Kembali ke Lahan Pangan

6 hours ago 7

Oleh: Achmad Tshofawie, Kordinator ECOFITRAH; peminat kajian strategis/keluarga ICMI dan FKPPI

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah gemerlap kota-kota modern Eropa, di antara rel kereta cepat, pabrik otomotif berteknologi tinggi, pusat finansial raksasa, serta ekonomi digital yang selama puluhan tahun dianggap simbol kemajuan peradaban, perlahan muncul satu kegelisahan besar: bagaimana jika semua itu ternyata sangat rapuh?

Pertanyaan itu dahulu terdengar absurd. Bagaimana mungkin Eropa—rumah Revolusi Industri, pusat teknologi, jantung kapitalisme modern, dan salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia—dapat terguncang hanya karena konflik geopolitik ribuan kilometer jauhnya?

Namun kenyataan beberapa tahun terakhir memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Pandemi global, perang Rusia-Ukraina, lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, inflasi pangan, hingga konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran, telah memperlihatkan bahwa ekonomi modern ternyata jauh lebih rentan dibanding yang selama ini dibayangkan.

Di sinilah dunia kembali mendengar istilah lama yang menakutkan: stagflasi. Sebuah kondisi ketika: ekonomi melambat, pengangguran meningkat, tetapi harga-harga tetap naik. Kombinasi yang dianggap sebagai “mimpi buruk” bagi bank sentral dan pemerintah modern.

Istilah stagflasi sendiri dipopulerkan oleh politikus Inggris, Iain Macleod, tahun 1965. Namun istilah ini benar-benar mengguncang dunia pada krisis minyak 1970-an ketika embargo energi Timur Tengah menyebabkan ekonomi Barat mengalami stagnasi sekaligus inflasi tinggi. Dan kini, puluhan tahun kemudian, gejala serupa mulai kembali menghantui Eropa.

Kali ini sumbernya bukan sekadar persoalan moneter, melainkan kombinasi yang lebih kompleks: energi, geopolitik, ketergantungan industri, dan rapuhnya globalisasi. Ketika perang pecah di kawasan Timur Tengah dan harga energi melonjak, Eropa menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terkena dampaknya. Sebab tidak seperti Amerika Serikat yang memiliki cadangan energi besar dan dolar sebagai mata uang global, Uni Eropa sangat bergantung pada impor energi.

Industri-industri besar Eropa—terutama otomotif, kimia, baja, pupuk, logistik, dan manufaktur berat—dibangun di atas asumsi bahwa energi akan selalu tersedia dengan harga relatif murah. Tetapi sejarah ternyata tidak selalu tunduk pada asumsi ekonomi. Ketika gas dan minyak melonjak, biaya produksi ikut naik. Ketika biaya produksi naik, industri mulai melemah. Ketika industri melemah, lapangan kerja mulai terancam. Namun ironinya, di saat ekonomi melambat, harga kebutuhan hidup justru tetap meningkat akibat inflasi energi dan logistik. Inilah inti stagflasi: ekonomi sakit, tetapi harga tetap panas.

Beberapa waktu terakhir, kekhawatiran itu bahkan mulai diakui secara terbuka oleh pejabat Uni Eropa sendiri. Komisioner Uni Eropa untuk Hak Sosial dan Keterampilan, Roxana Mînzatu, memperingatkan bahwa sekitar 1,3 juta pekerjaan di Eropa berpotensi terdampak akibat lonjakan harga energi yang dipicu eskalasi perang di Timur Tengah.

Yang paling mengkhawatirkan adalah sektor otomotif. Sekitar 600 ribu pekerjaan diperkirakan berisiko di sektor ini saja. Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya ada keluarga pekerja, kelas menengah, rumah tangga, desa industri, dan rantai ekonomi yang sangat panjang.

Sebab industri otomotif Eropa bukan hanya soal mobil. Ia adalah jantung ekonomi manufaktur modern Eropa. Jika sektor otomotif melemah, maka: baja ikut terdampak, industri kaca terpukul, petrokimia menurun, logistik melambat, UMKM pemasok komponen terpukul, dan konsumsi masyarakat ikut turun.

Efek dominonya sangat luas. Dan disinilah paradoks ekonomi modern mulai terlihat. Selama puluhan tahun dunia diajarkan bahwa sektor jasa, finansial, teknologi tinggi, dan industri berat adalah simbol kemajuan. Sementara sektor pertanian sering dipandang sebagai sektor “tradisional”, “kurang modern”, bahkan dianggap inferior. 

Namun ketika krisis energi datang, manusia kembali diingatkan pada fakta sederhana: manusia bisa menunda membeli mobil, tetapi tidak bisa menunda makan. Di sinilah muncul perubahan psikologis dan strategis yang menarik di Eropa. Perlahan namun nyata, isu pangan mulai kembali diposisikan sebagai isu keamanan peradaban.

Uni Eropa mulai berbicara tentang : ketahanan pangan, ketahanan pupuk, pertanian lokal, strategic food reserve, hingga resilience farming. Banyak negara Eropa mulai menyadari bahwa terlalu bergantung pada rantai pasok global adalah perjudian berbahaya.

Karena dalam kondisi perang atau krisis energi, yang paling cepat terguncang justru sistem industri kompleks yang sangat tergantung: BBM, gas, listrik, dan logistik global.

Sementara lahan pertanian tetap menghasilkan makanan selama: tanah masih subur, air masih tersedia, dan manusia masih mau menanam. Ironinya, sektor yang dulu dianggap “kurang bergengsi” justru kini kembali terlihat sebagai fondasi survival. Mungkin inilah salah satu pelajaran paling besar dari era stagflasi modern: bahwa ekonomi tidak pernah benar-benar bisa dipisahkan dari tanah.

Selama beberapa dekade terakhir, banyak negara maju terlalu percaya pada model pertumbuhan berbasis: konsumsi, utang, finansialisasi, dan ekspansi industri tanpa henti. Tetapi model tersebut sangat bergantung pada satu syarat: energi murah. Ketika energi murah hilang, seluruh struktur mulai goyah. Pabrik menjadi mahal. Transportasi membengkak. Harga pupuk naik. Biaya listrik melonjak. Daya beli turun. Industri kehilangan daya saing.

Dan akhirnya, pemerintah menghadapi dilema yang hampir mustahil: jika suku bunga dinaikkan untuk melawan inflasi, ekonomi makin lesu. Jika stimulus diperbesar untuk menyelamatkan ekonomi, inflasi makin tinggi. Inilah mengapa stagflasi disebut sebagai: “kelemahan utama ekonomi modern.”

Ia memperlihatkan bahwa sistem ekonomi kontemporer sebenarnya sangat sensitif terhadap gangguan energi dan geopolitik. Yang lebih menarik lagi, krisis ini juga membuka kembali diskusi tentang sistem moneter global. Selama puluhan tahun perdagangan minyak dunia didominasi petrodollar. Negara-negara harus menyimpan dolar untuk membeli energi.

Namun kini perlahan muncul alternatif: petroyuan. Tiongkok mulai memperluas penggunaan yuan dalam perdagangan energi bersama Rusia, Iran, dan beberapa negara lainnya. Walaupun belum menggantikan dominasi dolar sepenuhnya, perubahan ini menunjukkan bahwa dunia mulai bergerak menuju multipolaritas moneter.

Tetapi di sisi lain, baik petrodollar maupun petroyuan tetap memiliki satu kesamaan: keduanya berbasis fiat money. Artinya nilai uang sangat bergantung pada otoritas negara penerbit, bukan pada aset intrinsik tertentu. Di sinilah sebagian pemikir ekonomi mulai kembali mempertanyakan: apakah adil jika sumber daya nyata seperti minyak ditukar dengan uang fiat yang bisa diperluas melalui kebijakan moneter?

Pertanyaan itu membawa sebagian orang kembali melirik sistem berbasis aset riil seperti emas dan perak. Bukan semata romantisme sejarah, tetapi karena muncul kesadaran bahwa ekonomi yang terlalu jauh dari realitas produksi dan sumber daya alam cenderung menciptakan ketimpangan dan spekulasi berlebihan.

Namun terlepas dari perdebatan moneter tersebut, satu hal tampak semakin jelas: krisis global telah mengembalikan perhatian manusia kepada sektor primer. Tanah kembali menjadi penting. Air kembali menjadi strategis. Pangan kembali menjadi prioritas. Dan mungkin inilah ironi terbesar peradaban modern. Setelah ratusan tahun manusia berlomba meninggalkan desa menuju kota industri, kini sebagian dunia mulai menyadari bahwa ketahanan sejati justru sangat bergantung pada: lahan pangan, petani, pupuk, air, dan energi yang stabil.

Dalam kondisi normal, industri memang menghasilkan kemakmuran besar. Tetapi dalam kondisi krisis panjang, sektor panganlah yang menjaga kelangsungan hidup manusia. Karena itu sangat mungkin bahwa Eropa ke depan tidak sepenuhnya meninggalkan industri, tetapi akan berusaha mencari keseimbangan baru: antara manufaktur dan ketahanan pangan.

Pertanian kemungkinan tidak lagi dipandang sekadar sektor tradisional, melainkan sebagai bagian dari strategi keamanan nasional. Dan mungkin dunia memang sedang bergerak menuju kesadaran baru: bahwa peradaban yang terlalu jauh dari tanah akan menjadi peradaban yang rapuh.

Dalam perspektif yang lebih dalam, stagflasi bukan sekadar persoalan ekonomi. Ia adalah peringatan. Peringatan bahwa manusia tidak bisa membangun peradaban hanya di atas: angka finansial, pasar saham, utang, dan industrialisasi tanpa batas. Sebab pada akhirnya manusia tetap makhluk biologis yang hidup dari: tanah, air, energi, dan pangan.

Dan ketika semua krisis global bertemu dalam satu titik, manusia akhirnya kembali memahami sesuatu yang sebenarnya sangat tua: bahwa lahan pangan kadang lebih menentukan masa depan peradaban dibanding gedung-gedung finansial yang menjulang tinggi. Mungkin karena itulah, di tengah ancaman stagflasi dan de-industrialisasi, Eropa perlahan mulai menoleh kembali ke lahan pangan.

Dalam konteks inilah, langkah Indonesia yang kembali menekankan swasembada pangan sebenarnya dapat dibaca bukan sekadar kebijakan ekonomi biasa, melainkan strategi peradaban jangka panjang dalam menghadapi dunia yang semakin tidak stabil. Ketika banyak negara maju mulai menyadari rapuhnya rantai pasok global akibat perang, krisis energi, dan stagflasi, Indonesia justru memiliki peluang besar karena dianugerahi tanah subur, iklim tropis, air melimpah, serta tradisi agraris yang kuat. Di tengah ancaman deindustrialisasi dan gejolak geopolitik global, kemampuan memproduksi pangan sendiri menjadi bentuk kedaulatan yang sangat strategis.

Sebab pada akhirnya, bangsa yang mampu menjaga lahan, air, petani, benih, dan pupuknya sendiri akan jauh lebih siap bertahan dibanding bangsa yang sepenuhnya menggantungkan hidupnya pada impor dan mekanisme pasar global yang mudah terguncang oleh konflik internasional.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |