Pesona Abadi Nusa Dua: Okupansi Hotel Tetap Tangguh di Tengah Efisiensi Anggaran

10 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagai ikon pariwisata mewah di Pulau Dewata, kawasan Nusa Dua Bali terus mengukuhkan posisinya sebagai destinasi kelas dunia yang tak tertandingi.

Kawasan ini bukan sekadar deretan hotel megah, melainkan sebuah simfoni antara kenyamanan premium, privasi tingkat tinggi, dan keaslian budaya Bali yang dikelola secara eksklusif. Keindahan pantai berpasir putih yang tenang dipadukan dengan tata kota pariwisata yang rapi menjadikan Nusa Dua tetap menjadi pilihan utama bagi pelancong mancanegara maupun domestik yang mendambakan pengalaman berlibur yang sempurna pada tahun 2026 ini.

PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (ITDC) mencatat tingkat hunian perhotelan di kawasan The Nusa Dua tetap tumbuh positif dengan rata-rata 76,93 persen sepanjang tahun 2025. Di kawasan ini, terdapat tiga hotel yang sangat populer dengan profil yang ikonik: pertama, The St. Regis Bali Resort yang dikenal sebagai puncak kemewahan dengan layanan butler 24 jam dan vila-vila di tepi pantai; kedua, The Apurva Kempinski Bali yang megah dengan arsitektur menyerupai pura bertingkat yang melambangkan kekayaan warisan Indonesia; dan ketiga, Grand Hyatt Bali yang menawarkan konsep istana air dengan kolam renang luas dan taman tropis yang ideal bagi keluarga.

“Capaian itu diraih di tengah tantangan eksternal,” ujar Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, Sabtu (17/1/2026).

Okupansi tersebut menunjukkan daya tahan yang baik, meski sedikit melandai dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 76,56 persen. Salah satu faktor utamanya adalah penurunan aktivitas perjalanan dinas dan konferensi (MICE) pada awal 2025 akibat kebijakan efisiensi anggaran Pemerintah Pusat.

Kebijakan efisiensi ini diterapkan untuk menjaga kesinambungan fiskal negara, mengalihkan belanja non-prioritas ke sektor-sektor mendesak seperti penanggulangan bencana dan pembangunan infrastruktur strategis nasional yang lebih inklusif.

Meskipun aktivitas dinas melandai, kunjungan wisatawan secara keseluruhan di kawasan pariwisata premium ini justru meningkat 18,5 persen, dari 3,2 juta pada 2024 menjadi 3,8 juta pada 2025. Sebagai kawasan pariwisata premium, Nusa Dua merupakan destinasi yang menawarkan fasilitas mewah berstandar internasional dengan sistem keamanan dan pengelolaan lingkungan terpadu yang sangat ketat. Karakteristik utamanya adalah fokus pada pasar menengah ke atas melalui penyediaan layanan jasa yang mengutamakan kualitas, privasi, dan kenyamanan eksklusif di atas segalanya.

Selain The Nusa Dua di Bali, Indonesia memiliki beberapa daerah lain yang masuk dalam kategori kawasan pariwisata premium, seperti The Mandalika di Nusa Tenggara Barat yang mengusung konsep wisata olahraga otomotif melalui sirkuit internasionalnya, serta Golo Mori di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, yang menawarkan eksotisme pemandangan alam perbukitan dan laut untuk kegiatan pertemuan tingkat tinggi. Ketiga kawasan ini menjadi ujung tombak pemerintah dalam menarik wisatawan berkualitas yang memiliki daya beli tinggi.

Ahmad Fajar menjelaskan bahwa meskipun kunjungan harian meningkat tajam, tantangan kedepan adalah mengonversi kunjungan tersebut menjadi hunian kamar. Saat ini, kawasan ITDC di Bali memiliki luas 350 hektare dengan total 5.500 kamar di 22 hotel bintang lima. Dilengkapi gedung pertemuan berkapasitas 21.000 delegasi, Nusa Dua tetap menjadi magnet bagi wisata konferensi (MICE).

Sementara itu, dua kawasan pengelolaan ITDC lainnya juga menunjukkan kinerja yang stabil. Kawasan Mandalika mencatat okupansi di kisaran 55 persen, sementara Golo Mori mencatat 28.406 pengunjung sepanjang 2025. Capaian ini menjadi dasar optimisme ITDC untuk terus mengoptimalkan potensi wisata olahraga, kuliner, dan atraksi budaya guna mendongkrak performa pariwisata Indonesia pada tahun 2026.

sumber : Antara

Read Entire Article
Food |