REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Institute for Development of Economics and Finance Green Transition Initiative (Indef GTI) mengusulkan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 30 gigawatt peak (GWp) di kawasan industri dengan pendekatan kawasan energi terbarukan (renewable energy zones).
"Konsep renewable energy zones berpotensi untuk diintegrasikan ke kawasan industri dengan mempertemukan potensi energi terbarukan dan kebutuhan energi industri dalam satu kawasan," ujar Direktur Indef GTI Imaduddin Abdullah dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Jumat (28/8/2026).
Menurut dia, kawasan industri memiliki sejumlah keunggulan. Kawasan industri dapat meminjamkan jaringan dan titik evakuasi daya untuk proyek energi terbarukan di lahan sekitar, lalu menyerap listrik yang dihasilkan dengan harga diskon.
"Ini menekan biaya listrik proyek. Keunggulan lainnya, kebutuhan industri manufaktur, smelter, dan pusat data juga menjadikannya pembeli alami," ujar Imaduddin.
Bagi penyewa yang terikat mekanisme karbon lintas batas (carbon border adjustment mechanism/CBAM) dan komitmen iklim global, pasokan energi bersih sekaligus menjadi syarat kepatuhan. Kawasan industri juga berpotensi menjadi simpul reindustrialisasi Indonesia.
Imaduddin menyampaikan potensi ekonominya mulai terlihat dari analisis awal Indef GTI terhadap delapan kawasan ekonomi khusus (KEK).
Integrasi kawasan dengan energi terbarukan berpotensi meningkatkan pertumbuhan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) agregat dari 5,95 persen menjadi 6,30 persen.
"Dampaknya berpotensi lebih besar apabila pendekatan serupa diterapkan secara lebih luas di KEK dan kawasan industri lainnya di Indonesia," kata dia.
Ruang untuk memperluas dampak ekonomi tersebut terlihat dari besarnya potensi pengembangan PLTS di kawasan industri.
Berdasarkan kajian Indef GTI bersama Systemiq Indonesia pada 2026, dengan estimasi yang dilakukan oleh Systemiq, kawasan industri memiliki potensi PLTS hingga 21 GW. Total ini berasal dari sekitar 6-13 GW dari dalam kawasan, melalui atap pabrik serta permukaan tanah dan air nonkomersial yang menganggur.
Sisanya, sebesar 7-8 GW, berasal dari lahan berdekatan untuk PLTS skala utilitas yang dipadukan dengan baterai.
"Porsi 6-13 GW itu tergolong low-hanging fruit karena bisa dikerjakan lebih dulu. Inisiasi 100 GWp melalui pentahapan yang jelas membuat target pembangunan lebih jelas, namun realisasinya tetap membutuhkan upaya luar biasa dari berbagai pemangku kebijakan," ucap Imaduddin.
sumber : Antara

3 hours ago
7








































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5692679/original/097423800_1778569231-1_1_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547403/original/034869900_1775458279-pexels-crysnet-14537683.jpg)




