Film American Doctor Angkat Perjuangan Dokter di Tengah Genosida di Gaza

3 hours ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sutradara perempuan berdarah Malaysia-Amerika, Poh Si Teng, mengungkap alasan di balik pembuatan film dokumenter American Doctor. Menurutnya, dokumenter yang mengikuti tiga dokter Amerika saat mengabdi di Gaza ini memiliki kemiripan dengan serial drama medis The Pitt, namun kisah yang ditampilkan benar-benar terjadi.

Gagasan untuk membuat dokumenter tersebut muncul setelah genosida Israel yang terus berlangsung di Gaza. Teng, yang sebelumnya bekerja sebagai jurnalis, mengaku tidak lagi sanggup lagi melihat rekan-rekan yang ia hormati menjadi sasaran militer Israel dan dieksekusi.

"Saya merasa perlu menyoroti situasi yang ada. Kemudian saya mengamatu setiap tahunnya selalu ada drama medis yang tayang di streaming. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat dokumenter medis dengan berlatar di Palestina," kata Teng dilansir laman Gold Derby, Selasa (18/8/2026).

Film dokumenter American Doctor menjadi debut Teng sebagai sutradara. Sebelumnya, ia telah memproduseri sejumlah film dokumenter, termasuk Patrice: The Movie (2024) yang memenangkan Emmy Awards.

Pengalaman dua dekade sebagai jurnalis juga menjadi bekal penting bagi Teng. Saat bekerja di The New York Times dan Al Jazeera, ia terbiasa memikirkan apakah sebuah peristiwa akan tetap relevan untuk masa mendatang, bukan saat ini saja.

"Sebagai jurnalis kita harus mampu memproyeksikan suatu isu. Sayangnya, ketika menyangkut persoalan Palestina, saya pikir ini akan relevan untuk waktu yang lama," kata Teng.

Untuk dokumenter ini, Teng menggandeng Dr Mark Perlmutter, seorang ahli bedah ortopedi Yahudi-Amerika yang meninggalkan praktiknya di North Carolina untuk bekerja di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Palestina. Menurut Teng, sosok Dr Perlmutter memiliki kepedulian besar terhadap Palestina.

Pertemuan pertama Teng dengan Perlmutter terjadi ketika sang dokter memberikan pidato dalam sebuah acara penggalangan dana untuk Palestinian Children's Relief Fund di New York City. "Perlmutter berbicara di hadapan kerumunan yang sebagian besar terdiri atas Muslim, orang Arab, dan warga Palestina. Yang mengesankan semua warga terdiam dan menangis. Saya langsung berpikir 'wah, ada sesuatu yang istimewa di sini," kata Teng.

Setelah akhirnya berhasil menggaet Dr Permutter, Teng kemudian diperkenalkan kepada dua dokter lainnya yakni Dr Thaer Ahmad dan Dr Feroze Sidhwa. Dr Ahmad merupakan dokter spesialis kegawatdaruratan keturunan Palestina-Amerika dari Chicago, adapun Dr Sidhwa adalah dokter bedah trauma dari California yang memiliki latar belakang Pakistan-Parsi.

"Tiga dokter dengan latar belakang, serta gaya kepemimpinan dan komunikasi yang berbeda. Tapi mereka mampu bekerja sama di Gaza. Jadi saya memutuskan untuk mengangkat kisah mereka," kata Teng.

Teng kemudian mengikuti ketiga dokter serta mendokumentasikan pekerjaan mereka selama dua kunjungan ke Gaza, baik sebelum maupun setelah gencatan senjata pada 2025. Teng mengaku tidak hanya ingin merekam pekerjaan ketiga dokter tersebut di Gaza, namun juga ingin berada di tengah kehidupan mereka dan memahami dunia yang mereka jalani.

"Jadi itulah filmnya. Tiga orang Amerika yang mencoba menavigasi masa-masa sulit di Gaza. Mereka hanya orang biasa, tetapi ada sesuatu yang sangat luar biasa dari mereka, yaitu keberanian mereka," kata Teng.

Salah satu adegan memengaruhi arah film terjadi pada hari kedua Teng merekam. Kala itu, menurut Teng, Dr Perlmutter memperlihatkan kepadanya sejumlah foto jenazah anak-anak di Gaza. Gambar tersebut awalnya diburamkan, tetapi Dr Perlmutter bersikeras agar gambar itu ditampilkan atas permintaan keluarga.

"Itu adalah hari kedua saya merekam bersama Dr Mark Perlmutter. Saya bersyukur hal itu terjadi begitu awal dalam produksi, karena itu menentukan arah seperti apa film ini harus dibuat," kata Teng.

Dalam proses produksi, Teng mengandalkan sinematografer Ibrahim Al-Otla dan co-produser Mohammed Sawwaf untuk merekam aktivitas di Kompleks Medis Nasser. Keduanya sebelumnya pernah mengerjakan dokumenter "Gaza's Twins, Come Back to Me".

Kompleks Medis Nasser merupakan salah satu rumah sakit yang masih bertahan di wilayah tersebut. Teng menyadari rumah sakit itu telah berkali-kali menjadi sasaran serangan sehingga meminta Al-Otla mendokumentasikan tempat tersebut secara menyeluruh.

"Saya mengatakan kepadanya, 'Rekam seolah-olah ini adalah terakhir kalinya. Rekam setiap dokter, setiap pintu, setiap tanda'," kata Teng.

Film dokumenter American Doctor kini sedang diputar secara terbatas di Amerika Serikat. Bagi Teng, film tersebut bukan sekadar dokumentasi tentang kondisi di Gaza, tetapi juga memperlihatkan keberanian mereka yang memilih untuk turun tangan di tengah situasi tersebut.

"Film ini ingin menunjukkan apa yang harus dilalui orang-orang yang berjuang untuk menyelamatkan nyawa warga Palestina," kata Teng.

Read Entire Article
Food |