Rupiah Makin Konsisten Bertengger di Bawah Level Rp18 Ribu, Ini Analisisnya

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak di bawah Rp 18.000 per dolar AS dalam kurang lebih sepekan terakhir. Per Rabu (12/8/2026), pergerakannya berada di Rp 17.870-an per dolar AS, dipengaruhi berbagai sentimen, baik faktor eksternal maupun internal.

Mengutip Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), pada Selasa (28/7/2026), rupiah berada di posisi Rp 18.088 per dolar AS, usai pengumuman pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo pada Senin (27/7/2026). Pada Rabu (29/7/2026), bergerak ke level Rp 18.087 per dolar AS, Kamis (30/7/2026) sebesar Rp 18.078 per dolar AS, dan pada Jumat (31/7/2026) mencapai Rp 18.058 per dolar AS.

Lantas, pada Senin (3/8/2026), mata uang Garuda berada di posisi Rp 17.991 per dolar AS dan sempat menyentuh Rp 18.037 per dolar AS pada Selasa (4/8/2026). Kemudian, rupiah konsisten berada di bawah Rp 18.000 per dolar AS, namun berfluktuasi. Tepatnya, pada Rabu (5/8/2026) sebesar Rp 17.937 per dolar AS, Kamis (6/8/2026) mencapai Rp 17.919 per dolar AS, dan Jumat (7/8/2026) di angka Rp 17.913 per dolar AS.

Adapun, pada Senin (10/8/2026), rupiah melanjutkan fluktuasi di posisi Rp 17.795 per dolar AS. Pada Selasa (11/8/2026), di angka Rp 17.824 per dolar AS, dan pada Rabu (12/8/2026) bergerak di level Rp 17.876 per dolar AS.

Sementara itu, mengutip Bloomberg, rupiah melemah 16 poin atau 0,09 persen menuju posisi Rp 17.877 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di level Rp 17.861 per dolar AS.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan beberapa faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah pada hari ini. Secara eksternal, mulai dari dinamika konflik di Timur Tengah hingga kondisi ekonomi AS.

“Ketegangan yang terus berlanjut antara AS dan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, membuat aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz tetap minim karena tidak banyak kemajuan yang dicapai AS dan Iran menuju kesepakatan, terutama setelah Washington menyatakan telah menyerang sebuah kapal di Teluk Oman yang diduga sedang menuju Iran,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (12/8/2026).

Teheran sebelumnya mengisyaratkan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup kecuali Washington memenuhi tuntutan ganti rugi mereka, tuntutan yang ditolak keras oleh Presiden AS Donald Trump. Selat Hormuz diketahui merupakan titik ketidakpastian utama bagi pasar minyak, mengingat jalur tersebut memasok sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sebelum pecahnya konflik.

Selain itu, menambah kekhawatiran akan gangguan pasokan, kelompok Houthi terus melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb pekan ini, setelah kelompok yang didukung Iran tersebut mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

“Perkembangan pekan ini menunjukkan minimnya tanda-tanda meredanya konflik di Asia Barat, sehingga para pedagang tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan minyak lebih lanjut yang turut menopang harga minyak mentah,” terangnya.

Di sisi lain, Ibrahim menyebut faktor update data ekonomi AS juga turut memberi pengaruh terhadap rupiah. Terutama data Indeks Harga Konsumen/Consumer Price Index (CPI) dan Indeks Harga Produsen/Producer Price Index (PPI).

“Investor kini menantikan data CPI AS pada Rabu, diikuti oleh data harga produsen pada hari Kamis. Angka yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi tekanan bagi The Fed untuk memperketat kebijakan, sementara angka yang lebih tinggi dapat memicu kembali ekspektasi kenaikan suku bunga. Pelaku pasar cenderung menahan diri untuk mengambil posisi agresif menjelang rilis data CPI, dengan pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada bulan September berada di kisaran 50-50,” jelasnya.

Read Entire Article
Food |