REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kerajaan Arab Saudi baru-baru ini menemukan manuskrip langka yang berasal dari abad keempat Hijriah, berjudul: “Kata-Kata Unik Alquran”, yang ditulis oleh ulama pada zamannya, Abu Ubaidah Muammar bin Al-Mutsanna.
Temuan ini bukan sekadar penambahan koleksi naskah kuno, melainkan membuka kembali diskursus lama tentang bagaimana generasi awal Islam memahami kata-kata yang tidak lazim dalam Alquran, kata-kata yang menyimpan kedalaman makna sekaligus tantangan tafsir.
Abu Ubaidah dikenal sebagai salah satu raksasa intelektual dalam tradisi bahasa Arab klasik. Ia hidup pada abad ke-2 Hijriah dan berasal dari Basra, pusat keilmuan bahasa dan sastra Arab pada masa itu. Reputasinya melampaui zamannya; bahkan Al-Jahiz pernah memujinya dengan ungkapan terkenal, “Tidak ada seorang pun di bumi yang lebih berpengetahuan dalam semua ilmu daripada dia.”
Produktivitasnya luar biasa, lebih dari 200 karya ditulisnya, mencakup berbagai disiplin: dari sastra, sejarah Arab, hingga tafsir linguistik Alquran. Karya-karyanya seperti Majaz al-Qur’an, Ma‘ani al-Qur’an, hingga I‘rab al-Qur’an menunjukkan satu benang merah: perhatian serius pada bagaimana bahasa wahyu bekerja, terutama pada kata-kata yang tidak mudah dipahami secara langsung, sebagaimana diberitakan Al Arabiya.
Penemuan manuskrip ini menjadi semakin penting karena tersimpan dalam jaringan koleksi besar di Perpustakaan Umum Raja Abdulaziz, yang dikenal memiliki ribuan manuskrip tafsir dan ilmu Alquran. Di dalamnya terdapat karya-karya penting lain seperti tulisan Abu Ishaq al-Zajjaj tentang tata bahasa Alquran, karya Ibn Qutaybah tentang ayat-ayat sulit, hingga bagian dari Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an karya Al-Tabari. Seluruhnya memperlihatkan bahwa sejak awal, umat Islam telah membangun tradisi ilmiah yang serius untuk memahami bahasa Alquran secara mendalam.
Dari sinilah kemudian lahir satu cabang ilmu yang dikenal sebagai gharā’ib al-Qur’an, kajian tentang kata-kata unik dalam Alquran yang tidak umum digunakan dalam bahasa Arab sehari-hari.
Pada fase awal, pendekatan yang digunakan bersifat riwayat: para ulama merujuk pada penjelasan sahabat, tabi’in, serta syair Arab kuno untuk memastikan makna sebuah kata. Pendekatan ini mencerminkan kehati-hatian, bahkan kerendahan hati intelektual generasi awal dalam menghadapi teks wahyu.
Namun, seiring perkembangan zaman, kajian gharā’ib mengalami perluasan metodologis. Al-Rāghib al-Aṣfahānī melalui Al-Mufradāt fī Gharīb al-Qur’ān mulai mengkaji kata berdasarkan akar makna dan variasi penggunaannya dalam berbagai ayat. Ia tidak sekadar menjelaskan arti, tetapi juga menelusuri nuansa semantik yang halus, membuka jalan bagi pendekatan yang lebih filosofis terhadap bahasa Alquran.

2 hours ago
3






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)

















