REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gelombang panas yang dipicu perubahan iklim tak hanya mengancam kesehatan fisik anak-anak, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan mental mereka. Hal ini merujuk pada studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal International Journal of Epidemiology.
Peneliti melaporkan, setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat Celcius berkaitan dengan peningkatan hampir 1 persen pada risiko anak mengalami masalah kesehatan mental.
Untuk tinjauan ini, para peneliti menggunakan data dari 23 studi yang mengkaji hubungan antara suhu dan kesehatan mental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak berusia 5 hingga 18 tahun adalah kelompok yang paling rentan terhadap gangguan kesehatan mental akibat suhu panas.
Risiko masalah kesehatan mental pada mereka juga meningkat sebesar 25 persen selama gelombang panas. Sejumlah masalah mental yang lebih sering terjadi ketika suhu meningkat antara lain kecemasan, depresi, serta pikiran dan perilaku bunuh diri.
Peneliti sekaligus pakar ekologi global di Flinders University, Australia, Corey Bradshaw, mengatakan anak-anak dan remaja sangat rentan terhadap dampak panas. Anak-anak juga lebih mungkin membutuhkan kunjungan ke unit gawat darurat akibat masalah kesehatan mental.
"Anak-anak dan remaja lebih rentan terhadap dampak panas karena tubuh mereka masih berkembang dan mereka belum selalu mampu melindungi diri saat terjadi panas ekstrem," kata Bradshaw dilansir laman US News, Selasa (18/8/2026).
Jacqueline Stephens, profesor madya epidemiologi di Flinders University, mengatakan kerentanan anak terhadap perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan suhu tubuh, tetapi juga berbagai tekanan sosial dan perkembangan.
Gelombang panas dapat mengganggu aktivitas anak di luar ruangan, pendidikan, hingga kesempatan mereka untuk bermain dan berekreasi. Suhu tinggi pada malam hari juga dapat mengganggu tidur. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi kesejahteraan anak serta kemampuan mereka dalam mengatur emosi.
"Dampaknya bahkan dapat terjadi secara tidak langsung melalui keluarga. Kesehatan mental orang tua, stres dalam mengasuh anak, dan konflik keluarga disebut dapat meningkat selama gelombang panas serta kejadian cuaca ekstrem," kata Stephens,
Menurut día, masa remaja merupakan periode sensitif dalam perkembangan kesehatan mental sehingga dapat meningkatkan kerentanan terhadap panas ekstrem. Suhu yang lebih tinggi juga telah dikaitkan dengan kemampuan belajar dan prestasi akademik yang lebih buruk pada anak-anak.
Syeda Hira Fatima, peneliti pascadoktoral di University of Canberra, Australia, mengatakan langkah berikutnya adalah memahami dengan lebih baik di mana dan bagaimana anak-anak terpapar panas dalam lingkungan sehari-hari. Menurut dia, respons terhadap kondisi tersebut perlu dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan anak.
Beberapa bentuk adaptasi yang dapat dilakukan antara lain menyediakan ruang kelas yang lebih sejuk, ventilasi yang lebih baik, dan area luar ruangan yang memiliki tempat teduh.
"Serta perlu ada penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah langkah-langkah tersebut benar-benar memberi perbaikan yang berarti bagi kesehatan mental dan kesejahteraan anak," kata Fatima.

2 hours ago
6



































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5536549/original/029350900_1774329970-pexels-elletakesphotos-5764077.jpg)










