
Oleh: Samsul Muarif, Jurnalis, penulis buku “Gus Hery H. Azumi: Nakhoda Abad Kedua NU”, dan pengamat politik kebangsaan
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang akan digelar pada akhir Agustus 2026 bukan sekadar agenda rutin lima tahunan untuk memilih Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Lebih dari itu, Muktamar kali ini merupakan momentum sejarah yang akan menentukan bagaimana organisasi Islam terbesar di dunia memasuki abad keduanya. Taruhannya bukan kecil.
NU tidak hanya sedang memilih seorang ketua umum. NU sedang memilih arah peradaban.
Selama hampir satu abad, NU telah menjadi salah satu pilar utama kehidupan berbangsa di Indonesia. Organisasi ini berhasil menjaga keseimbangan antara tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, nasionalisme, demokrasi, dan kemajemukan. Dari pesantren-pesantren NU lahir jutaan kader yang berkontribusi dalam pendidikan, ekonomi, pemerintahan, hingga diplomasi internasional. Namun, tantangan abad kedua berbeda sama sekali.
Dunia sedang memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), revolusi digital, perubahan geopolitik global, krisis iklim, hingga kompetisi ekonomi berbasis inovasi. Pada saat yang sama, Indonesia sedang menikmati bonus demografi yang akan menentukan posisi bangsa ini dalam dua dekade mendatang.
Dalam situasi seperti itu, NU dituntut bukan hanya menjadi organisasi Islam terbesar, tetapi juga organisasi yang mampu melahirkan solusi bagi persoalan umat dan bangsa.
Peter F. Drucker pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar sebuah organisasi bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan ketika organisasi menghadapi tantangan baru dengan cara berpikir lama. Pesan ini sangat relevan bagi NU.
Sejarah memang penting. Tradisi adalah fondasi. Tetapi sejarah hanya akan menjadi kekuatan apabila mampu diterjemahkan menjadi energi untuk masa depan.
Pakar Islam Indonesia Robert W. Hefner menyebut NU sebagai salah satu pilar masyarakat sipil (civil society) yang paling berhasil menopang demokrasi Indonesia. Sementara Greg Barton melihat kekuatan NU justru terletak pada kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan tanpa kehilangan akar tradisi pesantren.
Pandangan para ilmuwan tersebut mengandung satu pesan sederhana: organisasi besar hanya akan tetap besar apabila mampu melakukan regenerasi kepemimpinan. Di sinilah Muktamar NU ke-35 memperoleh makna yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar pergantian ketua umum.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

15 hours ago
7































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5532552/original/024344100_1773655185-pexels-undo-kim-2153633398-34628051.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5528779/original/012654500_1773295183-2148501558.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5543643/original/041077600_1775031375-WhatsApp_Image_2026-04-01_at_14.33.02__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5529965/original/052248300_1773387981-Screenshot_2026-03-13_143501.jpg)









