, gumoh yang masih terjadi tidak lagi dianggap sebagai kondisi normal," kata dr Sri.
Ia menjelaskan, gumoh mudah terjadi pada bayi karena sistem pencernaan mereka masih dalam tahap perkembangan. Di antara lambung dan kerongkongan terdapat katup pembatas yang dalam dunia medis disebut sfingter esofagus bagian bawah. Katup ini berfungsi mencegah isi lambung kembali naik ke kerongkongan.
Namun pada bayi, fungsi katup tersebut belum bekerja secara sempurna. Di sisi lain, sebagian besar asupan bayi berupa susu atau cairan yang sifatnya mudah berpindah.
Selain itu, kapasitas lambung bayi juga masih terbatas. Bahkan ukuran lambung bayi pada awal kehidupan hanya sekitar sebesar bola pingpong. Hingga usia empat bulan, lambung bayi hanya mampu menampung susu dalam jumlah kecil setiap kali minum.
Akibatnya, ketika volume susu yang masuk terlalu banyak, isi lambung lebih mudah naik kembali ke kerongkongan. Kondisi ini diperparah oleh posisi bayi yang lebih sering telentang atau horizontal.
"Ketika cairan tadi masuk ke dalam esofagus, bayi mempunyai kapasitas kerongkongan yang masih terbatas sehingga mudah untuk dikeluarkan ke mulut," ujar dr Sri.

9 hours ago
7





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522741/original/006886600_1772775055-8591.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5509281/original/071189200_1771674324-pexels-cottonbro-5712686.jpg)




