REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Penyembelihan hewan kurban mesti mengedepankan prinsip halal, aman, dan ihsan. Hal itu disampaikan dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada Cuk Tri Noviandi dalam rangka menyambut datangnya hari raya Idul Adha 1447 H/2026 M.
"Kurban itu bukan sekadar menyembelih, tetapi bagaimana kita memastikan hewan diperlakukan dengan baik, prosesnya aman bagi manusia, dan hasilnya layak dikonsumsi," ujar Noviandi dalam keterangan tertulis di Yogyakarta, DIY, pada Sabtu (9/5/2026).
Menurut dia, kesalahan dalam penanganan hewan kurban sering terjadi di lapangan. Hal itu berpotensi menyebabkan hewan yang akan disembelih terlebih dahulu mengalami stres. Bahkan, proses penyembelihan bisa jadi tidak sesuai standar fikih maupun keamanan pangan.
"Padahal, kondisi tersebut (stres pada hewan -Red) dapat memengaruhi kualitas daging sekaligus berisiko bagi panitia kurban," ucap Noviandi.
Oleh karena itu, Fakultas Peternakan UGM menggelar pelatihan penanganan kurban. Harapannya, jelas Noviandi, pihak panitia dan pesera umum dapat lebih memahami pelaksanaan pemotongan hewan kurban yang tepat.
Sebab, lanjut dia, kebutuhan akan hewan kurban dan juru sembelih menjelang Idul Adha semakin tinggi. Membekali masyarakat akan pengetahuan penanganan kurban tidak hanya bertujuan agar ibadah ini sah secara agama, tetapi juga berlansung aman dan higienis.
"Tak sekadar teori, pelatihan juga membekali peserta dengan pengetahuan lengkap mulai dari fikih kurban hingga praktik penanganan hewan dan pengelolaan daging yang sesuai standar kesehatan," kata Dekan Fakultas Peternakan UGM Prof Budi Guntoro.
Pada pelatihan itu, peserta dibekali praktik pemotongan dan distribusi daging yang benar, pemisahan daging dan jeroan, penggunaan sarung tangan, hingga anjuran menggunakan kemasan ramah lingkungan seperti besek bambu.
"Melalui kegiatan ini, diharap para peserta bisa melanjutkan pada proses sertifikasi kompetensi yang selama ini telah dilakukan UGM. Sertifikasi ini akan diperlukan jika nantinya makanan masuk pada ranah diperjualbelikan kepada khalayak," katanya.
Dosen Fakultas Peternakan UGM Rio Olympias Sujarwanto mengatakan bahwa pengelolaan daging hewan kurban yang tidak higienis dapat memicu risiko penularan penyakit.
"Daging itu sangat mudah terkontaminasi. Penanganan yang salah, seperti meletakkan di tanah atau menggunakan wadah tidak aman, bisa meningkatkan jumlah kuman secara drastis," katanya.
sumber : Antara

2 hours ago
3










































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5447649/original/009619000_1765960341-pexels-qjpioneer-5652188.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5210295/original/020455400_1746503932-cef51a0b-171c-465c-b961-0b620c5bafe2.jpg)
