Warga Iran memeluk foto Ayatollah Ali Khamenei saat berkumpul di Lapangan Enqelab, Teheran, Iran, Ahad (1/3/2026), untuk mengekspresikan duka cita atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran itu. Khamenei tewas dalam serangan udara militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah dentuman perang dan kabut propaganda yang menebal di Timur Tengah, dunia kembali dihadapkan pada satu pertanyaan klasik yang tak pernah benar-benar usang: siapa yang sebenarnya memegang kendali, dan siapa yang hanya bereaksi terhadap arus yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Tiga tulisan dari tiga perspektif berbeda, dari Ankara, London, hingga Moskow, membentangkan lanskap geopolitik yang sama, tetapi dengan sudut pandang yang nyaris saling berseberangan.
Namun justru di sanalah letak menariknya, ketika narasi yang tampak bertabrakan itu diam-diam bertemu pada satu simpul yang sama: krisis kepercayaan global dan ketidakpastian arah kekuasaan.
Aydin Unal, dalam tulisannya di media Turki, memotret dunia dari sudut pandang ancaman yang mengendap dan terus berulang. Ia tidak melihat konflik Iran sebagai peristiwa tunggal, melainkan bagian dari pola panjang intervensi terhadap negara-negara yang mencoba berdiri mandiri.
“Turki selalu menjadi target selanjutnya. Mereka menyerang Iran sekali, tetapi mereka menyerang Turki berulang kali,” tulisnya.
Narasi Unal bertumpu pada memori historis dan trauma geopolitik. Ia menegaskan bahwa intervensi tidak selalu datang dalam bentuk invasi militer terbuka, melainkan seringkali melalui operasi internal, kudeta, atau infiltrasi politik. Dalam logika ini, perang bukan sekadar pertempuran senjata, tetapi juga perebutan kendali atas arah sebuah negara.
Berbeda dengan Unal yang melihat ancaman dari luar, Jeremy Bowen dari BBC justru mengarahkan sorotan pada kelemahan internal dalam pengambilan keputusan Amerika Serikat.
Ia menilai perang terhadap Iran lebih banyak digerakkan oleh intuisi politik ketimbang kalkulasi strategis yang matang. “Mengandalkan intuisi presiden daripada rencana yang matang membuat perang lebih sulit untuk dimajukan,” tulis Bowen.
Dalam analisisnya, Bowen menegaskan bahwa kegagalan memahami karakter Iran menjadi titik krusial. Ia mengingatkan bahwa rezim Iran bukan entitas rapuh yang mudah runtuh oleh serangan militer. “Bagi mereka, sekadar bertahan hidup sudah merupakan kemenangan,” ujarnya.

3 hours ago
4






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)

















