Waktu Berbuka di Gaza, Merasakan Ramadhan dengan Penuh Ketakutan

10 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di Gaza, waktu berbuka puasa tidak lagi ditandai dengan detik-detik menunggu adzan. Bagi ribuan keluarga pengungsi, senja justru dinanti dari usaha menyalakan api tanpa membuat tenda terbakar. Aroma makanan yang biasanya mengundang selera kini bercampur dengan asap tebal yang mencekik anak-anak.

Tahun ini, Ramadhan datang bukan dengan lentera atau ketenangan, tetapi dipikul di pundak para ibu yang mencari segenggam air, sepotong roti, dan kompor. Di tenda-tenda darurat yang rapuh, kesabaran menjadi ujian harian yang harus dilalui.

Menjelang Maghrib, Zakia Ahmed (35 tahun) terlihat membungkuk di depan tendanya di barat Gaza. Ia menyusun tiga batu sebagai tungku darurat, lalu mencoba menyalakan api dari potongan kardus basah dan serpihan kayu. Asap hitam mengepul memenuhi udara, sementara ketiga anaknya terbatuk-batuk di dekat panci berisi lentil yang mendidih tanpa lauk.

Pengungsi asal Gaza utara itu mengenang Ramadhan sebelum perang sebagai masa penuh kebahagiaan keluarga. Kini, setiap kali menyalakan api, ia justru diliputi rasa takut.“Dulu kami menyambut Ramadhan dengan lentera dan aroma sup. Hari ini, saya menyambutnya dengan rasa takut salah satu anak saya akan terbakar api," ujar kepada kantor berita Palestina, Sanad seperti dilansir Saba, Rabu (25/2/2026).

Di sekitarnya, deretan tenda berjejer rapat di salah satu tempat penampungan, dengan api menyala di antara setiap dua tenda. Tidak ada jarak aman, tidak ada peralatan masak yang aman, hanya nyala api yang menjulang di atas ruang sempit, di mana percikan kecil saja sudah cukup untuk mengubah tempat itu menjadi neraka.

Hussam al-Deeb (42 tahun), salah satu penghuni kamp pengungsian, menunjuk bekas hangus di dekat tendanya. Ia menceritakan bagaimana api sempat menjalar ke tenda tetangganya beberapa hari sebelumnya.“Seorang anak kecil terbakar. Kami memasak sangat dekat satu sama lain. Tidak ada pengamanan,” kata dia.

Ramadhan, yang dulunya merupakan bulan ketenangan, telah menjadi musim yang penuh kecemasan. Kepadatan tenda yang berlebihan, kelangkaan air, dan kurangnya peralatan masak yang aman membuat menyiapkan sarapan menjadi cobaan sehari-hari.

Read Entire Article
Food |